
"Lain kali kalau ngomong sama Sheno gak perlu pusing, ngomongnya biasa aja sama kayak berbicara dengan orang dewasa. Dia lebih mengerti daripada bahasa anak-anak." Abimana menjelaskan tentang putranya dengan panjang lebar tanpa menatap wajah Arditha.
Kenan menatap sahabatnya dengan takjub. Untuk pertama kalinya ia mendengar duda kutub itu berbicara panjang lebar setelah 4 tahun. Walaupun mereka tidak intens bertemu namun saat mereka berkumpul, Abimana sangat irit bicara dan itu menjadi perhatian Kenan.
"Ayah dan mama harus menikah secepatnya ,arena Sheno dan adek Ilha ingin secepatnya bersama mama," Arsheno menatap penuh harap ayah dan calon mamanya secara bergantian.
"Tanyakan mama aja ya, ayah sih siap setiap saat." Abimana mengusak lembut pucuk kepala putranya sambil tersenyum.
Mendengar ucapan Abimana membuat Arditha salah tingkah. Bagaimana bisa duda itu berterus terang di depan abang dan mamanya. Gadis itu ingin marah namun kemarahannya harus ia telan kembali karena saat ini mama Sherly sedang menatapnya dengan tajam.
"Mama bersedia kan menikah secepatnya ?" Dengan wajah polosnya Arsheno bertanya pada Arditha.
"Maaf adik kecil, menikah adalah urutan terakhir dalam kehidupan kakak dan untuk saat ini belum sempat kakak pikirkan." Arditha menandaskan dengan tegas, ia tak ingin anak kecil itu berharap banyak padanya.
"Dek, gak baik ngomong kayak gitu sama anak kecil, dia belum mengerti persoalan orang dewasa," Kenan menegur lembut gadis yang terdengar mematahkan harapan pria kecil itu.
Arsheno memeluk ayahnya dengan wajah sedih. Meskipun pria kecil itu tidak mengerti secara keseluruhan kata-kata Arditha namun ujung kalimat gadis belia itu mematahkan harapannya. Melihat ekspresi putranya membuat perasaan Abimana kacau. Selama ini ia selalu menjaga perasaan pria kecilnya namun dengan seenaknya Arditha melukai perasaan putra sulungnya itu.
"Hei, jangan menangis dong, maksud mama bukan seperti itu." Abimana memberikan pelukan hangat nan menenangkan putranya.
"Karena kedua belah pihak pada dasarnya menyetujui hubungan kami, mungkin sebaiknya pernikahan kami dipercepat, kalau bisa sih besok pagi yang penting ijab qabul aja dulu sedangkan pestanya bisa menyusul. Apa kalian setuju ?" Abimana menatap mama Sherly dan Kenan bergantian.
__ADS_1
"Whaaatttt ?! Enak aja, aku gak mau !!!" Teriakan Arditha sontak mengagetkan semua orang. Emosi gadis itu benar-benar sudah sampai pada puncaknya. Duda dua anak itu benar-benar tak dapat dipercaya.
Dengan kesal Arditha meninggalkan ruang tamu dan menaiki tangga menuju kamarnya. Airmatanya tak mampu lagi ia kendalikan. Dengan kasar ia membuka pintu kamar dan menutupnya dengan membantingnya hingga kedengaran sampai ke bawah.
"Ayah, mama gak marah kan sama kita ?" Wajah polos Arsheno menyiratkan kekhawatiran khas anak kecil.
"Enggak sayang, mama hanya malu akan segera menikah sama ayah," Mama Sherly berhasil memilih kata yang menenangkan pria kecil itu. Sedewasa-dewasanya Arsheno namun ia tetaplah seorang anak kecil yang ada kalanya akan mempercayai kata yang terdengar manis di telinganya.
"Jangan gegabah mengambil keputusan Bi, pikirkan baik-baik. Kalian hanya bertemu beberapa kali. Bukankah sebaiknya kalian kembali pada pembicaraan awal yang telah kalian sepakati sebelumnya ?" Bukannya Kenan tak setuju jika pernikahan adik dan sahabatnya dipercepat, hanya saja ia mengkhawatirkan kehidupan keduanya setelah pernikahan. Arditha adalah gadis keras kepala yang banyak akal bahkan dirinya saja selalu menjadi korban akal bulus gadis itu.
"Jangan khawatir bro, sahabatku ini bukan yang kamu kenal 4 tahun lalu. Aku hanya meminta doa restumu sebagai wali Arditha dan doa restu mama sebagai seorang ibu yang melahirkan calon istriku. " Abimana berusaha meyakinkan keduanya walaupun jauh di dalam lubuk hatinya dipenuhi dengan keraguan. Demi kedua anaknya Abimana berani mengambil resiko.
"Tentu saja aku sangat yakin. " Abimana membalas tatapan Kenan sehingga berhasil meyakinkan Kenan dan mama Sherly.
"Gimana menurut mama ?" Kenan mengalihkan tatapannya pada sang mama. Bagaimanapun mama Sherly penentu keputusan.
"Mama sih setuju aja," Cara mama Sherly memberikan persetujuan dengan santai dan xeolah semuanya baik-baik saja membuat Kenan menarik napas dalam-dalam. Sedangkan Abimana tersenyum lebar menatap anak tangga yang baru saja dilewati oleh calon istrinya.
Tak ada lagi yang busa diperbuat oleh Kenan untuk mengulur pernikahan adiknya karena sang ratu sudah memberikan persetujuan. Kenan tak mungkin mendekat mamanya di depan Abimana. Ia tak ingin membuat sahabatnya salah paham terhadapnya.
"Sebelum kami pamit, boleh gak aku bicara empat mata sama Arditha ?!"
__ADS_1
"Jangan memperkeruh keadaan, Bi. Saatt ini Arditha tidak dalam keadaan yang bisa diajak berbicara. Lebih baik kamu pulang membicarakan segala sesuatunya dengan om dan tante," Kenan langsung menolak keinginan Abimana untuk bertemu dengan Arditha. Ia tak ingin adiknya salah bicara dan menyinggung perasaan sahabatnya itu. Bagaimanapun kelak mereka akan hidup bersama sebagai suami dan istri.
"Baiklah kami permisi. Assalamualaikum," Abimana mencium punggung tangan mama Sherly diikuti oleh Arsheno kemudian memeluk Kenan secara singkat sedangkan Arsheno mencium punggung tangannya.
Abimana menggendong Arsheno keluar dari rumah yang keesokan harinya akan ia datangi sebagai seorang mempelai. Entah mengapa duda itu merasa langkahnya sangat ringan saat keluar dari rumah tersebut. Ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya yang ia sendiri tak busa mengabarkan dengan kata-kata.
Tanpa ayah dan anak itu sadari, sepasang mata bening menatap keduanya dari balik jendela dengan kekesalan yqng teramat sangat.
"Tunggu pembalasanku duda gila," Arditha bergumam dengan menggeretakkan giginya, Jangan lupakan tatapan sinis miliknya. Arditha belum mengetahui jika sang mama menyetujui ide calon suaminya itu.
Setelah mobil Abimana keluar dari halaman rumah mereka dan tak terlihat lagi bayangannya, Kenan membimbing sang mama agar duduk di kursi.
"Ma, kenapa memutuskan begitu saja hal terpenting dalam hidup Arditha ? Mama tahu sendiri kan semalam dia menangis seperti apa ? Dia sangat marah dan kecewa pada Abimana yang dinilainya tak memegang kata-katanya namun kini mamapun melakukan hal yang sama," Kenan benar-benar putus asa. Ia merasa kerja kerasnya meyakinkan Arditha kini hanya sia-sia belaka.
Belum juga Arditha 💯 % menerima kesalahan Abimana tapi duda itu kembali melakukan kesalahan dan sialnya sang mama turut andil didalamnya sebagai pengambilan keputusan. Ingin rasanya Kenan berteriak dan menangis histeris sebagai pelampiasan rasa frustasinya.
"Kenan mandi dulu ma," Kenan hanya ingin mandi dan menyiram kepalanya agar otaknya kembali fresh dan bisa diajak bekerjasama untuk menemukan solusi terbaik bagi adik kesayangannya. Sungguh Kenan sedang dalam dilema antara adik dan sahabat baiknya.
Setelah berada di dalam kamar, Kenan segera membuka bajunya dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Kepalanya serasa akan pecah memikirkan keputusan sang mama yang terkesan gegabah. Wajar saja jika Arditha merasa sang mama tak lagi menginginkannya berada di rumah mereka.
🌷🌷🌷🌷🌷
__ADS_1