Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 27 》》DASAR DUDA GATAL


__ADS_3

Kini Arditha terdampar di sebuah swalayan yang menyediakan kopi. Untuk menenangkan isi kepalanya ia memilih mampir sekedar menikmati kopi dan sekaligus nongkrong melihat kendaraan yang lalu lalang.


Terlebih dahulu Arditha berkeliling membeli kebutuhan khusus wanita karena persediaannya sudah habis. Setelah itu ia duduk dengan santai menikmati kopi hitam kesukaannya. Beberapa pria iseng menggoda namun tak satupun digubris oleh gadis itu. Ia tetap asyik dengan dirinya sendiri. Masalah hidupnya akhir-akhir ini sudah banyak , tak mungkin ia akan menambah masalahnya dengan membalas godaan pria tak dikenal tersebut.


Drrrrttttt drrrrttttt


Keasyikannya terusik saat ponselnya berbunyi menampilkan ID pemanggil sang abang kesayangan. Dengan setengah hati, Arditha menjawab panggilan sang abang.


"Assalamualaikum bang," Dengan nada malas Arditha mengucap salam seperti biasa.


"Waalaikumsalam, kamu dimana dek ? Cepat pulang sebelum mama bangun," Terdengar nada khawatir oleh Kenan. Pria itu terlalu sayang pada adiknya sehingga tak ingin sang adik kena marah oleh mama mereka padahal Arditha biasa aja kalau mama Sherly marah-marah.


"Biarkan aku menikmati hidupku sebentar, bang. Nanti juga aku pulang kok," Arditha tak bersemangat dari tempatnya duduk, sebuah kendaraan yang sangat ia kenal melintas di depannya dan sedikit menarik perhatiannya.


"Kamu gak mau kan penyakit mama kumat lagi," Kata-kata pamungkas Kenan terpaksa dikeluarkan. Arditha sangat takut jika penyakit jantung mamanya kumat seperti beberapa tahun yang lalu.


Meski dengan setengah hati namun Arditha tetap masuk ke dalam mobilnya dan kembali pulang ke rumah. Maksud hati ingin menikmati indahnya sore akan tetapi lagi-lagi ia harus kecewa dan mengalah.


Saat mobil Arditha memasuki halaman rumah, sang abang sudah berdiri seorang diri menunggunya di teras dengan tangan bersedekap. Dengan santai sambil menjinjing belanjaannya, Arditha berjalan kearah abang kesayangannya.


"Gak usah beri salam ! Darimana aja kamu ?" Datar dan dingin nada suara sang abang namun bukan Arditha namanya jika akan gentar hanya dengan nada suara seperti itu.


"Beli perlengkapan bulanan, bang. Jangan selalu berprasangka buruk padaku." Jika nada suara Kenan datar plus dingin maka Arditha membalasnya dengan acuh dan cuek.


"Tadi katanya menikmati hidup, jangan suka bicara asal apalagi bicara dua kali. Gak baik. "


Tanpa sengaja Arditha melihat bayangan Abimana duduk di ruang tamu yang tak jauh dari mereka. Sebuah ide cemerlang mampir di kepala Arditha. Kapan lagi ada kesempatan seperti ini, pikirnya.


"Oh yang itu, duduk manis menikmati secangkir kopi sambil melihat pria muda dan tampan berseliweran di depan mata, bukankah itu namanya menikmati hidup ?" Arditha sengaja memasang senyum lebar.

__ADS_1


"Sudahi main-mainnya dek, sekarang statusmu sudah berbeda jangan bikin malu keluarga,". Kenan memutar tubuhnya meninggalkan Arditha yang tak pernah akan kehabisan kata-kata.


Kenan tak ingin berdebat di depan sahabat sekaligus adik iparnya itu. Ia tahu jika terus-terusan berbicara dengan Arditha maka Abimana pasti akan tersinggung dan Kenan tak ingin hal itu terjadi. Baru beberapa jam mereka menikah, sangat tidak baik jika ada perasaan yang terluka.


Melihat sang abang berjalan masuk dan bergabung dengan pria yang telah menikahinya pagi tadi, Arditha melirik meja yang tampak kosong tanpa minum ataupun cemilan. Gadis itu meletakkan belanjaannya begitu saja kemudian berjalan ke arah dapur. Ia tak boleh berlaku kejam dan tega pada pria tersebut.


"Silahkan dinikmati, " Arditha kembali dengan nampan yang berisi minuman dan cemilan sebagai permintaan maafnya.


"Gak ada racunnya kan, dek ?!" Kenan sengaja menggoda Arditha yang ia tahu sedang berusaha meminta maaf dengan menyusahkan minuman sore.


"Kali ini gak ada bang, nantilah setelah aku dapat harta yang banyak karena mengurus dua anak kecil dan kuliahku sudah kelar," Arditha pun sengaja membalas godaan sang abang.


Kebiasaan dua bersaudara itu saling menggoda dengan kata-kata yang terdengar sadis. Namun Abimana yang ikut mendengarnya justru menganggap serius. Abimana tampak tak berniat menyentuh teh yang sangat menggoda aromanya.


"Kenapa bapak gak minum tehnya ?!" Arditha menatap Abimana tak mengerti. Bukankah tadi pria itu meminta dibuatkan teh ?


"Berhati-hati itu perlu Ken, terkadang orang terdekat kitalah yang malah tiga berkhianat, " Abimana tak ingin mengambil resiko, waspada lebih baik daripada kecolongan.


"Ck, bapak jangan khawatir, mungkin hubungan kita memang saat ini menurut orang luar tergolong dekat namun apa yang kita jalani saat ini bukanlah seperti yang dipikirkan oleh orang luar bahkan orang tua kita sekalipun mungkin terkecoh akan tetapi tak ada yang lebih tahu yang sebenarnya selain kita berdua. Hubungan kita hanya sebatas MAJIKAN DAN PENGASUH, hanya sedikit di perhalus karena bapak menikahiku." Arditha terlihat santai saat berbicara namun percayalah hatinya menangis memikirkan kisah cintanya bersama sang kekasih hati.


Berbeda dengan Abimana yang mendengarnya, rahang pria itu mengeras tak terima dengan anggapan gadis itu. Memang benar ia menikahi Arditha karena kedua anaknya akan tetapi ia sama sekali tak pernah menganggap Arditha sebagai pengasuh kedua anaknya. Walaupun ia tak mencintai Arditha namun ia pun tak akan menceraikan gadis itu sampai kapan pun.


"Dek, jaga bicaramu. Abang tak mau lagi mendengar kata-kata itu keluar dari mulutmu. Tak ada kata majikan dan pengasuh dalam sebuah ikatan pernikahan." Kenan menandaskan dengan tegas.


"Tapi kenapa harus aku, bang. Diluar sana banyak gadis dan wanita yang ingin menikah dengannya. Apa salahku bang, hiks hiks hiks,".


Kenan menatap Abimana dengan perasaan yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Ia merasa telah gagal mendidik adiknya dengan baik.


"Sudahlah dek, semua sudah terjadi. Takdir kalian memang telah tertulis saat kelahiran kalian. Tak ada yang salah dalam hal ini karena sudah menjadi ketentuan Sang Penulis Takdir.

__ADS_1


Abimana menatap sendu gadis yang telah ia nikahi. Apa yang salah dengan dirinya, sejak pertama bertemu gadis ini sudah menolaknya mentah-mentah. Meskipun ia tak mencintai Arditha namun harga dirinya sebagai pria yang digandrungi oleh para wanita diluar sana tetap saja tak bisa menerimanya.


"Wah, rupanya kalian sudah pada ngumpul ?" Suara mama Sherly sontak membuat Arditha menghapus airmatanya dan berusaha tersenyum.


"Sore-sore gini kan emang enaknya kayak gini, ma." Arditha berpindah posisi duduk disamping Abimana agar sang mama bisa duduk dengan nyaman.


Kenan terkekeh melihat perubahan adik kesayangannya sementara Abimana menatap takjub pada Arditha. Padahal jangankan duduk di dekatnya menatapnya saja gadis itu enggan melakukannya.


"Gak usah bingung, semua hanya agar mama tak terbebas dengan pikiran yang aneh-aneh," Bisik Arditha pelan tepat ditelinga Abimana. Ia tak mungkin berbicara dengan suara keras di depan sang mama.


Jantung Abimana kembali berdetak kencang, bulu keduanya pun merinding merasakan napas Arditha di telinganya. Ia tak ingin kecepatan kontrol sehingga Abimana melingkarkan tangannya pada pinggang Arditha. Bukannya detak jantungnya mereda malah semakin menjadi-jadi. Arditha hanya diam membeku, berteriak marah-marah di depan mama Sherly bukanlah keputusan yang bijak.


Tangan Arditha mencubit sekeras-kerasnya tangan kekar yang memeluknya tanpa permisi. Abimana hanya tersenyum lebar menatap Arditha sedangkan Kenan yang tahu apa yang sebenarnya terjadi malah tertawa terpingkal-pingkal.


"Kamu kenapa, Ken ?" Mama Sherly menatap aneh putra sulungnya.


"Dia sedikit sinting ma, kelamaan jomblo pun lupa minum obat." Arditha menyarkas sang abang yang ia tahu sedang menertawainya.


Berulang kali Arditha berusaha melepaskan tangan dipinggangnya namun sekeras apapun ia berusaha justru tangan itu semakin mengeraskan pelukannya, hingga sebuah ide cemerlang yang tak mungkin tidak berhasil.


"Ma, aku buatkan minum ya," Arditha ingin berdiri namun ucapan sang mama menghentikannya.


"Gak usah sayang, biar mama yang bikin sendiri." Mama Sherly lalu berdiri dan berjalan kearah dapur.


Plaaakkkk


"Jangan gila !! Dasar duda gatal !!" Arditha memukul dan memaki pria yang hanya busa meringis kesakitan. Arditha kemudian meninggalkan Kenan dan Abimana tanpa merasa bersalah. Hanya kesal dan marah yang ia rasakan saat ini karena pria itu sudah melewati batasannya.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2