
Seperti janji Lyra bahwa ia ingin tinggal di ruko Zifa seminggu atau paling lama selama dua minggu, dan hari ini Lyra berpamita ke Zifa untuk kembali ke Jakarta.
"Fa aku pamit untuk pulang yah, sebenarnya aku pengin lebih lama lagi di sini tapi gimana lagi aku banyak kerjaan yang terbengkalai dan juga sidang cerai aku sudah mulai berjalan jadi aku harus hadir buat memenuhi pangilan hakim, aku ingin urusan aku dan mantan suami cepat terselesaikan, aku janji kalau ada waktu senggang pasti main lagi kesini buat jengukin Raja dan Ratu, enggak berasa banget sudah satu minggu aku di sini dan hari-hari sama mereka berdua sangat seru, pasti nanti aku bakal kangen banget sama dua kembar ini," ucap Lyra sembari menatap wajah polos anak kembar yang asik dengan mainan yang di belikan oleh Lyra.
Bahkan Lyra baru satu minggu di ruko ini entah berapa mainan yang dia belikan untuk dua kembar itu, padahal anak seusia Raja dan Ratu yang baru menginjak dua bulan belum begitu mengerti mainan tetapi Lyra yang memaksa membelikanya, tidak hanya mainan yang ia belikan, pakaian si kembar pun hampir setiap hari ada saja kurir yang mengantar paket untuk si kembar dan itu adalah pakaian dari Lyra atau tidak dari Ghava.Yah, Ghava juga biarpun tidak lagi main ke ruko karena memang masih berada di luar kota, tetapi paket untuk Raja dan Ratu selalu hadir menggantikan ketidak hadiran Ghava.
Bahkan Zifa dan Zara hampir tidak pernah membeli pakaian untuk dua anak kembar itu, kalau tidak Ghava, pasti Alwi yang selalu membelikan pakaian untuk mereka, dan kali ini ada Lyra yang jauh lebih royal dari dua pria itu. Sehingga sepertinya dua anak kembar itu harus membeli lemari yang ukuranya lebih besar lagi, karena pakaian mereka sudah makin banyak.
"Iya Mba, terima kasih yah selama di sini sudah banyak sekali membantu kami. Padahal Raja dan Ratu sudah mulai akrab dengan Mba Lyra tetapi malah Mba harus pulang, nanti anak bayi ini lupa lagi deh sama Mba," balas Zifa dengan memainkan tangan Raja dan Ratu seolah dua anak kembar itu kemberatan ketika Lyra harus pulang.
"Kenapa pulang?" tanya Zara yang saat ini berada di samping Zifa.
"Ada kerjaan Ra, nantiĀ main lagi yah kalau sudah selesai kerjaanya," jawab Lyra yang sedikit paham dengan kondisi Zara yang berbeda, dan Lyra juga sebenarnya masih penasaran dengan sosok Zara, di mana ia sangat yakin bahwa dirinya pernah bertemu dengan Zara, tetapi otaknya payah sehingga ia tidak lagi mengenali di mana dirinya bertemu dengan Zara.
"Oh," jawab singkat Zara dengan mengamati Lyra, mungki Zara juga sama dengan Lyra yang merasa kenal, karena pastinya Zara pernah melihat Lyra selama ikut kerja bersama ibunya di rumah majikannya dulu.
Setelah pamitan dengan anggota yang lain Lyra pun benar-benar meninggalkan ruko kue milik Zifa dan Zara.
__ADS_1
"Ifa, siapa dia?" tanya Zara sembari menujuk Lyra yang tubuhnya hampir keluar dari ruko mereka.
"Lyra, kenapa Kakak kenal?" tanya Zifa dengan suara yang lembut, dan sekarang berkat sering curhat dengan Alwi, Zifa tidak lagi jadi pemarah seperti sebelumnya yang sering sekali memarahi Zara.
"Kenal," jawab Zara, pandangan matanya masih menatap wanita itu.
"Siapa? Dan kenal di mana Kaka dengan Mba Lyra?" tanya Zifa sebenarnya tidak begitu yakin dan pertanyaanya percayalah itu hanyalah cara Zifa untuk terus mengajak berkomunikasi dengan Zara dan itu yang di ajarkan oleh dokter Alwi.
"Di rumah Ibu kerja dulu," jawab Zara dengan lirih, sontak Zifa yang dengar itu langsung meletakan Ratu yang saat itu berada dipangkuan dia, dan Zifa berjalan setengah berlari menyusul Lyra yang sudah hampir meninggalkan halaman toko mereka.
"Mba Lyra... Mba Lyra... tunggu dulu." Zifa berlari mengejar mobil Lyra yang sudah melaju hendak menuju jalanan.
"Ada apa Fa?" tanya Lyra dengan suara yang lembutnya.
"Mba Lyra... apa Mba Lyra pernah melihat Kak Zara di rumah orang tua Kemal, apa Mba Lyra ada hubunganya dengan keluarga itu?" tanya Zifa dengan suara yang setengah tersenggal hal itu karena dia yang tadi sempat berlari untuk mengejar mobil Lyra.
Lyra tampak diam sejenak tidak membalas pertanyaan Zifa. Pikiranya di putar dengar keras untuk mengenali Zara.
__ADS_1
"Kalau untuk pastinya aku belum pasti Fa, karena aku benar-benar lupa, otak aku itu lemah tidak seperti yang lain gampang mengingat memory yang sepintas, tetapi kalau tidak salah mungkin memang aku pernah bertemu di rumah itu, tetapi kok kamu kenal Kemal, ada hubungan Apa? Kalau aku dan keluarga Kemal sekarang tidak ada hubungan apa-apa karena memang suami yang menceraikan aku, tempo hari aku ceritakan pada kamu adalah kakak dari laki-laki yang bernama Kemal," jawab Lyra dengan jujur dan karena tidak tahu maksud Zifa bertanya demikian sehingga dia tidak harus menyembunyikan apa-apa.
"Mba Lyra punya waktu tidak satu jam saja, Ifa ingin ngobrol dulu dengan Mba Lyra, mungkin saja Mba Lyra tahu sesuatu. Ifa butuh informasi mengenai keluarga itu," tanya Zifa dengan tatapan mengiba agar Lyra mau menyempatkan waktunya sejenak untuk menemani dirinya mengobrol.
Lyra melihat jam di pergelangan tangannya. "Boleh di mana? Tapi aku nggak bisa lama," balas Lyra.
"Didalam mobil saja tidak apa-apa, biar menghemat waktu juga." Zifa menunjuk pada sofa mobil.
"Ayok!" Lyra memerintah Zifa agar segera masuk.
Zifa dengan cekatan pun membuka mobil dan duduk di samping Lyra.
"Terima kasih yah Mbak sudah mau meluangkan waktu untuk Ifa, padahal mungkin saja Mba sedang diburu-buru untuk pulang ke Jakarta," ucapan Zifa basa-basi untuk menetralkan perasaannya yang tidak menentukan. Ia teringat dugaan Kemal dulu, kalau memang Abas adalah pelaku pemer-kosan Zara, kemungkinannya bisa istri Abas yang melakukan pembunuhannya. Karena Merasa Abas selingkuh dan tidak terima.
Namun, Zifa kembali berfikir bahwa bisa saja pelakunya bukan Lyra, dan Lyra tidak tahu tentang Zara yang hamil.
"Aku coba aja tanya kalau tidak dicoba untuk bertanya mana bisa aku tahu, siapa tahu justru Mba Lyra bisa membantu aku mengungkap kasus ini kan," batin Zifa akan mencoba mencari tahu dari Zifa.
__ADS_1
"Ayo Fa ada apa kok malah bengong sih?" tanya Lyra mengagetkan Zifa.
"Ah... itu Mba apa Mba Lyra tahu bahwa dulu sekitar satu tahu yang lalu di rumah Kamal ada pekerjaan yang meninggal dunia?"