
Alwi begitu membaca pesan dari Zifa langsung datang menghampiri toko mereka. Terlebih Zifa mengatakan kalau Zara mulai sedikit mengingat yang terjadi masa lalunya.
"Ada kabar apa Fa?" tanya Alwi begitu dia sampai di toko Zifa dan gadis itu tampaknyamasih mengobrol dengan Kakaknya.
"Dok, ini Kakak lagi cerita suaminya, apa bisa Dokter yang melanjutkan obrolanya, Zifa sudah tidak kuat, dada Zifa sakit setiap Kakak cerita tentang suami Kak Ara," ucap Zifa sembari memberikan ponsel yang sejak tadi di gunakan untuk merekam obrolan antara dirinya dan juga kakaknya.
Alwi pun menerima ponsel Zifa dan bergantian duduk di samping Zara, yang terlihat sangat antusias menceritakan suaminya. Sedangkan Zifa ingin menjerit sesak, ketika membayangkan Kakaknya yang memiliki kelainan di paksa berhubungan badan hanya dengan iming-iming permen dan makanan yang kakaknya sukai.
Ingin Zifa mengutuk menjadi batu laki-laki bia-dap itu.
"Ifa kemana?" tanya Zara pada Alwi dokter yang menangani dia, dan Zara lebih mengenalnya dengan sebutan abang, Zara seolah kehilangan ketika adiknya sudah beranjak dari duduknya.
"Ifa mau mandi dulu, Kakak ceritanya dengan Dokter Alwi yah." Tanpa menunggu jawaban dari kakaknya Zifa langsung berlari menuju lantai dua, kamar Tasi dan si kembar Hena, Heni menjadi tujuanya, dia ingin menangis sepuasnya. Padahal dia berjanji tidak akan menangis, tetapi setiap membayangkan kejadian menimpa kakaknya dan esekusi kematian pada ibunya ia selalu tidak kuat. Lemah dan air matanya tumpah.
Cukup lama Zifa memilih menyendiri, dan memenangkan perasaannya. Kejadian masa. lalu membuat Zifa sendiri tidak mengenali dirinya sendiri.
"Ifa kita perlu bicara." Itu pesan yang Alwi kirimkan pada Zifa, dan Zifa sendiri setelah menangis dan mengadu pada ibunya, ia beranjak dari duduknya dan kembali turun. Untung ada dokter Alwi yang mengambil alih mendengarkan curhatan kakaknya kalau tidak pasti Zifa sudah menangis di depan kakaknya. Hal yang sangat dihindari oleh Zifa.
"Bicara di mana Dok?" tanya Zifa dengan suara serak, karena terlalu banyak menangis.
"Didepan ajah, Zara sudah pergi tidur, dan kerjaan udah di bantu dengan yang lain, jadi kamu ada waktu untuk sekedar ngobrol-ngobrol santai." Alwi dan diikuti Zifa pun mengambil duduk-duduk di kursi depan dengan santai.
"Kakak cerita apa ajah Dok?" cecar Zifa, padahal bokongnya saja belum menyentuh tempat duduk. Namun saking penasaranya hingga ia tidak sabar untuk segera mendengar apa yang ingin dokter Alwi katakan.
__ADS_1
"Sepertinya memang benar yang di maksud suami oleh Zara adalah ayah bilogis dari Raja dan Ratu. Dugaanmu sudah bisa di pastikan delapan puluh persen benar. Zara bilang kalau laki-laki itu juga mengajaknya mandi bareng dan membuka bajunya. Sangat tidak mungkin kalau ada laki-laki dewasa yang membuka baju wanita dewasa, tetapi tidak menikmatinya. Aku laki-laki normal, setiap melihat tubuh Zara pun tergoda, apalagi dia telanjang di hadapanya dan mandi bareng. Aku bukan siapa-siapa saja geram mendengarnya ada laki-laki yang tega memanfaatkan kepolosan Zara." Alwi pun nampak geram ketika menceritakan yang diucapkan Zara pada Zifa.
"Dokter tadi rekamkan obrolan dokter sama Kakak Zara tadi?" tanya Zifa, dia akan memberikan bukti obrolan itu pada Lyra, agar Lyra mau membantu karena sudah sangat jelas mantan suaminyalah penjahat kelamin itu.
"Ada di sini. Semua yang kami obrolkan aku rekam." Alwi kembali mengembalikan ponsel milik Zifa yang tadi sempat di gunakan untuk merekam percakapan antara dirinya dengan Zara.
"Kamu tidak akan memberi tahu mereka kalau Raja dan Ratu anak salah satu dari mereka kan Fa?" tanya Alwi yang sudah menganggap dua anak kembar itu adalah anaknya, tentu merasa berat juga kalau tiba-tiba ada yang mengambilnya.
"Ya enggak lah Dok, selama Zifa masih hidup dan juga Zifa masih bisa melindungi mereka tidak akan Zifa biarkan anak-anak Kakak Zara mereka ambil," balas Zifa dengan sinis. Enak ajah mereka mengambil anak-anak yang jelas-jelas tidak diakui dan Zifa rawat besarkan dengan ikhlas tiba-tiba sudah lahir dan mereka cantik dan tampan mau di ambil. Maka urusanya akan panjang.
"Aku takut nanti kamu akan bilang pada mereka. Jangan Fa biar Raja dan Raju jadi anak aku ajah jangan jadi anak laki-laki itu. Aku yang sama-sama laki-laki ajah tidak rido kalau keluarga itu mengambil anak-anak aku."
Obrolan mereka terganggu dengan suara berisik dari Beni dan Lyra yang baru datang dari jalan-jalan malam dengan Beni.
"Gimana jalan-jalanya?" tanya Zifa basa-basi, dari wajahnya sih kelihatanya menikmati jalan-jalan tipis-tipis di pinggiran kota kembang ini.
"Lumayan lah, meskipun dingin banget ternyata, untung ada jaket Beni," jawab Lyra sembari menujukan jaket Beni yang tadi sempat di ejek oleh Lyra, ternyata justru jaket itu sangat berharga sekali buat mengurangi dinginya kota ini. "Mau ngomongin apaan sih kok kayaknya serius banget," ucap Lyra sembari menatap Zifa penuh tanya.
"Zifa menujukan rekaman Zara dan Alwi yang mengatakan bahwa Abas mengajak Zara mandi batreng dan juga Abas meminta Zara membuka bajunya.
Gigi-gigi Lyra beradu hingga terdengar bunyi gemelutuk. "Aku bersumpah, ini orang kalau tidak masuk penjara ya masuk rumah sakit jiwa," geram Lyra.
"Apa perlu bukti lagi Mba buat kita mulai bergerak?" tanya Zifa, seolah Lyra adalah komandonya.
__ADS_1
"Ga usah, sudah jelas dan sudah yakin Abas pelakunya, tinggal kita teror ajah dia. Kamu dekati Ghava terus buat dia tidak bisa melepaskan kamu, dan kamu adalah satu-satunya yang terbaik buat dia, dan buat Ghava membangkang keinginan Mamihnya, dan bukanya kamu bilang Kemal juga cinta sama kamu Fa. Gimana kalau kamu buat dua sodara itu juga tercerai berai." Lyra kembali menemukan ide yang sangat bagus dan tentunya ide itu akan berhasil kalau Zifa bisa membuat dua laki-laki itu mencintai Zifa seutuhnya.
Alwi pun diam saja menyimak obrolan dua wanita itu, selagi balas dendam yang dilakukan Zifa di batas kewajaran Alwi akan maklumi, tetapi apabila Zifa sudah berbuat yang keterlaluan makan Alwi yang sudah menganggap Zifa adiknya akan menasihatinya.
"Aku yakin kasus ini sebentar lagi akan terbongkar Fa, terlebih ingatan Zara sudah makin bagus, cuma kamu harus siap untuk mengetahu fakta-fakta yang pasti lebih menyakitkan dari ini." Alwi menyela obrolan Zifa dan Lyra.
"Zifa akan coba Dok," balas Zifa, dan setelah obrolan selesai Zifa pun kembali masuk ke dalam rumahnya, dan seperti biasa ketika melihat ponselnya sudah banyak pangilan tidak terjawab dari Ghava.
"Siapa? Ghava yah?" tebak Lyra yang kaget melihat kayar ponselnya. Zifa mengangguk sembari menunjukan ponselnya.
"Telpon balik, berikan perhatian lebih, dengan ciri khas kejutekan kamu. Sebenarnya kamu sudah menemukan jalan loh Fa untuk membalas dendam pada keluarga itu, tinggal kamu mempermainkan jalan itu, jangan sampai kamu lengah dan justru mereka mendorong kamu. Kamu harus selangkah di depan dia. Mulai dari Ghava dulu, gunakan Ghava sebagai batu loncatan kamu untuk bisa menyerang Abas dan Mamihnya. Kalau kamu tidak punya orang dalam di rumah itu akan kesulitan kamu membalaskan dendam kamu. Kedua kamu juga harus bisa manfaatkan Kemal, dua orang pasti bisa membuat kamu semakin kuat," bisik Lyra. Wanita itu yakin meskipun Zifa diam saja tetapi dalam hatinya pasti mempertimbangkan ucapan Lyra.
Benar saja, ketika Lyra pergi ke kamar Beni. Zifa mengirim pesan pada Ghava yang Zifa yakin kalau laki-laki itu pasti belum tidur dan saat ini sedang menunggu Zifa.
[Tadi telpon ada apa? Kalau mau tanya Raja dan Ratu sudah tidur. tapi kalau Tantenya masih melek.] Zifa yakin sebentar lagi pasti laki-laki yang saat ini sedang dekat dengan Zifa akan menghubunginya.
Satu... dua... tiga...
...****************...
Teman-teman sembari nunggu kasus Abas yuk mampir ke karya teman othor, di jamin bikin baper....
kuyy ramaikan...
__ADS_1