
"Gak ada istilah aku atau kamu tidur di sofa. Kita suami istri yang sah dan tak boleh ada drama malam ini. Aku capek lahir batin seharian menghadapi kamu." Abimana tak akan membiarkan Arditha bertindak seenaknya.
"Tapi pak, aku gak biasa tidur dengan pria asing." Arditha mulai tak nyaman dengan keadaannya saat ini. Matanya mulai berkaca-kaca namun Abimana malah dengan santainya berbaring ditempat tidurnya.
Arditha hanya bisa menatap datar pria yang kini telah mulai menapaki dunia alam bawah sadarnya. Gadis itu terus memperhatikan wajah tampan yang terlihat tenang dan enak dipandang kala tidur.
Malam semakin larut namun tak sedikitpun Arditha merasakan ngantuk. Perlahan ia mengambil ponselnya dan mulai mencari kontak sang kekasih, manatau saat ngobrol dengan kekasihnya itu rasa kantuk sudi menyapanya. Namun belum juga niatnya terlaksana tiba-tiba Abimana membuka mata dan menatap tajam Arditha yang sedang fokus pada ponselnya.
"Wanita yang baik tak akan memegang ponsel tengah malam gini," Abimana meraih ponsel Arditha dan menatap layarnya yang masih menyala.
"Gak sopan banget, balikin ponselku !" Arditha tak terima dengan perlakuan sewenang-wenang pria yang pagi tadi telah menikahinya.
"Hapus kontak pria ini ! Aku gak mau ada skandal dalam pernikahanku !" Abimana duduk menghadap Arditha dengan wajah memerah.
"Gak akan !! Aku mencintainya dan akan selamanya seperti itu. Tolong hargai cinta kami seperti aku menghargai cintamu pada mendiang istrimu. Jangan egois, sudah cukup kalian merampas kebebasanku, jangan lagi merampas cintaku." Arditha tak akan pernah mengalah untuk hal yang satu ini.
"Kalau gitu, aku akan menyita ponselmu hingga kamu mengerti dan menerima kenyataan jika kamu adalah seseorang yang sudah menikah." Abimana benar-benar tak ingin memberi celah pada Arditha untuk mengendalikan keadaan.
Arditha hanya mengedikkan bahu acuh melihat kelakuan Abimana yang terlalu otoriter menurutnya. Ia memilih keluar kamar meninggalkan Abimana seorang diri. Setelah menutup pintu kamar, Arditha mengendap-endap ke kamar Kenan. Ia berharap abangnya itu tak mengunci pintu kamarnya seperti biasa. Sofa yang berada dikamar Kenan menjadi tujuan utamanya. Sofa yang lumayan besar dan empuk lebih menjanjikan daripada berbagi tempat tidur dengan duda gatal itu.
Senyuman manis dan lebar selebar-lebarnya seketika menghiasi bibir tipis milik gadis itu kala mencoba membuka pintu kamar sang abang. Jam sudah menunjukkan pukul 01.15, Kenan sudah tertidur pulas karena besok adalah hari kerja. Tanpa membuang-buang waktu lagi, Arditha membaringkan tubuhnya dengan nyaman di sofa lalu dengan mudahnya ia menjelajahi dunia mimpi.
Adzan subuh membangunkan Kenan dan seksi rumah kecuali Arditha tentunya. Gadis itu terlalu asyik dengan dunia mimpinya sehingga tak terusik sedikitpun dengan suara adzan yang berkumandang. Bukan main terkejutnya Kenan saat menyalakan lampu dan melihat adiknya sedang tertidur pulas di sofa kamarnya.
__ADS_1
"Astaga anak ini," Kenan bergumam seraya masuk ke kamar mandi untuk mandi dan berjudul sebelum shalat subuh.
Kenan tak ingin terlambat melakukan shalat subuh sehingga untuk sementara ia mengabaikan keberadaan Arditha di kamarnya.
Sementara di kamar sebelah, Abimana kelabakan melihat Arditha ternyata tidak kembali ke kamar. Entah dimana gadis itu saat ini. Sama dengan Kenan yang tak ingin ketinggalan shalat subuh, Abimana pun untuk sementara mengabaikan hilangnya sang istri dari kamarnya.
"Dia tidak mungkin menghilang begitu saja, gadis itu pasti tidur di dalam satu kamar di rumah ini," Abimana bermonolog seraya melakukan ritual sebelum shalat subuh.
Karena letak mesjid jauh dari rumah dan tak ada mushalla di rumah tersebut maka para penghuni rumah melaksanakan shalat subuh di kamar masing-masing. Kecuali Arditha tentunya.
Selesai shalat subuh, Abimana segera keluar kamar dan mengetuk kamar sahabatnya yang tepat bersebelahan dengan kamar yang ia tempati. Tujuannya adalah ingin memberitahukan Arditha yang entah tidur di kamar mana. Tak mungkin ia memeriksa setiap kamar di rumah itu.
Tok tok tok
"Ken ,,, oh astaga ternyata dia tidur disini," Abimana menatap sahabatnya, entah harus gembira atau kesal melihat gadis yang meninggalkannya semalam.
"Pindahkan dia ke kamar kalian sebelum mama keluar kamar,"
"Tapi gimana kalau dia terbangun dan mengamuk. Semalam saja dia gak mau tidur bareng aku," Abimana tak ingin diamuk oleh Arditha yang sama sekali ia belum bisa menebak isi kepala istri barunya itu.
"Istrimu ini ngebo kalau tidur. Gempa sekalipun gak akan mengusik tidurnya jika bukan keinginannya sendiri untuk bangun." Kenan terkekeh melihat wajah bingung adik iparnya itu.
"Gak usahlah, tunggu aja dia bangun sendiri," Abimana tak mungkin menggendong Arditha. Terlalu dini baginya untuk adegan yang seperti itu.
__ADS_1
Kenan hanya mengedikkan bahunya kemudian melipat sejadahnya dan menaruhnya ditempat biasanya. Abimana lalu duduk dibikin tempat tidur, ia ingin membicarakan tentang hubungan Arditha dengan seorang pria.
"Aku ingin bicara sesuatu denganmu tapi ini antara kita berdua," Abimana mulai membuka percakapan.
"Kalau gitu kita bicara di ruang kerja aja, lambat sedikit ke kantor gak apa-apa kan," Kenan mendahului Abimana keluar dari kamarnya. Ia bisa menebak masalah yang akan dibicarakan oleh sahabatnya itu dan ia tak bisa menjamin Arditha tak akan mendengar pembicaraan mereka. Gadis itu terlalu banyak akal dan Kenan tak ingin mengambil resiko.
Kedua pria tampan itu menuruni anak tangga satu per satu kemudian keduanya melanjutkan langkahnya menuju sebuah ruangan yang tak terlalu besar sangat nyaman dan lega ketika berada di dalam ruangan tersebut. Tampak foto keluarga Kenan terpajang dan foto Arditha dengan berbagai momen. Abimana tertegun pada dua foto Arditha yang tersenyum bahagia.
"Gak usah menatap fotonya, tatap saja orangnya langsung," Kenan sengaja menggoda Abimana yang seolah tak ingin mengalihkan tatapannya pada foto Arditha.
"Kamu percaya gak dengan mitos jika setiap orang itu dilahirkan dengan memiliki kembaran tujuh di dunia ini ?" Abimana masih terus menatap foto Arditha.
"Jangan menyamakan Arditha dengan mendiang istrimu jika tak ingin kehidupan pernikahan kalian hancur. Aku akui mereka memang mirip tapi hanya jika mereka tersenyum dan bentuk wajahnya saja." Kenan tak ingin Abimana hidup dalam bayang-bayang masa lalunya sehingga adiknya yang akan menjadi korban.
"Beri aku waktu untuk menghilangkan Sheila dari hatiku," Abimana masih menatap wajah cantik Arditha.
"Menghilangkan Sheila dari dalam hatimu pasti tak bisa, Bi. Kalian memiliki dua buah hati tanda cinta kalian. Aku hanya meminta tempatkan Sheila ditempat yang seharusnya dan berikan pula tempat yang layak untuk adikku," Kenan sangat memahami kondisi hati Abimana saat ini. Walaupun ia belum pernah mengalaminya namun sebagai laki-laki jika berada pada posisi Abimana maka ia pun pasti akan seperti Abimana saat ini.
Mendengar ucapan Kenan membuat Abimana mengalihkan tatapannya pada sang sahabat. Jika saja Kenan bukan sahabatnya pasti pria itu tak akan pernah membiarkan adik kesayangannya menikah dengannya yang hingga saat ini masih memiliki cinta yang sangat besar untuk mendiang istrinya.
🌷🌷🌷🌷🌷
^^^Penghujung Tahun,^^^
__ADS_1
^^^Makassar 31 Desember 2022^^^