
Zifa sangat panik ketika Ghava tiba-tiba meringis sembari memegangi perutnya dari bibirnya terus mengaduh kesakitan. "Aduh... aduh..." Ghava terus memegangi perutnya, dan sangat terlihat kesakitan.
"Mas tunggu yah, Ifa panggil Beni dan mau coba telpon dokter Alwi. Ghava mengangguk dengan lemah, dan Zifa langsung berlari meninggalkan Ghava yang masih kesakitan di kamar Beni. Sebenarnya bisa saja Zifa memanggil dengan ponselnya tetapi, Zifa tahu kalau Beni tidak mungkin mendengar atau malam ponsel Beni ada di dalam kamarnya. Sehingga Zifa memilih memanggil secara langsung, akan cepat datangnya.
"Ben... Beni... "Zifa berteriak dengan sekuat tenaganya dari lantai dua, dan Beni yang mendengar pun langsung bergegas meninggalkan aktifitas'nya dan menyusul ke lantai dua di mana Zifa yang memanggil terlihat sangat panik.
"Kenapa Teh?" tanya Beni tidak kalah panik, takut terjadi sesuatu dengan Zifa. "Kamu bisa bantu Ghava, dia sakit perut, aku mau telepon dokter Alwi.
Zifa pun kemudian menghubungi dokter Alwi dan segera meminta bantuan. Namun setelah di hubungi dokter Alwi tidak bisa datang karena sedang ada kerjaan yang tidak bisa ditinggal. Zifa sontak semakin panik, gimana caranya membawa Ghava kerumah sakit tidak mungkin kan Ghava menyetir sendiri mobilnya.
Zifa kembali lagi ke kamar Beni. "Ben, kamu bantu Mas Ghava turun ke bawah yah, aku akan pesan taxi online untuk mengantar Mas Ghava kerumah sakit, dokter Alwi sedang sbuk." Zifa segera menyiapkan semua keperluan Ghava tidak lupa tas dan juga ponsel Ghava di bawa oleh Zifa.
"Bukannya Aa Ghava ada mobil, ngapain atuh pakei taxi online, pakei mobil Aa ghava ajah atuh," tawar Beni. Sementara Ghava sudah tidak kebanyakan berbicara cukup diam saja, karena perutnya sudah sangat sakit. Seperti di remas-remas itu yang Ghava rasakan. 'Apa mungkin aku tadi salah makan' batin Ghava, tapi yang tadi dia makan tidak ada yang aneh.
"Mas Ghava kan lagi sakit Ben, mana bisa orang sakit nyupir yang ada malah boro-boro buat nyupir bawa tubuhnya sendiri ajah sudah kesusahan," balas Zifa, mungkin Beni mengira kalau Ghava hanya sakit pura-pura. Padahal dari raut wajah terlihat sangat jelas kesakitanya, sudah sangat terlihat kalau Ghava memang kesakitan luar biasa.
"Yang bawa mobil Beni lah Teh, ya masa Aa Ghava sakit suruh nyetir sendiri. Beni juga mana tega," cicit Beni.
"Aduh kenapa kamu nggak ngomong kalau kamu bisa bawa mobil, kalau begitu ayok buruan kamu yang bawa mobil Mas Ghava . Ngomong kek dari kemari-kemarin kalau bisa bawa mobil," dengus Zifa, tanganya menyerahkan konci mobil milik Ghava pada Beni dan mereka pun berangkat ke rumah sakit dengan Beni sebagai sopirnya. Ini adalah pertama kalinya Zifa mengurus orang sakit, dulu ketika kakaknya lahiran dia tidak mengurusnya karena semua diurus sama dokter Alwi dan bunda Anna, tetapi untuk kali ini Zifa yang mengurusnya.
__ADS_1
Setelah mengurus adminitrasi an segala urusan untuk pendaftaran Ghava kini Zifa berhalan ke ruangan IGD di mana saat ini Ghava masih di temanin oleh Beni. setelah di obserfasi Ghava akan di pindahkan keruangan rawat VIP, memang Zifa yang memilih tetapi untuk pembayaran semuanya Zifa mengunakan uang Ghava yang ada di tasnya.
"Teh, kalau begitu Beni pulang dulu yah. Kan sudah aman Aa Ghava juga sudah istirahat dan sekarang nunggu di pindah keruangan rawat ajah," ucap Beni. Lagian kerjaan di toko juga kalau Beni pergi pasti bakal kehilangan, selain Beni paling cekatan dia adalah laki-laki sendirian sehingga angkat-angkat berat selalu mengandalkan Beni. Setelah memberikan uang ongkos dan juga mobil di bawa oleh Beni lagian, di rumah sakit tisak ada yang bisa bawa mobil.
"Nanti kalau kita mau pulang kamu jemput lagi yah Ben!" pekik Zifa, sebelum Beni benar-benar pergi.
"Siap Teh, nanti panggil Beni ajah Teh. Kini di ruangan IGD Zifa hanya seorang diri, dan tidak ada lagi yang bisa ia andalkan. Tadi dokter bilang kalau Ghava itu kecapean dan makan tidak teratur dan akibatnya sakit seperti ini.
Zifa melihat wajah Ghava yang tengah tertidur dengan damai. Terlihat sekali kalau dia memang sangat cape. Sebenarnya Ghava memiliki wajah yang sangat tampan dan juga tubuh yang sempurna, tetapi karens kesalahan satu dua orang jadi semuanya di benci Zifa, termasuk Ghava dan Kemal, dua laki-laki yang baik banget.
Yah Zifa akui Ghava dan Kemal adalah orang yang baik, selain tidak pelit dengan uang, Ghava juga baik banget sama Raja dan Ratu. Mungkin dia sebagai omnya pun merasakan getaran kalau darah keluarganya ada yang mengalir didarah dia anak kembar itu.
"Apa masih sakit Mas?" tanya Zifa, dan Ghava yang mendengar Zifa berbicara pun langsung memaksa matanya terbuka.
"Zifa, kamu ada di sini?" tanya Ghava seolah ia masih kebingungan. Sontak saja Zifa langsung menyipitkan kedua bola matanya.
"Kan tadi Mas Ghava saat kesakit, kita lagi ngobrol," jawab Zifa, mencoba mengingatkan Ghava. 'Apa mungkin tadi Beni bawa mobirnya terlalu kercang, sehingga kepala Ghava kehjeduk jadi amnesia,' dengus Zifa dalam batinya.
Sekarang gantian Ghava yang menyipit seolah ia benar-benar lupa kalau dia memang lupa kejadian sebelum Ghava di rumah sakit. "Fa, kenapa aku tadi bermimpi kalau kamu dan Kemal adalah pasangan kekasih? Apa mimpi aku itu benar kalau kalian adalah pasangan kekasih?" cecar Ghava, sontak saja hal itu membuat Zifa semakin bingung.
__ADS_1
'Apa mungkin Ghava bebaran bermimpi, atau memang Ghava sebenarnya juga curiga dengan aku yang menjalin kasih dengan adiknya sendiri, atau malah Ghava sebenarnya sudah pernah melihat chat aku dan Krmal,' batin Zifa, perasaanya semakin tidak tenang.
'Namanya orang menyimpan bangkai pasti akan ketahuan juga, tapi bukanya memang ini rencana aku agar mereka saling tahu, dan terjadi pertengkaran hebat.' Zifa kembali bergumam dalam hatinya, menenangkan perasaanya sendiri.
"Itu hanya perasaanya Mas Ghava saja, tidak ada yang perlu di cemaskan lagi, kan Ifa juga ada di sini. Mas Ghava kan yang minta Ifa untuk tetap menunggu Mas Ghava sampai masalah Mas Ghava selesai dengan Wina, Jadi udah jangan bebani pikiran Mas Ghava dengan pikiran yang tidak penting itu." Zifa harus kembali mengambil kepercayaan Ghava, hingga hari itu akan datang. Itu tandanya semuanya juga akan terbongkar. Mungin seperti bom waktu semuanya akan muncul kepermukaan siapa Zifa dan hubunganya dengan Abad dan mamihnya mereka.
"Mudah-mudahan ajah yah Fa, tadi itu hanya mimpi, soalnya aku nggak bakal ikhlas kalau kamu ternyata juga menjalin kasih dengan adik kandungku sendiri. Apalagi aku dan Kemal adalah sodara yang paling dekat dibandingkan aku dan Abas.
"Mas Ghava tenang saja, aku masih bisa berpikir jernih kok," elak Zifa, mana mungkin Zifa mau jujur kalau dia memang dengan sengaja kembali menjalain kedekatan dengan Kemal. Sedangkan dia menjalin hubungan dengan Kemal tujuan utamanya adalah membuat Ghava cemburu dan mereka saling menghancurkan.
Bukanya kalau Ghava sudah mulai curiga seperti ini itu tandanya bagus dan seharusnya Zifa harus lebih pandai lagi meyakinkan Ghava dan Kemal tanpa curiga, dan menggiring mereka ke masalah satu cewek dan setelah tahu giliran Zifa yang harus bisa membuat mereka beradu satu sama lain.
Tega? Keluarga mereka saja lebih tega dari yang Zifa lakukan. Jadi Zifa akan terus menjalankan aksinya hingga semuanya yang membawa Zifa pada waktu yang menegangkan itu tiba.
*******
Teman-teman sembari nunggu kelanjutan Zifa dan dua cogan yuk mampir ke karya bestie Othor, di jamin pasti bakal baper...
Kuy ramaikan yah Bestie....
__ADS_1