Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
Cinta Diambang Derita


__ADS_3

Brukkkkk... Wina memukul pundak Kemal dengan tas mahalnya, dan Kemal pun masih melanjutkan ektingnya. Tanganya mengusap-usap bekas pukulan Wina. Pokoknya Kemal bakal lakuin sampai Wina tidak marah lagi.


"Bangun ini bukan mimpi gue mau marah sama loe, kenapa loe berani-beraninya ngerjai gue. Tahu tidak gara-gara loe yang bilang bakal nyusul ke tempat gue kerja, gue rela bermacet macetan sampai satu setengah jam untuk nemuein loe. Tapi malah loe sendiri enak-enakan tertidur. Nyesel gue datang ke sini." Wina terus nyerocos saja. Sementara Kemal sendiri masih melanjutkan ektingnya, dia masih terlalu mendalami peranya.


Tanganya mengusap-usap lengannya yang bekas di pukul oleh Wina. "Kenapa mimpi, tapi kok tanganya sakit, dan aneh juga masa ada bidadari galak banget," racau Kemal. Tujuan menghibur diri sendiri.


"Kemal... ini bukan mimpi, tapi ini tuh serius," pekik Wina, dan karena Wina sudah nampak bertanduk Kemal pun menghentikan  candaannya ia tidak lagi berekting.


Hehehe... gigi yang putih dan rapih ditunjukan untuk sebuah permohonan maaf. "Maaf aku tuh tadi bercanda, aku pikir kamu tidak akan ke sini, tapi serius kok, aku tuh lupa ketiduran juga," bela Kemal dengan wajah yang memelas menunjukan pada Wina kalau dia menyesal.


Wina menujukan tampang malasnya. Kini wanita itu sedang duduk di kursi samping Kemal tanganya di silangkan kedepan dadanya dan dia juga wajahnya menujukan bahwa dirinya sangat marah dengan laki-laki yang saat ini sedang duduk menyender.


Yah, mereka di ruangan Kemal hanya berdua, itu semua karena begitu Wina masuk ke dalam ruangan Kemal, Siti langsung pergi untuk memberikan waktu untuk bosnya.


"Win, kamu marah betulan? Sumpah deh aku tidak ada niatan untuk mengerjai kamu, tadi aku memang baru minum obat, dan aku ketiduran. Ya udah kalau kamu marah kamu boleh balik ke kantor kamu, dan aku akan nyusul kamu agar tahu gimana rasanya cape-capean untuk ketemu dengan calon  makmum." Kemal masih usaha agar Wina tidak marah lagi.


"Tidak perlu," jawab Wina dengan ketus, bahkan pandangan matanya tidak sama sekali dialihkan pada Kemal yang sedang berusaha menujukan penyesalanya.


"terus aku harus gimana agar kamu tidak marah lagi?" tanya Kemal lagi, "Andai bisa diulang aku tidak akaan tidur dan nyusul kamu ke tempat kamu kerja. Aku menyesal banget," lirih Kemal.


Sementara Wina sendiri malah dalam hatinya bingung. "Bukanya aku tadi yang berdoa bahkan entah berdoa berapa kali, agar Kemal tidak pergi menemui aku, tapi kenapa ketika aku melihat Kemal tidur dan nggak menemui aku. Aku malah marah? Sebenarnya aku ini penginya apa toh," lirih Wina dalam batinya.


Kemal menggenggam tangan Wina, dengan susah payah. "Win, aku minta maaf sungguh aku tidak bermaksud untuk mengerjai kamu, aku ketiduran. Kamu boleh tanya Siti obat yang aku minum tadi memang mengandung obta tidur yang sangat mujarab, buktinya setiap aku  habis minum obat itu aku selalu tidur tanpa sadar."


Kemal masih terus berusaha untuk menjelaskan apa yang terjadi dengan dirinya. Tujuanya agar Wina tidak marah. Namun, nampaknya Wina benar-benar marah dia tidak  menjawab sepatah kata pun apa yang diucapkan oleh calon suaminya, dan pandangan matanya juga dia palingkan ke lain arah.


"Win, jujur aku sedih kalau kamu marah kayak gini. Kamu katakan aku harus apa? Ngomonglah aku ingin kamu bicara biar aku bisa lakukan sesuatu untuk kamu."

__ADS_1


"Aku lapar, aku pengin makan," jawab Wina dengan ketus, dan pandangan mata masih enggan untuk menatap Kemal.


Laki-laki itu pun terkekeh dengan kelakuan calon istrinya itu yang sangat-sangat menggemaskan. "Baiklah, kamu mau makan pake apa Sayangnya Kakak Kemal."


Mode gombal dan mode play boy sudah mulai muncul kembali. Meskipun Kemal pada kenyataanya tidak play boy, tetapi entah mengapa sejak ia menyatakan akan menikahi Wina, laki-laki itu seolah berubah menjadi sosok bocah yang tengil dan sangat-sangat menyebalkan.


"Apa saja yang penting makanan," balas Wina lagi.  Kemal pun meminta Siti untuk membelikan makan untuk calon isrinya. Sepanjang Siti pergi ke kantin untuk membeli makanan Kemal tidak henti-hentinya mencoba menghibur Wina, tujuanya agar Wina tidak marah.


Yah, memang wanita itu kenyataan hanya sedang melakukan upaya balas dendam, pada kenyataanya Wina juga tidak benaran marah. Wanita itu tahu kalau Kemal setelah minum obat akan merasa mengantuk dan hasilnya seperti siang ini ia tidur tanpa sadar dan itu sudah ia maafkan.


Namun rasanya tidak adil sekali kalati Kemal saja bisa mengerjai dirinya masa dia tidak bisa mengerjai Kemal balik. Wanita itu terus-terusan menujukan wajah kecewanya. dan itu ia lakukan agar Kemal terus merayunya, terus berupaya agar Wina memaafkan dia. Wanita itu ingin tahu sejauh mana Kemal akan berusaha. Dan malah sepertinya Wina suka dengan kebawelan


Kemal


"Den, ini makanan yang Den Kemal minta." Siti mengulurkan tiga bungkus makanan dan Kemal hanya mengambil satu bungkus makanan dan yang dua ia berikan untuk dua asisten rumah tangga di keluarganya yang menajaga dirinya selama belum sadar untuk makan bersama. Tentu Kemal juga tidak lupa mengucapkan terima kasih.


"Aku yang suapin," ucap Kemal dengan membuka makanan, dan mulai mengambil satu sendok lalu di julurkan ke mulut Wina yang ada di sampingnya. Sementara Wina masih diam saja, mulutnya seolah terkunci dengan rapat.


"Ayolah Wina, ini anak kamu yang pengin makan dari tangan papahnya," bujuk Kemal, selalu menggunakan alasan anak sangat menyebalkan bukan? Namun, Wina juga tidak memungkiri ia ingin merasakan diperhatikan seperti itu. Wina akui Kemal memang sangat perhatian dan romantis.


"Kenapa sih kamu demen banget memaksa, padahal aku bisa makan sendiri," cibir Wina, tetapi tak ayal dia memakan juga.


"Gimana rasanya enak kan, kalau dari tangan calon suami," goda Kemal, dan wajah Wina pun memerah seketika.


"Biasa saja namanya juga makanan tidak ada bedanya, mau dari tangan sendiri atau dari tangan kamu," dengus Wina, namun lagi-lagi lain dibibir dan juga lain di hati. Memang yang dikatakan oleh Kemal benar adanya. Makanan terasa lebih enak ketika Kemal yang suapinya.


"Aku tidak lama lagi akan keluar dari rumah sakit, setelah itu aku akan langsung datang menemui orang tua kamu untuk menikahi kamu. Sesuai yang aku katakan kalau aku akan menikahi kamu," ucap Kemal sembari membersihkan tangan -tanganya. Wina cukup tercengang.

__ADS_1


Kali ini dia melihat seperti bukan Kemal. Dia melihat sosok yang lain bukan kemal yang usianya masih dua puluh empat tahun, tetapi seperti orang yang lebih dewasa dari dirinya. Wina tidak menjawab ucapan Kemal bukan karena dia marah, tetapi karena dia yang masih terkejut dengan cara bicara Kemal, yang sangat terlihat kalau dirinya sangat dewasa sekali.


"Tapi aku minta kemakluman dari kamu, aku untuk saat ini hanya bisa menikahi kamu dengan sederhana, bukan karena aku tidak ada tabungan, atau bukan karena aku malu dengan kondisi kamu yang sudah hamil duluan, tetapi semua aku lakuin karena ibu aku yang masih di dalam penjara," imbuh Kemal.


"Tapi kalau kamu memang ingin pesta-pesta besar, aku akan wujudkanya nanti ketika masalah di keluarga aku sudah selesai." Kemal terus berbicara tanpa sepatah kata pun yang keluar dari bibir mungil Wina.


"Tidak perlu, aku juga tidak menginginkan pesta, pesta yang terpenting untuk aku adalah kamu yang mau tanggung jawab." Wina pun tidak kalah serius dari Kemal.


"Uluhh... cewek ini calon istri siapa sih manis banget, jadi tidak sabar pengin buru-buru," goda Kemal, kembali ke mode ngeselin fersi Wina.


Wanita yang beberapa detik yang lalu serius dan kagum dengan sikap dewasa Kemal, kembali ke mode  waspada.


"Apa kamu ini seperti ini selalu bersikap kekanakan?" ketus Wina, ia benar-benar harus menyiapkan mental ketika nanti menikah dengan berondong ini.


Yah, Kemal yang melihat kalau Wina itu pasti takut kalau dirinya bersikap seperti bocil. Kemal tentu tidak akan membuat Wina malu dengan sikapnya, karena yang dia lakukan hanya iseng saja.


"Kamu tentu tahu Mbak, aku ini anak terakhir dari tiga bersodara, dan Mamih selalu mengabulkan apa yang aku mau, jadi ya wajar kalau aku seperti ini. Mbak Wina juga nanti selain jadi istri, pasti akan jadi kakak serta ibu untuk aku," racau Kemal, dan laki-laki itu terkekeh renyah melihat reaksi Wina.


'Ah,mungkin ini yang tadi terjadi ketika aku berkomunikasi dalam sambungan telepon. Sangat menggemaskan,' gumam Kemal menatap Wina dengan wajah yang memerah.


"Nggak usah panggil Mbak kenapa, berasa tua banget gue," protes Wina dengan mata yang melebar.


"Kan memang Mbak tua. Emang pikir Mbak masih muda?" kekeh Kemal, ia sangat tidak kuat ingin tertawa, tetapi demi melihat wajah Wina yang menggemaskan dia harus menahanya.


"KEMMALL..." Wina pun mulai bertanduk, dan Kemal sendiri terkekel.


"Uluh... gemez banget calon mamah ini."

__ADS_1


__ADS_2