
"Aku ingin tidur beda kamar dengan kamu, Mas," lirih Zifa dengan tatapan yang datar.
Ghava seperti tersambar petir disiang bolong. "Fa, apa aku tidak pantas untuk memperjuangkan cintaku padamu? Apa yang harus aku lakukan agar kamu percaya kalau aku tulus sama kamu. Kita tetap tidur satu kamar Fa, aku tidak akan memaksa kamu untuk melayani aku kok, tapi setidaknya tetap tidur dalam satu kamar. Gimana kalau asisten rumah tangga di rumah ini tahu, aku yang malu kenapa suami istri terpisah tidurnya. Hargai aku Fa," balas Ghava dengan tatapan yang mengiba.
"Di mana kamarnya?" tanya Zifa tidak banyak berkata-kata lagi. Ia mengikuti apa kata Ghava. Memang benar kalau ia dan Ghava berpisah kamar tidurnya pasti para pekerja di rumah ini saling bertanya. Biarkan masalahnya mejadi rahasia pribadinya, tetap hubungan yang terlihat orang lain akan baik-baik saja.
"Naik ke atas kamar yang paling ujung." Ghava membiarkan Zifa masuk ke dalam kamar pribadi mereka dan dia akan lebih dulu mengecek pekerjaanya. Rencananya dia juga akan pulang di esok harinya, selain kangen dengan anggota keluarganya Ghav juga ingin tahu gimana kondisi keluarganya saat ini.
Zifa pun menapaki tangga satu persatu menuju kamar yang Ghava katakan.
"Fa, terima kasih karena mau mendengarkan ucapanku," ujar Ghava, meskipun laki-laki itu tahu kalau ia tidak akan mendapatkan jawaban dari Zifa. Bahkan sudah berapa puluh kali Ghava memulai obrolan di antara mereka, tetapi Zifa tidak juga menanggapi ucapan Ghava.
Sama seperti kali ini, Zifa hanya berhenti sejenak dan kembali melajukan langkahnya untuk menapaki anak tangga menuju kamarnya, tanpa mengucapkan sepatah katapun ataupun membalikan tubuhnya untuk menatap Ghava.
Sebenarnya ini bukan kesalahan Ghava tetapi Zifa tidak kuat apabila membayangkan apa yang di katakan oleh kakanya dan yang menjadi pembunuh adalah ibu dari laki-laki yang menyandang sebagai suaminya. Rasanya Zifa hanya tidak yakin kalau Ghava akan membantunya. Zifa hanya takut kalau pada akhirnya Ia akan kalah karena Ghava yang tidak tega untuk memberikan hukuman pada ibu kandungnya.
Kamar paling ujung. Zifa membuka kamar yang tadi Ghava katakan, pintu kamar yang terletak paling ujung. Wanita itu dibuat terkejut dengan apa yang terjadi di hadapanya. Kamar yang super duper luas. Padahal Zifa tidur dengan kamar yang sempit pun tidak masalah tetapi lagi-lagi Ghava memberikan fasilitas yang luar biasa.
__ADS_1
Kedua mata Zifa dengan awas mengawasi setiap sudut dan juga benda yang tertata dengaan rapih. Tubuh lelahnya di lempar ke atas kasur yang empuk. Padahal ia hanya duduk dengan manis dan bahkan sesekali ia tertidur di dalam perjalanan, tetapi tubuhnya sangat lelah.
Air mata Zifa sudah mengering ia sudah tidak bisa menangis. Dirogohnya ponsel yang diletakan di tas mininya. Zifa mengirimkan pesan untuk menanyakan kodisi kakanya apakah sudah bisa mengontrol emosinya atau belum, dan masih merengek sedih lalu ponakan-ponakanya. Zifa membuat panggilan vidio.
"Ya Tuhan tolong bantu hamba yang hanya menginginkan keadilan kecil dari hukum dunia ini. Semoga segala yang hamba inginkan bisa tercapai." Zifa memilih langsung merebahkan tubuhnya yang sangat lelah. Bukan lelah fisik yang ia rasakan tetapi batinya yang terasa sangat lelah. Batinnya sangat tersiksa dengan semua yang terjadi dengan dirinya.
Ghava pun setelah urusan keerjaanya selesai ia beranjak daru ruangan kerjanya dan masuk ke dalam kamarnya, di mana di sana ada sang istri yang sudah lebih dulu mengistirahatkan tubuhnya.
Lagi-lagi hati Ghava tercubit dengan pemandangan ini, di mana tubuh istrinya yang makin hari makin terlihat kurus. "Fa, maaf aku tidak tahu harus melakukan apa, tapi aku berjanji padamu kalau aku akan membantu keadilan untuk ibu dan kakakmu." Tanpa terasa air mata Ghava jatuh.
Cinta memang tidak tahu diri tidak tahu diuntung dan tidak bisa diatur. Buktinya saat ini. Andai bisa Ghava ingin lepas dari Zifa, dan tidak menambah beban Zifa dengan hadirnya dia ditengah-tengah hidupnya. Ia merasa kalau kehadiranya adalah tembok beton yang kuat dan tinggi yang menghadang jalan Zifa mencari keadilan itu.
Baru membayangkan saja Ghava tidak tega. Tubuhnya yang sedang menatap Zifa tertidur di bawa ke kamar mandi untuk mendinginkan kepalanya, mungkin dengan mandi dan berendam dengan air dingin pikiranya akan sedikit berpungsi lagi.
Sedangkan Zifa yang sepat terbangun ketika Ghava masuk ke kamarnya hanya bisa menatap punggung Ghava yang masuk kedalam kamar mandi. "Kita sudah terjebak dalam lebah yang tidak tahu arahnya Va," lirih Zifa yang merasa bahwa menikahi Ghava justru semak?in membuat persaanya tidak tenang.
"Di dalam kamar mandi sana Ghava berpikir dengan keras, Ia tidak bisa maju dan tidak bisa mengambil keputusan apabila sendiri, tapi Ghava pun tidak tahu akan meminta bantuan pada siapa. "Kemal? Apa aku juga harus meminta bantuan pada Kemal?" batin Ghava. Hanya Kemal yang selama ini bisa diandalkan.
__ADS_1
Abas sebenarnya bisa diandalkan, tetapi kasus ini adalah awal muasal dari masalah Abas sehingga Ghava tidak mungkin meminta bantuan pada Abas. "Kemal, yah aku harus meminta bantuan pada Kemal," guman Abas langsung buru-buru laki-laki itu menyelesaikan ritual mandinya itu. Persetan dengan kata akhirnya datang meminta bantuan. Memang pada kenyataanya dia tidak bisa apabila harus melakukan semua ini sendiri.
"Fa... kamu belum tidur?" lirih Ghava dengan kaget ketika melihat Zifa sedang duduk di samping ranjang dengan menjadarkan punggungnya di dasbord ranjangnya.
"Tidak bisa tidur," jawab Zifa dengan suara yang tidak kalah lirih.
"Apa kamu masih memikirkan tentang ibu kamu dan masalah yang hadir di keluargaku?" tanya Ghava lagi.
"Tidak ada masalah lagi yang menggangguku selain masalah-masalah itu jadi seharusnya kamu sudah tahu apa alasanya," balas Zifa dengan tatapan yang terus tertuju pada jari jemarinya yang saling membelit.
"Aku akan menghubungi Kemal untuk meminta bantuanya dan semoga setelah Kemal bergabung dengan pihak kita kamu akan semakin cepat mendapatkan keadilan," jelas Ghav sembari tubuhnya di letakan di atas sova.
"Terserah, tetapi aku jujur masih tidak bisa menerima Kemal seperti dulu lagi, masih ada rasa yang mengganjal dari Kemal."
"Soal kemarin?" tanya Kemal dengan kepo, kenapa jadi Zifa yang tidak bisa memaafkan sedangkan dirinya sendiri bahkan sudah bersikap biasa saja.
Zifa mengangguk dengan yakin. "Aku tidak suka dengan laki-laki yang seperti Kemal terlalu lebay, dulu aku kenal Kemal asik dan tidak lebai atau gila pembelaan. Sekarang dia sudah beda."
__ADS_1
Yah, Ghava bisa menyimpulkan kalau Zifa memang memiliki perasaan lebih pada Kemal. Ghava hanya tersnyum getir dengan apa yang terjadi dengan hidupnya.
Takdir memang membingungkan.