
Ghava dan Zifa pun setelah acara selesai langsung kembali ke kamar mereka.
"Mas aku mau mandi dulu yah." Tanpa menunggu jawaban dari Ghava, Zifa pun langsung meninggalkan Ghava yang menatap lapar pada dirinya. Zifa akan tetap membentengi diri dari Ghava. Dosa? Zifa lebih baik dosa dari pada ia harus hamil anak dari Ghava yang itu artinya dia dan kakaknya hamil dari keturunan keluarga yang sama sangat tidak diinginkan oleh Zifa. Perasaan Zifa masih berubah-rubah.
Sebelum masuk ke kamar mandi Zifa lebih dulu meletakan ponselnya di atas meja rias. Ghava terus menatap Zifa tanpa kedip dan itu bisa Zifa rasakan, tetapi Zifa tidak akan luluh dengan Ghava begitu saja, itu prinsip Zifa terus ia coba pegang.
Ghava selama Zifa mandi melihat ponselnya yang kebetulan menyala, dan ternyata yang menelepon adalah Kemal. Senyum menyeringai di perlihatkan oleh wajah Ghava yang ingin tahu gimana reaksi Kemal kalau tahu Zifa dan dia sudah menjadi pasangan suami istri.
"Hallo... Kenapa kamu telpon Ifa?" tanya Ghava dengan nada yang sinis, begitu sambungan telepon tersambung.
Kemal yang berada di sebrang telepon pun cukup kaget ketika mengetahui bahwa yang mengangkat teleponya adalah abangnya sendiri , Ghava. "Ngapain loe angkat telpon Zifa?" tanya Kemal dengan suara yang sudah penuh emosi, niat hati Kemal menghubungi Zifa untuk mengetahui alamat Zara karena Abas ingin ketemu dengan anak-anaknya dan juga akan meminta maaf tetapi malah Kemal dibuat meradang oleh Ghava yang ternyata mengangkat ponsel Zifa.
"Loh, wajar dong suami mengangkat telepon istrinya, apalagi yang telpon adalah adik dari suaminya sendiri, dengan kata lain dia adalah iparnya." Ghava semakin memancing Kemal dan benar saja Kemal semakin terpancing dengan apa yang Ghava ucapkan.
"Jangan kurang ajar loe Ghava. Zifa adalah milik gue. Dia cewek yang paling gue cintai sejak dulu," bentak Kemal dengan penuh emosi sudah mulai terpancing dengan apa yang Ghava katakan.
"Zifa yang mau menikah dengan aku. Dan bukanya cinta itu tidak bisa di paksakan lalu kenapa loe yang sewot, ucap Ghava semakin senang membuat adiknya marah-marah. Bahkan Ghava dan Kemal hubungannya semakin renggang dan hal itu karena Zifa, wanita yang mereka cintai dengan bersamaan.
"Mana Zifa gue mau bicara?" tanya Kemal sekali lagi.
"Zifa sedang mandi, jawab Ghava dengan senyum kemenangan.
"Jangan bohong Ghava di mana Zifa gue akan bertanya sesuatu , penting sama dia," cecar Kemal semakin emosi ketika mendengar kalau Zifa sedang mandi.
__ADS_1
"Ok aku tanyakan yah." Abas pun langsung menuju pintu kamar mandi dan mengetuknya.
Tok... Tok... Sayang Kemal telepon apakah harus aku angkat?" tanya Ghava untuk memancing Kemal bahwa memang Zifa sedang mandi.
"Tidak Perlu Mas biarkan dia bosen sendiri nanti juga bakal berhenti telpon," jawab Zifa dari dalam kamar mandi, dan tentunya Kemal bisa mendengar suara itu.
"Loe bisa dengar sendiri kan Kemal, Zifa tidak mau mendengar suara loe, dan suara air dari kamar mandi bisa loe dengarkan. Dia sudah bukan milik loe lagi, tetapi sekarang dia sudah menjadi milikku, dan sebentar lagi loe akan punya ponakan," ledek Ghava dan hal itu tentu semakin membuat Kemal murka.
"Kurang ajar loe Ghava, loe memang baji-ngan. Gue akan rebut Zifa dari loe," ucap Kemal dengan nada yang penuh dengan ancaman. Dan Ghava hanya menanggapinya dengan senyuman yang menjijihkan sekali untuk di dengar oleh Kemal.
Kemal yang marah, melempar ponselnya hingga hancur.
"Gimana Kemal apa loe tahu di mana Zara berada?" cecar Abas menambah kesal Kemal yang sedang emosi karena Ghava yang sudah menikahi Zifa.
Hancur itu yang sedang Kemal rasakan ia benar-benar hancur ketika mendengar kalau Ghava sudah menikahi Zifa dan yang lebih hancur lagi mungkin memang benar yang dikatakan Ghava bahwa dirinya sebentar lagi akan mempunyai ponakan yang ke sekian kalinya dan itu dari Zifa, wanita yang selama ini selalu ia cintai dan selalu ia sebut dalam doa-doanya. Namun justru Zifa dimiliki oleh abangnya sendiri.
Mobil Kemal melaju dengan kencang tujuanya adalah kota Bandung, padahal Kemal juga tidak tahu ke kota kembang itu untuk apa? Dan apakan Zifa masih ada di kota kembang itu atau sudah pindah. Kemal juga pasti tahu kalau Ghava tidak akan bodoh, sehingga dia pasti mencari tempat untuk bersembunyi.
Chittt.... Rem mobil yang di injak secara tiba-tiba menimbulkan gesekan yang sangat kencang dan menimbulkan bunyi yang nyaring. Sebuah danau yang sepi menjadi tempat untuk Kemal menenangkan pikirannya.
'Apa ini tujuan kamu mendekati kami Zifa untuk membuat kehancuran di rumah keluargaku? Kalau itu yang kamu mau tujuan kamu sudah tercapai, semua yang ada di rumahku sudah hancur, apa ini sudah sebanding dengan yang kamu rasakan saat itu, apakah aku juga harus memberikan nyawa ini untuk menggantikan nyawa ibumu yang terbunuh di rumahku?' batin Kemal terus merancau tidak jelas hatinya sangat sesak ketika karma mulai menyerang keluarganya.
'Seharusnya aku sudah kuat untuk menerima kenyataan yang pahit ini, tetapi kenapa aku justru sangat lemah dengan kabar yang sangat berbanding terbalik dengan yang sudah aku bayangkan.' Kemal terus bergumam dalam kesedihanya. Air matanya jatuh membasahi pipinya.
__ADS_1
Ini adalah kesedihan yang paling dia rasakan tidak ada kesedihan lain selain hari ini, karena mendengar fakta Zifa menikah dengan abangnya. Entah berapa jam Kemal berada di tempat itu, mungkin yang melihat sudah mengira kalau Kemal memang gila Kemal menangis seorang diri menghadap danau dengan tatapan kosong.
Bahkan sepertinya dari sisi lain banyak yang mencemaskan kejiwaan Kemal mereka mungkin mengira kalau Kemal sudah gila atau bahkan ia sedang merencanakan sebuah bunuh diri.
Hari semakin larut dan Kemal tidak beranjak dari tempat itu sedikit pun, ia bingung mau kemana. Rumahnya? Kemal tidak bisa tinggal di rumah itu setelah mendengar cerita dari Abas yang mana abangnya tadi sempat bercerita kalau dia memang menikmati Zara dan semuanya dilakukan di kamar Ghava yang lokasinya bersebrangan dengan kamarnya.
Belum kesaksian dari abangnya yang secara tidak langsung membenarkan adanya pembunuhan. di rumahnya dengan tersangka adalah mamihnya sendiri.
'Tuhan kenapa semuanya terjadi pada keluarga hamba?" tanya Kemal dengan perasaan yang mulai bergemuruh.
Langkah kakinya ia angkat kembali dan kali ini ia akan kembali melanjutkan mobilnya ke kota Bandung, tetapi bukan mencari Zifa, Ghava maupun Zara. Kemal baru ingat kalau ia juga memiliki teman yang dari dulu sangat berjasa untuk kesehatan mentalnya.
Bunda Anna, yah laki-laki itu akan menemui bunda Anna untuk teman curhat dan Kemal sangat berharap kalau bunda Anna bisa memberikan solusi atas masalah yang dihadapinya.
Kemal seperti kehilangan arah setelah kembali ke negara ini, hatinya seperti kehilangan jati dirinya, kadang ia berpikir sangat dewasa, dan menyerahkan semua jalan hidupnya pada takdir, tetapi juga ada di suatu titik yang ia tidak mau menerima takdir seperti hari ini yang dia tidak bisa menerima takdir. Dalam hati Kemal ingin mengambil apa yang sudah bukan menjadi miliknya.
Emosi meledak-ledak dan tidak bisa mengontrol dirinya sendiri, itu yang laki-laki itu rasakan.
"Ya Tuhan apakan ini adalah gejala kalau aku mulai depresi?" lirih Kemal nafasnya kembali diatur sendiri, dulu ia adalah penasihat yang handal, tetapi saat ini ia untuk mengatur emosinya sendiri justru tidak bisa.
Sepanjang perjalanan memorinya di putar ketika ia masih bersama Zifa dan lambat laun emosinya bisa terkontrol dengan kenangan-kenangan indah itu dan Kemal tidak mau mengingat kenangan pahit saa ini biarkan ia terjebak dalam memory masa lalunya yang terpenting dia tidak dikendalikan dengan emosinya.
"Apakah ini efek karena hidupku yang selalu diatur oleh Mamih, sehingga aku kehilangan jati diri aku sendiri."
__ADS_1