
Sepanjang perjalanan menuju Jakarta, Lyra masih terpikirkan dengan apa yang Zifa katakan.
"Kenapa aku melihat Zifa itu seperti ini bertanya sesuatu yang cukup penting sama aku. tetapi kira-kira bertanya apa yah? Apa Zifa ada hubunganya dengan asisten rumah tangga di rumah Abas yang meninggal dunia? Lalu apa benar aku melihat Ara di rumah itu?" batin Lyra. Otaknya seolah di putar sangat kuat agar ia bisa berpikir, dan bisa mengingat kira-kira dia melihat Zara di mana.
Karena dia yang masih tidak bisa fokus ke jalanan, Lyra pun menepikan kendaraan roda empatnya ke rest area. Secangkir kopi rasa cappucino di pesanya dengan tujuan mungkin setelah meminum kopi pikiranya akan segera bisa kembali fokus ke jalanan.
Tanganya merogoh ponsel dan galeri adalah aplikasi yang pertama di kunjungi, foto Raja dan Ratu yang banyak memenuhi laman galerynya ia tatap dengan sesama.
"Kenapa kalau di lihat-lihat anak ini sepintas hampir mirip dengan keluarga mantan suami aku. Apa memang benar aku bertemu Ara di rumah itu. Kenapa otak ini tidak bisa diajak kerja sama sama sekali," geram Lyra sembari mengetuk-ngetuk keningnya dengan jari telunjuknya. Mungkin saja setelah dia berusaha mengetuk ngetuk keningnya, otaknya akan bekerja dan mengingat di mana ia bertemu dengan Ara (Memang Zara saat ini penampilanya jauh berbeda dengan dulu, di mana dulu Ara hanya suka mengenakan kaus bergambar kartun, pokoknya yang bertema anak-anak, tetapi untuk sekarang pakaian Zara sudah sama seperti ibu-ibu daster dan kaus oblong serta setelan santai, selalu dia pakai. Tidak ada lagi kaus bertema cemen. Maka dari itu Lyra sedikit tidak mengenali Zara).
__ADS_1
Foto bayi kembar berjenis kelamin laki-laki dan perempuan Lyra kembali amati. Ingin ia sandingkan dengan foto mantan suaminya tetapi, karena Lyra yang terlalu benci, dan kecewa terhadap Abas sehinga ia pun menghapus semua kenangan tentang Abas, termasuk foto tidak ada sisa barang satu jepretan pun.
Bagi Lyra hubunganya dengan Abas sudah berakhir, sehingga apapun yang berhubungan dengan laki-laki itu Lyra tidak ingin menyimpannya lagi.
"Benar ini mata Abas. Apa jangan-jangan Raja dan Ratu adalah anak Abas? Tapi gimana bisa Abas bisa melakukan pada Zara di mana dia bukanya gangguan perkembangan otak?" Tangan Lyra di gunakan untuk membekap mulutnya, seolah ia akan menjerit saat ini juga.
"Aku ingat sekarang. Aku memang bertemu dengan Ara di rumah itu, tapi kalau laki-laki itu benar-benar menghamili Ara bukanya harusnya dia bahagia, kan dari dulu dia ingin anak. Tapi kenapa Ara malah melahirkan tanpa suami?" Lyra semakin bingung. Ingin ia kembali ke Bandung untuk menanyakan ini langsung pada Zifa, karena Lyra pasti tidak akan bisa tidur nyenyak dengan tebakanya. Namun, apabila harus balik lagi ke bandung Lyra butuh waktu lama lagi. Bahkan ia sekarang sudah memasuki kawasan Jakarta.
"Yah aku yakin salah satu orang di rumah itu adalah ayah dari bayi itu, makanya Zara wajahnya berubah sangat kecewa ketika bertanya memgenai Kemal dan keluarganya. Bangkai ditutupin dengan apapun akan tercium juga wahai penjahat. Aku yakin pasti banyak korban dari keluarga itu selain aku tentunya. Baiklah aku akan menoton hingga bangkai itu naik kepermukaan dan aku akan menyorakinya. Mungkin ini adalah cara Tuhan agar aku tidak terlibat lagi dengan keluarga itu. Entah Abas, Kemal, Ghava atau bahkan Omar sendiri yang sudah mempermainkan gadis naas itu? Tapi bukankan sepandai-pandainya dia menutup kejahatan, pasti ada saja celah untuk mengungkapnya." Lyraa lagi-lagi tertawa sendiri. Membayangkan hari itu tiba. Wanita itu sangat yakin bahwa Zifa tadi bertanya-tanya dengan dirinya adalah salah satu cara ia sedang mencari tahu tentang sesuatu, dan sepertinya berhubungan dengan tebakannya.
__ADS_1
"Tenang Ifa, Ara apabila dugaan aku benar, kamu sedang membutuhkan informasi mengenai keluarga mantan suami aku, aku pasti akan bantu, bahkan sampai akarnya pasti akan ketahuan." Zifa meneguk kopi hingga tandas. Dia memang masih penasaran dengan semua yang dikatakan Zifa, tetapi dengan dugaanya tadi, kini Lyra sedikit merasakan lega dan tidak lagi dilanda pikiran yang terbang entah kemana.
"Tunggu, kenapa foto Raja dan Ratu sangat mirip dengan foto profil Ghava? Apa ini adalah sebuah kebetulan atau ada yang Ghava sembunyikan?" Lyra yang masih menyimpan kontak Ghava mengambil (Screen shot) foto anak kembar yang di jadilan profil oleh Ghava, lalu nyandingkanya dengan foto yang ada diponselnya, yang ia ambil langsung.
Lyra cuba mengitung usia Raja dan Ratu yang kata Zifa saat ini mereka berusia dua bulan, ditambah dengan usia kehamilan Zara, lalu mencocokan dengan Ghava. "Bukan ini bukan anak Ghava, kalau dihitung dari bulanya, saat itu Ghava sudah berada di luar negri, Omar juga tidak ada di rumah itu. Berati kemungkinan Kemal dan Abas." Lyra sangat yakin dengan hitungannya benar.
"Sepertinya secepatnya aku harus ke Bandung lagi, untuk menanyakan secara langsung tentana kasus ini. Apabila dugaanku benar, aku akan dukung seratus persen Ifa untuk membalas pada keluarga itu. Syukur-syukur memang pelakunya adalah salah satu dari mereka, tidak sabar aku melihat orang itu hancur. Ternyata Tuhan sangat adil, aku tidak bisa membalas sakit hati ini, tetapi Tuhan menunjukan cara lain agar aku bisa melihat mereka hancur." Entah tawa keberapa yang lolos dari bibir Lyra dengan seorang diri. Untung rest area sedang sepi sehingga ia tidak dianggap orang gila. Lalu apabila ada yang melihatnya juga mungkin saja mereka akan memakluminya, mereka pasti akan menduga bahwa Lyra tertawa dengan orang yang mungkin saja berada di balik ponselnya.
Setelah membayar kopi yang ia pesan dan pikiranya sedikit bisa tenang, kini Lyra melanjutkan kendaraanya, pulang untuk mengurangi perceraiannya dan secepatnya akan kembali ke Bandung, menemui Zifa dan. mencari tahu yang sebenarnya terjadi.
__ADS_1
Sementara Zifa setelah Lyra pergi ia tidak langsung masuk kedalam tokonya, melainkan ia duduk di bawah pohon di sana memang disediakan tempat duduk. Tanganya menepuk-nepuk kepalanya.
"Aduh kira-kira Mba Lyra orang baik atau sebaliknya yah, kenapa aku bisa seceroboh ini sih, gimana kalau memang Mba lyra adalah pelakunya, giman akalau Mba Lyra sama dengan kemal, mata-mata mereka," gerundel Zifa, perasaanya jadi tidak tenang.