Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 21 》》 KENAPA HARUS KAMI ?


__ADS_3

Selesai dengan urusan perutnya dan pria kecilnya, Abimana melanjutkan perjalanan menuju rumah sahabat sekaligus calon kakak iparnya jika semuanya berjalan lancar. Arsheno bersenandung tak jelas mengikuti lagu yang diputar oleh sang ayah. Abimana tersenyum sambil sesekali mengusap lembut kepala putranya. Sesederhana itu kebahagiaan putranya hanya dengan membawanya bertemu dengan wanita yang baru dikenalnya namun mampu mengusik sisi yang selama ini tak pernah diperlihatkan oleh pria kecilnya.


Perlahan Abimana membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah sahabatnya. Abimana kemudian memarkir mobilnya dengan rapi sedangkan Arsheno langsung membuka pintu mobil dan berlari ke dalam rumah. Anak itu benar-benar sudah menganggap rumah sendiri.


"Assalamualaikum nek, mama mana ?" Arsheno tak lupa memberi salam dan bertanya dengan tak sabar. Mama Sherly tersenyum sambil menggeleng-gelengkan kepalanya melihat tingkah laku anak kecil yang menggemaskan.


Tak lama kemudian Abimana menyusul putranya dengan langkah tegas namun terlihat sangat tenang. Hal yang membuat mama Sherly yakin menerima pria tersebut sebagai menantunya karena sikap terangnya walaupun terkesan dingin.


"Assalamualaikum ma," Abimana mencium punggung tangan mama Sherly sedangkan Arsheno sudah menghilang hanya suara teriakannya memanggil Arditha yang terdengar dari lantai dua.


"Waalaikumsalam nak Abi, mari masuk," Mama Sherly memberi jalan pada Abimana agar bisa masuk ke dalam rumah.


Setelah Abimana masul dan duduk, mama Sherly bergegas ke dapur menyiapkan minum dan cemilan untuk kedua tamunya. Mama Sherly tak mempekerjakan ART walaupun Kenan memaksanya. Rumah yang tak begitu besar dan anak-anak yang sudah dewasa sama sekali tak memerlukan seorang asisten rumah tangga.


"Jadi gak enak ngerepotin mama," Abimana sangat sungkan pasalnya mereka baru dua kali bertemu. Dulu saat ia berkunjung, mama Sherly tak pernah ada di rumah.


"Cuma cemilan dan minum, kok. Oh ya nak Abi sama Sheno darimana ? Kok tiba-tiba mampir ?" Mama Sherly memang tipe ibu-ibu yang sangat gampang penasaran. Apalagi masih jam kantor seperti ini.


Baru saja Abimana mencari kalimat yang pas untuk menjelaskan pada calon mama mertuanya, tiba-tiba Arsheno berlari ke arah mereka sambil bertanya.


"Nek, mama kemana sih ? Tadi Sheno cari di kantor gak ada, disini pun gak ada, apa mama pergi karena gak sayang sama Sheno ?" Wajah tampan Arsheno berubah murung. Melihat hal itu Abimana langsung meraih putranya dan memeluknya. Setetes cairan bening berhasil lolos dari mata elangnya. Hati mama Sherly ikut terenyuh melihat adegan tersebut.


"Mama sedang mengurus sesuatu sama om Kenan, bentar lagi juga pulang, kok. Sheno dan ayah tunggu aja." Mama Sherly berusaha menghibur pria kecil itu. Meskipun ia sendiri tak tahu kapan kedua anaknya akan kembali.

__ADS_1


"Beneran nek ?" Dasar anak kecil, baru saja terlihat sedih kini kembali ceria dan melupakan kesedihannya. Mama Sherly tersenyum mengangguk sebagai jawaban.


"Tapi Sheno dan ayah harus makan cemilan dulu supaya gak bosan menunggu." Bujukan mama Sherly berhasil, tanpa disuruh kedua kalinya Arsheno sudah mengunyah kue brownies buatan mama Sherly.


"Hmm, kue nenek enak banget, coba deh ayah cicipi." Arsheno menyuap Abimana dan sang ayah pun menerima suapan putranya dengan suka cita. Sungguh pemandangan yang sangat membahagiakan melihat keakraban keduanya.


Saat mama Sherly dan kedua tamu dadakannya sedang berbincang-bincang sambil menikmati kudapan yang tersaji, dari arah jalan terlihat sebuah mobil berbalik memasuki halaman rumah mama Sherly.


"Bang, kenapa mobil duda itu ada disini ?!" Arditha menatap Kenan dengan gelisah. Gadis itu belum siap untuk bertemu pria yang sudah berani mempermainkannya.


"Santai aja dek, jangan menghindar. Toh nanti kalian akan bertemu setiap hari. Jadi mulai satu ini kamu harus membiasakan diri." Perlahan Kenan memarkir mobilnya tepat di samping mobil Abimana.


Keduanya lalu turun secara bersamaan. Dengan langkah berat, Arditha mengayunkan kakinya menuju pintu rumah. Semakin dekat semakin terdengar dengan jelas tawa anak kecil dan seorang pria yang bisa dipastikan bahwa suara itu milik Abimana.


Melihat adiknya yang seolah enggan mmpemasuki rumahnya, Kenan langsung menggandeng bahu sang adik dengan lembut.


"Mamaaaaa !!" Teriakan Arsheno mengalihkan pandangan Abimana dan mama Sherly. Detik berikutnya Abimana membuang pandangannya saat Arditha membalas tatapannya dengan tajam. Aura permusuhan sengaja diperlihatkan oleh gadis itu.


"Hei, adik kecil kok datang gak bilang-bilang ?" Arditha tersenyum manis sembari memeluk Arsheno.


"Kapan sih mama tinggal bareng kami ? Pasti adek Ilha senang kalau mama bersama kami." Ucapan polos Arsheno berhasil membuat Arditha membelalak.


"Kayaknya kakak lebih senang tinggal di sini," Arditha berkata jujur tanpa memperhatikan perubahan wajah pria kecil dalam pelukannya.

__ADS_1


Abimana melemparkan tatapan tajam pada Arditha namun gadis itu hanya membalasnya dengan sinis hingga isak kecil menyadarkannya. Arditha segera mengurai pelukannya dan menatap pria kecil itu.


"Laki-laki gak boleh cengeng, ada apa sih kok tiba-tiba nangis ?" Arditha menatap lembut namun sekaligus heran pada pria kecil itu. Pasalnya ia tak merasa melakukan atau mengucapkan sesuatu yang bisa membuat seorang anak kecil menangis.


"Ma, aku sama adek Ilha anak baik kok, gak nakal dan penurut tapi kenapa mama gak mau tinggal bareng kami ?" Arditha menepuk jidatnya mengetahui penyebab pria kecil itu menangis.


"Aduuh gimana ya ngejelasinnya," Arditha menggaruk kepalanya yang tak gatal. Ia kebingungan menjelaskan pada pria kecil itu. Arditha belum pernah sama sekali intens berbicara dengan anak kecil seperti sekarang ini.


"Bang, ma, tolong jelasin dong," Arditha kini menatap abang dan mamanya bergantian berharap keduanya mau menolong dirinya.


"Yeee ,,, kenapa harus kami. Kalian berdua kan orang tuanya, tugas kalian berdua memberikan penjelasan agar Arsheno mengerti," Dengan santainya Kenan menolak permintaan sang adik. Pria itu berpikir bahwa inilah saatnya mereka berdua harus belajar memberikan penjelasan pada anak mereka layaknya sebuah keluarga.


Arditha terpaksa menatap Abimana meminta pertolongan. Pria dingin itu adalah ayahnya dan tentu saja hanya dia yang bisa berbicara dengan bahasa khas anak kecil.


"Sini duduk dekat ayah. Gini ya boy, mama belum bisa kita ajak tinggal bersama karena ayah belum menikahinya yang artinya hubungan kami belum sah." Abimana berbicara layaknya orang dewasa dan dimengerti oleh pria kecilnya.perlahan itu. Tentu saja Arditha menganga tak percaya mendengar cara Abimana berbicara seolah yang dihadapannya adalah orang dewasa.


"Ya sudah, tapi secepatnya ayah harus menikah. Sheno pingin tidur sambil dipeluk sama mama. Nanti kalau mama tinggal bareng kita berarti Sheno dan adek Ilha tidur bareng mama setiap malam." Arsheno terlihat sangat antusias saat menyampaikan keinginannya.


"Tentu saja adik kecil, kakak akan sangat senang tidur dengan kalian berdua," Arditha tak kalah senang dengan rencana calon anak sambungnya.


Mendengar pembicaraan anak dan calon istrinya membuat Abimana sedikit merasa kesal. Ingat ya hanya sedikit.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Maaf ya readers upnya telat


Selamat malam dan selamat membaca semoga terhibur


__ADS_2