Cinta Diambang Derita

Cinta Diambang Derita
CDD #Episode 150


__ADS_3

Di tempat lain....


Ghava sudah merasa tidak tenang sejak kepergian Kemal yang sangat mencurigakan itu. Namun, Ghava lagi-lagi mencoba percaya pada adik kandungnya, dan menncoba berpikir positif Kemal tidak mungkin mau menikungnya. Ghava percaya kalau Kemal pasti akan menghargai pilihan Zifa dan juga dirinya sebagai bangnya.


"Pih, apa Papih tahu Kemal kemana?" tanya Ghava yang sejak tadi gelisah. Tubuhnya memang ada di rumah sakit itu, tetapi tidak dengan jiwanya yang terbang memikirkan Zifa, entah mengapa Ghava terpikirkan Zifa terus.


"Kemal? (Mata Omar mengawasi kesekeliling, bahkan laki-laki itu sejak tadi tidak menyadari kalau anak bungsungnya tidak ada di sekitar dia.) Kemal, memang dia kemana? Papah malah baru tahu kalau anak itu tidak ada di sini lagi," ucap Omar, dia terlalu terfokus dengan Abas, sampai tidak sadar kalau Kemal pergi.


"Tadi Kemal bilang kalau dia mau pergi, dan Ghava suruh berjaga kalau dia atau Zi..." Ghava menjeda ucapanya, dia lupa bahkan papihnya belum tahu kalau dia itu sudah menikah.


"Maksudnya apa Va? Apa ada yang Papih belum tahu dari kalian?" tanya Omar yang terlihat sekali gura wajahnya menahan lelah.


Ghava menunduk, bukan dirinya tidak ingin memperkenalkan Zifa pada keluarganya tetapi waktunya yang belum pas untuk mengatakan semuanya.


"Ceritanya panjang Pih, tapi yang jelas tadi itu Kemal sangat terlihat berbeda. Kemal seolah sedang ada yang ingin dilakukan, tapi dia tidak berbicara apa-apa," ucap Ghava, itu yang dia lihat dari adik bungsunya.


"Kamu tenang saja, mungkin memang Kemal belum membutuhkan bantuan kamu, dan nanti ketika dia akan membutuhkan bantuan kamu itu tandanya dia akan menelepon kamu," ucap Omar, mencoba menenagkan Ghava, dari ketiga anaknya yang paling dekat dengan Omar memanglah Ghava, selain mereka sering melakukan perjalanan bisnis bersama. Ghava dan Omar juga terakhir hampir satu tahun tinggal bersama di luar negri untuk melakukan pekerjaan sehingga mereka lebih dekat lagi.


"Semoga saja yah Pih, Kemal tidak kenapa-napa dan kecemasan ini hanya rasa yang biasa tidak ada pertanda apapun," lirih Ghava, meskipun bibirnya mengatakan seperti itu, tetapi dalam hatinya masih belum bisa tenang selama dia belum mendapatkan telepon dari adiknya itu.

__ADS_1


Ghava entah berapa kali mengirimkan pesan pada Zifa ataupun Kemal, dia semakin cemas ketika menghubungi Zifa tidak ada yang mengangkatnya, tanganya pun mencoba menghubungi Kemal, tetapi tidak ada yang mengangkatnya juga.


"Pih, kok Ghava hubungi Kemal tidak ada yang angkat yah. Apa ada  yang terjadi sesuatu dengan Kemal." Ghava menujukan tampilan layarnya yang  menunjukan dirinya memanggil Kemal tetapi tidak ada juga yang mengangkatnya. Omar menatap layar ponsel Ghava, dan laki-laki paruh baya itu pun mengambil ponselnya dan mencoba menghubungi anak bungsunya.


"Sama," ucap Omar menujukan beberapa pangilanya yang tidak diangkat juga. Perasaan Ghava semakin tidak tenang, bahkan ia juga sudah menghubungi asisten rumah tangganya tetapi seolah mereka sedang bermain-main dengan Ghava, tidak ada yang mengangkatnya, padahal sebelum berangkat pergi Ghava sudah mengatakan kalau dia mau apabili dirinya telepon ada yang langsung mengangkatnya.


"Ghava kalau memang kamu takut terjadi sesuatu, kamu pulang saja, biarkan Abas Papih yang jaga, kamu cari tahu apa yang terjadi dengan adik kamu," ucap Omar, dan Ghava sendiri langsung  pergi tanpa menunggu sesuatu lagi. Semakin dia berkata baik-baik saja semakin Ghava yakin kalau semuanya tidak baik-baik saja.


Laki-laki itu bahkan memacu kendaraan roda empatnya dengan sangat kencang, perjalanan yang seharusnya ditempuh dengan perjalanan lebih dari satu jam, kali ini tidak butuh waktu satu jam Ghava sudah sampai di rumahnya. Namun, hati Ghava semakin tidak menentu ketika dari jarak yang cukup jauh Ghava sudah melihat ada keramaian di rumahnya. Laju kendaraanya pun semakin dikurangi oleh Ghava.


Ini bukan mimpi tapi ini kenyataan, di rumahnya terjadi keributan, tapi apa yang membuat mobil polisi berjejer di depan rumahnya. Tulang belulangnya seperti terlepas, tubuhnya sangat lemas.


Ghava dengan tertatih berjalan memasuki halaman rumahnya, yang pertama di lihat adalah security rumahnya yang napak pucat. "Pak, apa yang terjadi di rumah saya?" tanya Ghava dan suaranya itu berhasil membuat security itu kaget.


"Astaga, Tuan. E... Itu Tuan.  Den Kemal tertembak dan sekarang kondisinya kritis," jawab security dengan terbata.


Jeduuerrr...bak di sambar petir, tubuh Ghava langsung lemas bahkan harus ditahan oleh polisi yang kebetulan melintas agar tidak terjatuh.


Pikiran  yang mengganggu Ghava hanya satu, ia takut kalau yang melakukan penembakan itu adalah Zifa, meskipun Ghava tidak yakin, tetapi ada kemungkinan kalau yang melakukan itu adalah Zifa, mengingat Zifa memiliki dendam pada keluarganya. Namun, pikiran Ghava kembali menepisnya, pistolnya dari mana sedangkan Zifa tidak memiliki senjata api jenis itu.

__ADS_1


"Pak, siapa yang melakukan penembakan itu? Zifa gimana keadaanya?" tanya Ghava lagi. Ia terlalu takut kalau Zifa akan berpikir pendek dan justru mengakibatkan ia tidak bisa membalas dendamnya dan dia terkurung di balik jeruji besi, tanpa bisa Ghava membelanya.


"Pelakunya Nyonya Eira, dan Bu Zifa, baik-baik saja, hanya sedikit syok, sekarang ada di rumah sakit bersama Den Kemal," jawab security itu dengan detail.


Seerrr... Darah seperti mengalir deras keotaknya. Ini kabar sedih dan kabar buruk, tetapi tidak di pungkiri hatinya juga ada perasaan bahagia. Setelah dugaan buruknya tidak sama sekali terjadi, tapi tunggu Nyonya Eira?


"Kalian bilang Nyonya Eira yang artinya itu adalah Mamih? Kenapa bisa Mamih yang melakukan ini semua?" tanya Ghava, dia bahkan baru menyadari apa yang security itu katakan. Dia yang terlalu senang kalau semua ini bukan Zifa yang melakukan dan juga bukan Zifa korbanya, sampai tidak menyadari bahwa ibu kandungnya yang melakukanya.


"Iya Tuan, kami tidak tahu, tapi Nyonya datang tiba-tiba dan tidak lama disusul oleh Den Kemal," jelas security itu lagi, mengatakan yang sebenarnya terjadi.


"Mamih, apa selama ini Mamih tahu semunya, sehingga dia bisa tahu kalau aku dan Zifa sudah menikah, dan dia tahu Zifa tinggal di sini? Kemal apa selama ini juga Kemal tahu kalau Mamih itu sedang melakukan rencana yang tidak baik terhadap Zifa?" guman Ghava, laki laki itu semakin bingung siapa yang akan dia lebih dulu temui.


Ghava ingat pesan papihnya agar menghubungi apabila terjadi sesuatu, tetapi di lain tempat Abas juga membutuhkan orang untuk menungguinya. Sehingga Ghava memutuskan untuk mengurusnya seorang diri, dia sangat yakin dirinya dan Zifa bisa membereskan ini semua.


"Apa Mamih masih ada di dalam? tanya Ghava.


"Nyonya sudah dibawa ke kantor polisi, dan Den Kemal dengan di teman Bibi dan Bu Zifa pergi kerumah sakit, di dalam polisi sedang olah TKP," jawab secirity. Ghava yang penasaran pun lari ke dalam rumahnya untuk melihat apa yang sekiranya terjadi setelah itu akan menemu Zifa dan Kemal di rumah sakit, dan selanjutnya ia akan menemui mamihnya yang sama sekali tidak terpikir oleh Ghava kalau mamihnya akan melakukan ini semua.


Tubuh Ghava kaku membeku ketika melihat darah yang sangat banyak. "Darah sebanyak itu berati luka yang ditinggalkan oleh senjata itu sangat parah," gumam Ghava ketika melihat darah yang membanjiri lantai kamarnya. Dia tidak akan berhenti menyalahkan dirinya apabila sesuaitu terjadi pada adiknya itu.

__ADS_1


"Kemal kamu bertahan, bahagia harus kamu raih."


__ADS_2