Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Posisi yang Sulit


__ADS_3

Hari-hari Zifa di sibukan dengan jualan kuenya yang makin hari makin banyak oderannya, dan juga karena para pekerja sudah mulai terlatih dengan tugas Masing-masing, dan bisa di tinggal. Zifa pun sambil melanjutkan pendidikan, yang sempat terhenti karena ingin fokus dengan usahanya. Begitu pun Ghava yang di sibukan dengan pembukaan kantor cabang yang barunya.


"Sebenarnya malas banget mau pulang, tapi Mamih dan Papih sudah telfonin aku terus," gerundel Ghava yang saat ini sedang berada di jalan, dengan tujuan pulang ke rumah orang tuanya. Perasaanya sudah tidak enak pasti nanti ujung-ujungnya membahas tentang perjodohan dengan Wina. Padahal sudah hampir satu minggu ini Ghava sangat jarang merespon chat maupun telpon dari calon istrinya itu. Seharusnya Wina tahu bahwa dari sikapnya yang sangat terlihat menghindar itu tandanya bahwa Ghava memang tidak menginginkan pernikahan dengan dia.


"Lagian pernikahan tanpa cinta dan berawal dari perjodohan yang tidak saling mengenal itu apa sih enaknya. Abas saja sekarang sedang dilanda masalah, di mana Mamih selalu membanggakan pernikahan Abas dan Lyra yang terlihat bahagia padahal mereka di nikahkan karena perjodohan. Bukanya itu bukti bahwa pernikahan dengan perjodohan itu rawan untuk berpisah, dan saling menyakiti." Ghava bahkan dalam perjalananya mengumpat orang tuanya yang tetap ingin pernikahan Ghava dan Wina terlaksana.


Langkah kaki dengan perasaan malas Ghava memasuki rumah mamih dan papihnya.


"Ghava kamu sudah pulang, usaha yang kamu buka gimana?" tanya Mamih begitu Ghava datang.


Ghava berjalan menghampiri mamih dan papihnya, sebagai rasa hormat Ghava memberikan salam pada kedua orang tuanya. "Alhamdulillah semuanya sampai sejauh ini lancar Mih," jawab Ghava sembari duduk di sebrang mamih dan papihnya, wajah lelahnya sangat terlihat dari Ghava, di mana ia baru saja selesai meeting langsung menempuh perjalanan yang lumayan lama.


"Ngomong-ngomong kamu buka cabang di mana Va?" Papih orang yang jarang ingin tahu urusan anaknya pun ikut buka suara.


"Semarang dan Bandung Pi." Ghava memang membuka cabang di Semarang juga, tetapi semua urusanya di serahkan ke orang kepercayaanya, sedangkan Ghava sendiri lebih berfokus pada cabang yang terletak di Bandung itu semua karena ia juga ingin setiap hari tetap melihaat calon istrinya, yah tantenya Raja dan Ratu adalah calon istri idaman, tetapi sepertinya akan sulit untuk Ghava mendapatkan izin dari orang tuanya untuk menjadikan Zifa sebagai pendamping hidupnya. Selain ingin setiap hari melihat Zifa, Ghava tentu ingin selalu melihat si kembar yang semakin lucu.

__ADS_1


"Langsung dua tempat?" tanya Mamih seperti kaget dengar jawaban Ghava.


"Iya Mih, makanya Ghava tidak bisa pulang pergi, ngurus pekerjaan saja sudah  cape," ungkap Ghava, mungkin saja dengan mengungkapkan sedikit ganjalan di hatinya sang mamih mau mendengarkan apa yang ia katakan dan bisa mengerti bahwa itu tandanya Ghava tidak ingin menikah dalam waktu dekat.


"Besok keluarga Wina ingin mengadakan pertemuan untuk membahas pernikahan kalian, Mamih harap kamu bisa memberikan kabar gembira, karena ini demi hubungan persahabatan kami,"  pinta mamih dengan nada yang sangat berharap bahwa putranya tidak mengecewakan dua keluarga yang sudah lama bersahabat baik itu.


"Mih, apa pengalaman Abas dan Lyra tidak bisa di jadikan pelajaran, apa kalian tidak bisa sedikit saja memikirkan kebahagiaan kami sebagai anak-anak kalian. Kami juga memiliki hak untuk mendapatkan kebahagiaan dengan memilih jalan hidup kami. Jangan lah kalian bikin rumit hidup kami dengan perjodohan gila macam ini. Ghava tidak ingin ada perjodohan yang berakhir seperti pernikahan Abas dan Lyra bersama tetapi saling menyakiti. Cukup Mamih gagal dalam memilihkan jodoh untuk Abas, jangan di ulang lagi gagal memilihkan jodoh untuk Ghava," gertak Ghava.


Abas dan Lyra memang tidak bercerita atas apa yang terjadi dengan keluarga kecilnya, tetapi Ghava tahu bahwa rumah tangga abangnya sedang tidak baik-baik saja. Kenapa mamih dan papihnya tidak fokus saja dengan permasalahan di keluarga Abas dan Lyra, kenapa harus diabaikan dan mencampuri hidup Ghava yang damai itu. Kalau pernikahan tujuanya harta dan kekayaan, bukankah keluarganya tidak kekurangan sesuatu apapun lalu kenapa harus menikah dengan mengejar calon jodoh yang kaya juga, ribet juga urusanya. Yang ada saling merendahkan. Karena mereka merasa saling kuat, dan salin kaya sehingga mereka tidak akan penah mau mengalah demi keharmonisan keluarga. Seperti itu Kira-kira pemikiran Ghava.


"Maksud kamu apa Ghava, kamu ingin kita membatalkan pernikahan ini? Jangan mentang-mentang kamu sudah sukses dan bisa dengan mudahnya melupakan jasa orang tua kalian. Kalau tidak ada mamih dan papih kamu, sudah jelas kamu itu hanya anak ingusan yang tidak punya apa-apa. Jangan kamu sudah di lahirkan dan di susui dengan penuh kasih, di besarkan dengan limpahan harta, di mana kamu tidak pernah merasakan kesusahan, seharusnya kamu tahu diri, dan mau menerima perjodohan ini. Bukan sok kaya dan karena merasa bisa hidup sendiri jadi kamu tidak mau menolong mamih dan papih kamu. Jangan sombong kamu Ghava, tanpa kami kamu bukanlah siapa-siapa." Eira nampak murka dengan ucapan Ghava.  Suara serak dan bergetar menandakan bahwa wanta paruh baya dengan penampilan yang elegan sedang marah, kecewa dan kesal terhadap anak nomor duanya.


"Kamu tinggal iyakan saja apa susahnya Ghava, masalah cinta dan kenyamanan semuanya bisa nyusul, dan kalau kalian tidak cocok nanti bisa bercerai kan, yang terpenting kamu nikah dulu sama Wina, kami sudah terlanjur janji dan apabila di batalkan akan malu kami, bukan hanya malu pada keluarga Wina, tetapi juga pada rekan bisnis kami. Bukanya banyak kok yang pernikahan saling cinta juga berakhir dengaan perceraian jadi kalau kalian belum bisa saling melengkapi papih rasa sah-sah saja kalau kamu mengajukan cerai juga," Kini papihnya yang ikut menasihati putranya.


"Ghava kekamar dulu Pih, Mih, badan Ghava cape," lirih Ghava, tanpa menunggu jawaban dari kedua orang tuanya Ghava langsung berlalu berjalan setengah berlari melewati puluhan anak tangga hingga sampai di kamarnya yang terletak di pojok lantai dua berhadapan dengan kamar Kemal.

__ADS_1


Laki-laki itu sudah yakin bahwa kedua orang tuanya di bawah sana sedang mengutuk kelakuan Ghava yang tanpa menunggu jawaban dari mereka langsung kabur saja dari pembahasan mereka. Namun bagi Ghava masa bodo lah, yang terpenting Ghava ingin istirahat kepalanya tiba-tiba berdenyut setiap memikirkan permintaan orang tuanya.


Tanganya meraih benda pipih yang ada di katong celananya. Ia menatap foto Zifa yang ia ambil secara diam-diam, bahkan entah berapa gaya yang dia foto agar mendapatkan hasil jepretan terbaiknya.


"Ifa, aku ingin kamu yang jadi istriku, bukan Wina ataupun yang lain, cuma kamu yang aku cintai. Entah perasaan apa, tetapi sejak malam pertama kita bertemu aku sudah tertarik dengan kamu, dan aku suka sifat kamu yang galak. Aku ingin kamu wanita yang jadi jodoh aku satu-satunya. Tuhan bagaimana cara bedoa yang bisa dikabulkan oleh Engkau," gumam Ghava tubuhnya saat ini terlentang di atas tempat tidur yang besar dan empuk. Kedua matanya menatap deretan foto-foto gadis yang sudah masuk kedalam singgah sana hatinya.


Setelah puas menatap foto Zifa, jari Ghava menggeser foto Raja dan Ratu, otaknya langsung terlintas ide, gimana caranya membuat kobaran api kekesalanya menjadi adem kembali.


Satu panggilan tidak diangkat, dua panggilan juga tidak diangat. Ghava melihat jam di dinding, di mana saat ini masih jam tujuh malam, itu tandanya Zifa sedang sibuk.


[Fa, aku kangen sama Raja dan Ratu nanti telpon balik yah] pesan terkirim, tetapi masih centang dua dan warna masih abu-abu tandanya Zifa belum membaca pesanya.


"Tuhan, maaf aku memakai nama ponakan buat deketin Tantenya, tetapi mudahkan jalan ini, dan semoga Tantenya Raja dan Ratu adalah jodohku," batin Ghava, berdoa dengan tulus.


Ia berharap kali ini jodohnya terkabul, otaknya kembali berfikir kira-kira gimana caranya untuk menggagalkan perjodohan dia dan Wina. menolak secara baik-baik sudah dicoba dan hasilnya papih dan mamihnya malah kecewa dengan jawaban Ghava dan mengungkit semua yang sudah diberikan oleh mereka. Lalu cara apa lagi agar Ghava bisa lolos dari perjodohan bisnis ini.

__ADS_1


Ghava terlonjak kaget ketika pintu kamarnya di ketuk.


"Siapa sih malam-malam ganggu ajah," gerundel Ghava.


__ADS_2