
[Kenapa kamu telpon aku?] tanya Wina dengan ketus dari balik telponya, ketika yang menelepon adalah ayah dari calon jabang bayinya.
[Aduh Mbak jangan galak-galak nanti aku makin cinta loh,] goda Kemal, bahkan laki-laki itu sudah membayangkan wajah Wina yang sangat menggemaskan itu.
[Apaan sih, jangan aneh-aneh deh buruan kamu telpon ada apa?] tanya Wina ulang. Wanita itu seolah belum iklhlas ketika akan berjodoh dengan Kemal, bahkan di matannya Kemal malah itu sangat menyebalkan memanggil Mba pula pada dirinya. Gimana nanti kalau teman temanya tahu bahwa Niko adalah laki-laki berondong. Meskipun memang tidak semua laki-laki berondong itu hanya menumpang hidup.
Namun, citra itu seolah sudah melekat pada pemikiran teman-teman Wina, dan Wina sendiri tidak bisa memungkiri ia pun berpikir seperti itu.
Sementara itu Kemal di sebrang tempat yang berbeda dengan Wina justru semakin tertantang dengan Wina yang sangat galak itu.
[Aku kangen, pengin ketemu sama kamu Mbak, kayaknya ini bawaan anak kita deh. Aku pengin dimanja,] cicit Kemal, sembari menahan tawa dari balik telponya.
[Kemal...] Suara yang menggelegar bak suara petir yang sangat keras langsung menusuk gendang telinga Kemal. Tangan Kemal langsung mengusap-usap daun telinga yang panas itu.
"Apa sih Mbak, aku nggak budek jangan teriak-teriak. Ayo lah Mbak Wina, aku kangen banget nanti kalau anak kita encesan gimana? Masa iya bapaknya ganteng kayak Lee Min Ho mamahnya cantik kayak Bae Suzy, tapi anaknya encesan kan nggak lucu,] kelakar Kemal.
[Gue lagi sibuk kerja, soalnya calon suami gue hanya pegangguran, jadi gue harus kerja keras,] balas Wina semakin ketus tidak terpengaruh dengan ucapan-ucapan Kemal yang gak jelas itu.
[Wah sembarangan belum tahu saja kekayaanku jangan diragukan, untuk memberikan makan kamu dan anak-anak kita meskipun sebelas aku masih sanggup yah,] balas Kemal, meskipun dia masih setatus mahasiswa, tetapi dia juga punya tabungan sendiri, ya meskipun tidak sebanyak Wina pastinya.
[Oh yah? Bagus deh jadi gue nggak malu buat ngenalin sama teman-teman, karena penilaian gue berondong ya cuma numpang hidup,] jawab Wina dengan enteng.
[Tenang Mbak, setelah aku sembuh aku pasti akan kembali bekerja, dan kamu tidak usah bekerja cukup di rumah saja, nyambut suaminya yang sudah pulang kerja, dengan senyum manis dan baju dinas ketika sudah bersuami,] jelas Kemal.
__ADS_1
[Baju Dinas? Baju dinas gimana maksudnya,] tanya Wina pura-pura polos adalah jalan ninjanya.
[Udah deh Mba, buruan ke sini. Calon suami kamu sudah tidak tahan lagi ingin bertemu dengan calon istri. Ini itu bawaan bayi kita.] Kemal semakin mendesak agar Wina datang menemuinya.
[Udah aku bilang aku nggak mau ya tidak ada pengecualian,] jelas Wina dengan keras kepala.
[Dan aku tunggu, sekarang datang yah. Kalau sampai satu jam belum datang aku bakal ke luar dari rumah sakit untuk menemui kamu, meskipun aku tahu aku belum sembuh dan resikonya adalah kamu akan kehilangan aku untuk selamanya.]
Nuttt... Nuttt... Kemal langsung mematikan sambungan teleponya.
Sementara Wina di lain tempat mengumpat habis-habisan calon suaminya yang dengan entengnya memutuskan sambungan teleponya.
"Ya Tuhan, ngeselin banget sih bocah ini," umpat Dita sembari menatap layar ponselnya di mana sambungan telepon sudah terputus jadi mana mungkin Kemal tahu kalau Wina sedang memakinya, tetapi tidak ayal dalam hatinya ia cemas juga takutnya apa yang Kemal katakan benar adanya. Mengingat Kemal adalah laki-laki yang nekat juga.
Ini bahkan kali kedua dirinya meninggalkan pekerjaanya, dan saat ini yang membuatnya meninggalkan pekerjaanya adalah Kemal, sang ayah dari cabang bayinya, dan juga calon suaminya.
"Belum jadi suami saja udah nyusahin, gimana kalau jadi suaminya yah. Yang ada aku makin kurus, apa malah aku bisa-bisa gila."
Hampir sepanjang perjalanan Wina tidak henti-hentinya mengumpat Kemal yang bagi Wina sangat menyebalkan sekali.
Sementara Kemal di ruanganya, tidak begitu yakin bahwa Wina akan datang. Yang tadi ia ucapkan hanyalah candaan semata. Kemal juga tahu kalau Wina itu banyak kerjaan dan dia sebagai calon suami yang baik tidak ingin membuat susah Wina.
Namun memang benar apa yang dikatakan oleh Kemal, entah mengapa dia hari ini benar-benar kangen dengan kegalakan Wina. Laki-laki itu memang suka dengan wanita yang galak-galak, tapi perhatian ya kaya Wina ini. Entah apa saja yang Kemal bayangkan, hingga tanpa sadar laki-laki itu justru tertidur dengan nyenyak.
__ADS_1
Wina pun mengayunkan langkahnya, entah sudah berapa kali ia melihat jam di pergelangan tanganya. Di mana Kemal memberinya waktu satu jam, tetapi jalanan Ibukota yang memang tidak bisa diprediksi keadaanya, Sialnya siang ini Wina terjebak macet yang cukup panjang.
"Ya Tuhan, mudah-mudahan saja Kemal masih ada di ruanganya jangan menyusul aku," ucap Wina ia sudah telat dari dua puluh menit yang lalu. Wina sangat deg-degan sekali ia takut kalau memang Kemal akan nekad untuk pergi menemui dirinya.
Ceklekkk... Pintu Wina buka dengan perlahan, sebelum membuka pintu wanita itu lebih dulu berdoa. Agar Kemal tidak pergi ke mana-mana. Saking kaget dan takutnya Wina pun perlahan mengintip ke dalam ruangan. Perasaan Wina sudah tidak karuan, terlebih di dalam sana terlihat sangat sepi.
Namun, kecemasanya kalau Kemal akan pergi langsung hilang, ketika kedua manik mata hitam milik Wina menangkap bahwa laki-laki yang satu jam yang lalu mengancamnya akan menyusul dirinya kalau tidak datang dalam satu jam maka akan menyusulnya, justru tengah tidur dengan damai dan tanpa dosa.
"Kemal...!!! Suara yang menggelegar lolos dari bibir merah Wina.
Laki-laki yang sedang bermimpi pun langsung terbangun ketika mendengar suara Wina, Kemal yang menangkap ada kemarahan dari Wina yang memergoki dirinya sedang tertidur pun langsung berekting.
Tanganya mengucek-ucek kedua matanya. "Loh, bukanya kamu tadi cewek yang datang kemimpi aku? Oh... ini hanya mimpi, aku pikir nyata?' gumam Kemal memainkan ektingnya, dia tau Wina pasti akan marah kalau lihat dirinya sedang santai tertidur.
Lagi pula Kemal tidak menyangka sama sekali kalau Wina datang menghampirinya. Padahal dirinya tadi bercanda. Mungkin wanita itu belum terbiasa dengan candaan Kemal sehingga menganggapnya serius, tetapi tidak bisa dipungkiri Kemal juga senang ketika melihat kalau Wina ada dihadapanya.
Kemal terus menatap Wina tanpa kedip. "Kalau ini mimpi tolong jangan bangunkan aku Siti, aku tidak mau bidadari yang ada dihadapanku pergi. Aku belum puas menatapnya," lirih Kemal. Niatnya ingin mengalihkan kemarahan Wina, tetapi malah lagi-lagi dia sendiri yang masuk ke dalam permainanya.
'Sepertinya dia bukan manusia tetapi titisan bidadari,' batin Kemal, bibirnya terus melengkung menatap Wina yang hanya diam saja tetap dia tidak merasa risih karena ditatap oleh Kemal terus.
Brukkkkk...
"Bangun ini bukan mimpi gue mau marah sama loe, kenapa loe berani-beraninya ngerjai gue. Tahu tidak gara-gara loe yang bilang bakal nyusul ke tempat gue kerja, gue rela bermacet macetan sampai satu setengah jam untuk nemuein loe. Tapi malah loe sendiri enak-enakan tertidur. Nyesel gue datang ke sini." Wina terus nyerocos saja. Sementara Kemal sendiri masih melanjutkan ektingnya, dia masih terlalu mendalami.
__ADS_1
Tanganya mengusap-usap lengannya yang bekas di pukul oleh Wina. "Kenapa mimpi tapi kok tanganya sakit, dan aneh juga masa ada bidadari galak banget," racau Kemal.