Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Pertengkaran


__ADS_3

"Jadi aku sia-sia dong datang kesini?" tanya Lyra sembari ia beranjak dari duduknya akan kembali pergi ke showroom mobil mewah milik keluarganya.


"Maaf tiba-tiba mood aku jadi turun." Abas tidak bisa berkata apa-apa lagi, kecuali membuat permintaan maaf atas apa yang ia buat, terlebih Lyra sudah rela datang kesini hanya untuk melayani dan di layani oleh suaminya. Namun ia harus kembali ke tempat kerjanya dengan sia-sia.


"Apa kamu kehilangan mood kamu karena anak bayi kembar yang Ghava jadi kan profil. Kamu menginginkan bayi seperti itu?" tanya Lyra dengan nada yang terdengar ketus, meskipun tebakanya benar. Karena penolakan Abas Lyra merasa tidak terima. Bagaimana mau terima apabila ia saja tidak diperlakukan dengan manis, sangat berbeda dengan biasanya ia datang ke kantor suaminya, maka Abas akan menyambut nya dengan hangat dan romantis.


"Ini masalah rumah tangga kita Lyra jangan bawa-bawa ke mana-mana dan jangan juga kamu buat asumsi yang tidak-tidak. Aku hanya sedang tidak ingin bercinta. Sudah kamu ngerti itu, tanpa harus kamu masukan apapun yang tidak ada hubungan dengan yang aku alami," tampik Abas.


Laki-laki itu tidak ingin menambah masalah baru yang mungkin saja akan membuat Lyra marah lagi. Baru juga baikan beberapa hari.


"Ok, aku anggap tebakan aku memang benar. Kamu kehilangan mood bercinta hanya karena dua bayi, itu yang kamu saja tidak tahu anak siapa. Dari pada kamu memikirkan bayi yang entah ada di mana dan entah milik siapa lebih baik kamu bekerja lebih keras lagi biar kita berdua di karuniai anak. Bukan malah menolak istri yang sudah rela datang untuk melayani kamu, tapi harus kembali dengan keadaan kecewa," cerocos Lyra, ia memang sebelum pergi ingin membuat perhitungan dulu dengan Abas yang seenaknya menolak dia yang pengin di layani oleh suaminya. Pertengkaran pun akhirnya tidak bisa dihindari.

__ADS_1


"Kamu bisa mencerna ucapan aku baik-baik kan Lyra, aku sedang tidak mood, jangan sampai kita berantem hanya karena masalah yang sepele. Lama-lama rumah tangga kita ini sudah tidak sehat, selalu saja ada perdebatan yang di masalahkan karena masalah sepele." Abas pun tidak mau kalah dia juga tetap dalam pendirianya dan menganggap bahwa Lyra terlalu kekanakan dan tidak mau menerima keputusan suaminya.


"Kalau begitu aku pergi, tapi jangan marah dan jangan kesal apabila nanti mungkin aku akan mencari kenikmatan dari laki-laki lain mengingat suami aku sendiri tidak mau lagi melayani istrinya," cicit Lyra, ia tidak sungguh-sungguh dalam mengatakan itu karena wanita itu sudah terlalu bucin oleh perasaan cinta yang ada dalam diri dia pada suaminya.


"Pergilah!  Silahkan selingkuh aku tidak akan melarang, dan aku juga bisa melakukanya, aku bisa melakukan seperti yang kamu lakukan." Tatapan matanya tajam menatap dua mata Lyra yang memerah, mungkin ingin menangis atau malah wanita itu sedang marah.


"Dasar laki-laki tidak berguna, selalu bisanya mengancam. Jangan-jangan bukan kandungan aku yang bermasalah tetapi bibit kamu saja yang lemah," bentah Lyra, wanita itu sedang di kuasai kemarahan karena gagal mendapkan kepuasan dari suaminya sehingga melantur ke mana-mana.


Laki-laki itu bahkan sudah yakin bahwa istri pasti akan kembali meminta maaf pada dia karena dia yang  sangat mencintai Abas. Lyra yang selama ini mengemis ngemis untuk tetap menjalin rumah tangga, dan kalau ia tidak ingat perjuangan dengan istrinya yang cukup lama Abas juga tidak mau kembali menjalin hubungan, tetapi pada akhirnya menyakiti.


Lyra menatap Abas dengan sengit, di dadanya sudah ada bongkahan kemarahan yang sangat menggebu, dan itu semua karena ucapan Abas. Wanita itu tidak menyangka bahwa Abas bisa berkata begitu kejam sedangkan biasanya Abas selalu berkata yang baik-baik dengan Lyra, tetapi siang ini dia seperti kehilangan sosok suaminya.

__ADS_1


Wanita berpenampilan modis dan trendi, sangat sempurna bagi yang melihatnya, tetapi tidak kali ini di mana Abas, justru melihat sebaliknya. Istri yang berhasil mejebak dirinya selama sepuluh tahun terlihat sangat menyebalkan dan membuat ia ingin menyakiti wanita itu dari kata-kata kejamnya. Lyra akhirnya pergi dari ruangan Abas dengan perasaan sakit, dan panas karena Abas yang sudah membuat hatinya terluka, ia tidak menyangka bahwa kedatanganya ke kantor Abas justru saling melemparkan pertanyaan yang saling menyakiti.


Bruk... Lyra membanting pintu mobil ketika bokongnya sudah mendarat sempurna di atas sova kemudi. "Bajingan kamu Abas, dengan mudahnya kamu mengatakan kata-kata yang menyakiti aku. Jadi hubungan kita selama sepuluh tahun tidak ada kesanya sama sekali, apa sebegitu tidak berartinya aku di mata kamu," isak Lyra,yah wanita itu  masih sangat mencintai Abas, tidak mungkin wanita itu mau merelakan berpisah dengan Abas.


Ucapannya tadi hanyalah bongkahan kekecewaan yang coba ia keluar kan. Tidak sepenuhnya benar, pada kenyataanya Lyra tidak bisa hidup tanpa Abas.


"Bodoh? Yah, kata itu memang tepat buat menggambarkan Lyra, yang sangat bodoh, dan bahkan otaknya sudah tidak berguna lagi, di butakan oleh cinta yang menyakitkan. Padahal Lyra selama ini sudah merahasiakan hubunganya  yang sudah tidak sehat dari orang tuanya. Lyra justru sebaliknya selalu mengatakan yang  baik-baik terhadap keluarganya tentang Abas dan juga tentang keluarga suaminya. Padahal dalam kenyataanya keluarganya tidak sebahagia yang wanita itu ceritakan pada keluarganya.


"Aku harus ngomong apa nanti sama keluarga aku apabila Abas benar-benar ingin berpisah dengan aku," lirih Lyra, ia di dalam mobil justru sedang menyesali apa yang telah ia ucapkan pada Abas.


Wanita itu menatap kembali ke kantor suaminya, menyesalin apa yang sudah ia katakan. Mungkin ini adalah kemarahan terbesarnya. Biasanya Lyra akan mencoba mengalahkan agar pertengkarannya tidak memanjang, tetapi kali ini Lyra tidak bisa lagi menahanya, karena Lyra sudah sangat kecewa dengan penolakan Abas.

__ADS_1


__ADS_2