
"Ifa..." pekik Zara ketika Zifa datang ke yayasan. Zifa memang begitu sampai di Bandung langsung menuju ke tempat Zara lebih dulu, karena ia sudah sangat kangen. Zifa membalas dengan senyuman yang terkembang dengan sempurnya. Setelah berjabat tangan dengan bunda Anna, Zifa langsung menghampiri kakanyan yang lagi belajar. Yah, ternyata kakaknya sudah di izinkan belajar mewarnai dan berhitung bahkan untuk menulis Zara sudah bisa meskipun masih sangat berantakan.
"Wah, Kakak Ara sedang apa?" tanya Zifa dengan duduk di samping Zara yang tengah mewarnai.
"Ifa, Kakak sekolah," jawab Zara dengan sangat antusias. Seolah sudah ingin menunjukan pada Zifa kalau dia juga sekolah sama dengan adiknya.
"Waw keren Kak, Kakak Zara sama kaya Ifa sekolah juga yah," puji Zifa dengan mengacungkan kedua jempolnya dan senyum bahagia, karena kakaknya sekarang sudah bisa berinteraksi dengan teman-temanya.
Zara membalas Zifa dengan senyum yang manis.
"Kakak kamu hebat sekali Zifa, dia sangat pandai memasak, kamu cobain deh ini buatan kakak kamu. kue perdana yang kakak kamu buat tetapi sudah sangat lezat rasanya. Dia juga buat mewarnai sangat rapih. Kamu lihat deh." Bunda Anna membawa beberapa irisan kue bolu yang Zara buat, dan juga memberikan tiga lembar gambar yang sudah di warnai oleh Zara.
Zifa mengambil gambar yang di tunjukan oleh bunda Anna dan mengamatinya. "Iya Bun, Kak Zara sepertinya lebih suka menggambar terlebih Zara memang saat ini juga kembali fokus dengan kegiatan mewarnainya lagi. Apa mungkin bakat Kak Zara adalah seni?" tanya Zifa, mungkin dengan kegiatan ini bunda Anna sudah bisa menyimpulkan bahwa Zara memang memiliki bakat di dunia seni.
__ADS_1
"Untuk sementara waktu, karena masih sangat dini untuk menentukan bakat, sepertinya masih belum terlalu terlihat, tetapi kalau di lihat sekilas Zara memang lebih menyukai gambar dan memasak, bahkan hasil masakan Zara tidak usah diragukan lagi, rasanya juara, enak. Kalau Zara di minta menulis dan berhitung atau membaca dia juga nurut dan masih bisa di arahkan, tetapi seperti halnya sifat anak-anak yang tidak suka dan tidak menarik maka dia akan bosan, sama halnya dengan Zara. Dia lebih fokus dan terarah di gambar. Tuh kan dia seolah tidak mendengar ucapan kita, saking serius dan menariknya itu," kelakar Bunda Anna, dan Zifa pun ikut tertawa dengan kelakuan kakaknya yang terlalu fokus dengan kegiatanya.
Satu potong kue, selanjutnya menjadi sasaran Zifa untuk mencicipinya. Satu potongan cukup besar berhasil memenuhi mulut Zifa, di mana saat ini, perut dan mulut Zifa terasa sangat lapar, dan lagi-lagi kue buatan kakaknya memang lezat. Sehingga Zifa entah sadar atau tidak sudah menghabiskan dua potong kue bolu, bikinan Zara.
"Gimana rasanya?" tanya Bunda Anna, sempat khawatir kalau Zifa tidak mau mencicipi kue buatan Zara, karena Zifa yang memang sedikit ada trauman terhadap kue.
"Enak Bun, malahan lupa kalau tidak menawarkan Bunda," kekeh Zifa sembari mengelap mulutnya dengan tisu.
"Ibu memang jago masak, tetapi nurunnya pada kaka Zara tidak pada Zifa, karena Zifa justru kebalikan dari kaka Zara yang jago masak. Zifa jago memberantakan dapur dan soal masakan hasilnya jauh dari rasanya olahan Kak Zara," ujar Zifa berkata jujur, karena memang itu yang terjadi dan Zifa bangga pada Zara yang memiliki kelebihan itu.
"Oh iya, ngomong-ngomong gimana kesimpulan kamu menemui teman almarhum ibu kamu, apa ada jawaban yang bisa di jadikan pacuan atau kira-kira siapa pelakunya?" tanya Bunda Anna, saking bahagianya membahas perubahan Zara, sampai-sampai dia lupa tanya hasil Zifa pergi ke Ibukota.
Wajah Zifa langsung berubah ketika bunda Anna membahas kepergianya menemui Bi Tini. " Bun, kalau menurut Bunda Kemal itu seperti apa sih?" tanya Zifa, ingin mendengar penilaian bunda Anna terhadap Kemal. Mungkin saja Bunda Anna juga melihat sisi lain Kemal yang memiliki dua kepribadian.
__ADS_1
Bunda Anna mengernyitkan dahinya, dan menatap Zifa penuh tanya. " Kenapa tanya tentang Kemal, apa semua ini ada hubunganya dengan Kemal?" tanya Bunda Anna, hanya menebak tetapi lagi-lagi tebakanya benar.
"Tidak Bun, hanya bertanya saja. Kenapa akhir-akhir ini Zifa seolah melihat kejanggalan di tubuh Kemal. Bukanya Bunda Anna pernah bilang, kalau kejadian yang menimpa Zara, sebagian besar di lakukan oleh orang terdekat. Kalau kata Bunda mungkin tidak Kemal melakukan hal semacam itu pada Kak Zara?" tanya Zifa, ingin mendengar penilaian Bunda Anna terhadap Kemal, tetapi Zifa juga tidak ingin langsung menuduh Kemal. Bukankah ini masih dugaan semata, mungkin saja dugaan Zifa salah semua atau malah benar adanya. Masih berusah mengungkap fakta.
"Kalau di lihat Kemal yang Bunda kenal, dan Kemal yang selama ini berjuang untuk kelainan mentalnya, sepertinya sangat tidak mungkin seorang Kemal melakukan hal keji seperti itu. Di mana Kemal dari tutur bicara dan kepribadianya tidak mencerminkan anak yang bandel, tetapi kembali lagi pada Kemalnya, Bunda hanya melihat sekilas. Bukan berati orang yang terlihat baik tidak melakukan kejahatan, dan sebaliknya bukan berati orang yang jahat tidak memiliki sifat baiknya. Semuanya tugas kamu untuk mencari fakta sebenarnya jangan sampai menilai orang lain tidak benar tanpa melihat faktanya." Bunda Anna mengelus rambut sebahu Zifa. Yah ketika ke Bandung Zifa tidak lagi berhijab. Hijab yang dia kenakan hanya ketika ke Jakarta dan itu semua untuk menutupi jati dirinya.
"Iya Bun, Zifa juga sedikit tidak percaya dengan kepribadiaan Kemal yang terlihat baik, tetapi juga semakin Zifa ingat-ingat prilaku Kemal saat ini semakin menunjukan kalau Kemal itu menyembunyikan sesuatu, tetapi apa yang tengah ia sembunyikan Zifa juga tidak tahu. Terlebih sekarang Kemal sudah pergi, sulit untuk bertanya langsung," jelas Zifa, seolah mengatakan pada Bunda Anna bahwa dia mencurigai Kemal bukan asal saja tetapi memang karena gelagat yang berbeda.
"Pergi? Pergi kemana Kemal? tanya Bunda Anna kaget juga.
"Kata teman Ibu, pergi kenegara Kakek, Neneknya, kalau tidak salah di Belanda, dan untuk alasan pergi Kemal juga berbohong Bun. Kemal mengatakan katanya ibu dan ayahnya pindah tugas dan kenyataanya dia sepertinya ingin kabur dari kasus inj," ujar Zifa, mengambil kesimpulan yang dia tarik dari kejanggalan Kemal.
Bunda Anna terkejut dengan ucapan Zifa, sedikit tidak percaya dengan ucapan Zifa, di mana Kemal yang ia tahu baik dan tidak mungkin rasanya memperk*sa Zara.
__ADS_1