
"Apa yang ingin kamu bicarakan ?" Kenan ingin segera mengetahui keluhan sahabatnya tentang adik satu-satunya yang ia miliki.
"Tentang Arditha dan hubungannya dengan seseorang," Abimana duduk di kursi depan meja kerja Kenan.
Kenan tersenyum menanggapi keluhan pria yang kemarin resmi menjadi anggota keluarganya. Ia harus bijak menanggapi keluhan sang adik ipar. Kenan mengakui jika perbuatan adiknya salah dan menyalahi aturan dalam kehidupan rumah tangga pun demikian halnya dalam agama.
"Lalu ?!" Kenan menatap sahabatnya sejenak sambil tersenyum.
"Dia adalah istriku dan akan sangat memalukan jika Arditha masih menjalin hubungan dengan pria yang entah siapa namanya." Abimana tak bisa menyembunyikan kemarahannya yang sejak semalam membuatnya tertidur dalam kekesalan.
"Tenang aja, aku mengenal adikku dengan baik. Dia pasti akan menjaga diri dan tak akan mempermalukan keluarga dan suaminya," Kenan berusaha tenang dan masih tersenyum menatap sahabatnya. Kenan bukannya mendukung kelakuan Arditha akan tetapi ia tak habis pikir dengan Abimana yang ternyata sangat egois.
"Jadi kamu mendukung hubungan terlarang mereka ?!" Abimana menatap kesal sahabatnya yang terlihat enteng saat berbicara.
"Bukan seperti itu, tapi hubungan mereka telah terjalin sebelum kamu menikahi Arditha tentu saja tak semudah itu menghilangkan perasaan diantara mereka berdua. Kamu saja hingga detik ini masih mencintai mendiang Sheila apalagi mereka yang masih hidup dan setiap hari bertemu," Ucapan Kenan membuat Abimana terdiam sejenak.
"Wajar jika aku mencintai Sheila karena kami memang suami istri tapi dalam kasus Arditha berbeda, seharusnya Arditha memutuskan hubungannya dengan pria itu sebelum menikah." Abimana tetap ngotot dengan pendapatnya sendiri.
"Berpikir jernihlah sedikit, apakah Arditha memiliki cukup waktu untuk memutuskan kekasihnya ? Sementara jarak waktu antara lamaran kedua orang tuamu dan keputusanmu untuk segera menikahi Arditha cukup untuk mereka bertemu dan berbicara ?" Kali ini Kenan sudah sedikit keras berbicara dengan sahabat sekaligus adik iparnya itu.
"Aku pikir Arditha dan kekasihnya itu gak perlu bertemu, cukup putuskan hubungan lewat ponsel saja. Selesai kan."
"Kalian berdua bicarakan dengan baik, aku gak bisa turut campur. Hanya saja jika kamu ingin semuanya baik-baik saja maka cobalah tempatkan dirimu pada posisi Arditha." Tandas Kenan kehabisan kata-kata menghadapi Abimana yang sangat keras kepala.
Kedua pria tampan itu akhirnya keluar dari ruang kerja tanpa adanya kesepakatan. Jam sudah menunjukkan pukul 06.45. Kenan bergegas kembali ke kamarnya berharap Arditha sudah bangun. Abimana pun mengikuti langkah Kenan menaiki anak tangga satu per satu. Rupanya harapan Kenan tinggallah harapan, Arditha masih tidur dengan nyenyak tanpa merasa terganggu saat Kenan sengaja menutup pintu dengan kasar.
Tak ingin Arditha mendapat omelan dari sang mama, Kenan langsung mengangkat Arditha kembali ke kamarnya. Perlahan ia meletakkan tubuh sang adik dikasih empuknya sementara Abimana sedang berada di kamar mandi.
__ADS_1
Bersamaan dengan Abimana keluar dari kamar mandi, Arditha pun membuka matanya. Sejenak ia menatap langit-langit kamarnya sambil berpikir, semalam ia tidur dikamar sang abang tapi kok busa bangunnya di kamar sendiri. Masih sibuk dengan pikirannya, Abimana tiba-tiba mengagetkannya.
"Cepat mandi, gak ada cuti nikah. Hari ini tetap masuk kantor." Abimana menyarkas Arditha tanpa ampun. Ia sendiri heran dengan dirinya yang selalu emosi saat melihat Arditha.
"Ck, siapa juga yang mau cuti. Kita itu bukan menikah sungguh !" Arditha meraih handuk dan baju yang akan ia pakai. Saat ini kamarnya memiliki penghuni lain sehingga ia tak bisa lagi sebebas dulu ketika masih sendiri.
Ucapan Arditha membuat Abimana tersinggung. Sejak awal ia sudah menegaskan jika pernikahan mereka bukan untuk dipermainkan, tapi rupanya gadis itu belum mengerti juga.
'Gadis itu benar-benar bebal,'. Batin Abimana mendelik tajam.
Dua puluh menit kemudian, Arditha keluar dari kamar mandi dengan pakaian rapi. Abimana pun tampak duduk dan sibuk ponsel ditangannya. Tanpa berniat menegur, Arditha duduk di depan meja riasnya dan mulai memoles wajahnya dengan make up natural seperti biasanya.
"Gak usah dandan habis-habisan, ingat kamu sudah menikah," Abimana menatap pantulan wajah Arditha sekilas. Ia tak berani menatap gadis itu berlama-lama.
Arditha tak menanggapi, ia memilih melanjutkan kegiatannya daripada menimpali ucapan tak penting pria itu. Lagipula dandanannya biasa aja bahkan sangat tipis sehingga terkesan natural. Dari segi mananya dikatakan dandan habis-habisan.
Selesai dengan urusannya didepan cermin, Arditha meraih ponsel yang sangat jarang ia gunakan karena ponsel sehari-harinya sedang di sita duda gila itu. Ia memutuskan untuk membawa ponsel yang khusus untuk bisnisnya. Kemarin ia tidak sempat memantau harga saham. Satu hari ia dirugikan oleh pria arogan itu karena ijab qabul dadakan.
"Iya, ada yang salah ?!" Nada suara Arditha sama sekali tak bersahabat. Abimana harus menerima keadaan yang ia ciptakan sendiri.
Memilih diam, Abimana mendahului Arditha menuruni anak tangga. Di meja makan sudah menunggu Kenan dan mama Sherly. Arditha dan Abimana duduk di kursi yang ada di depan Kenan. Mereka kemudian memulai sarapan tanpa banyak bicara. Arditha kali ini sangat berbeda, ia yang biasanya bercanda kini sangat irit bicara apalagi sam mama Sherly.
"Berangkat dulu ma, bang," Arditha mencium punggung tangan sang mama seperti biasanya. Abimana pun melakukan hal yang sama.
Arditha berjalan ke arah mobilnya begitupula dengan Kenan dan Abimana. Pria itu memutuskan untuk numpang di mobil Kenan karena papa Kuncoro tak meninggalkan mobil untuknya.
"Ken, aku ikut kamu aja ya," Abimana menyamai langkahnya dengan langkah kaki Kenan.
__ADS_1
"Kenapa gak sama Arditha aja, kalian kan satu kantor,"
"Gimana mau ikut sama dia, sementara orangnya sudah pergi," Wajah Abimana terlihat sangat memelas membuat Kenan akhirnya mengalah.
Abimana lalu masuk dan duduk di samping jok supir. Mama Sherly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kelakuan putri bungsunya.
Perlahan Kenan menginjak gas melarikan mobilnya menuju kantor Abimana. Arah kantor mereka berlawanan arah namun mau bagaimana lagi, Abimana saat ini tak memiliki kendaraan sementara Arditha pun seolah tak peduli dengan keadaan suaminya.
Arditha kini memasuki area perusahaan PT. Bhi_Lha dan langsung mengarahkan mobilnya ke parkiran. Setelah itu ia bergegas berjalan kearah lobby perusahaan sebelum bos perusahaan tiba. Jam sudah menunjukkan pukul 08.05. Sangat terlambat untuk ukuran perusahaan tersebut.
"Selamat pagi cantik, tumben telat, " Sapa Maya seperti hari-hari sebelumnya. Kedua gadis itu sudah sangat akrab walaupun beberapa hari lagi Arditha menyelesaikan magangnya.
"Ada sedikit insiden kecil, kak. Tapi tenang aja gak menimbulkan masalah besar, " Arditha terkekeh dengan alasan yang dibuat-buat.
"Syukurlah, bicaranya nanti aja takutnya bos tiba-tiba muncul," Maya berucap dengan pelan dan sambil menunduk seolah takut ketahuan.
"Emangnya bos belum datang ?!" Arditha pura-pura bertanya padahal ia tahu pasti jika bos perusahaan belum datang.
Tak lama kemudian terdengar langkah kaki tergesa-gesa memasuki lobby perusahaan dan berhenti sejenak di depan meja respsionis. Pria itu menatap tajam Arditha, yah dia adalah Abimana yang baru saja memasuki lobby perusahaan.
"Kamu, ikut ke ruangan saya !!" Titah Abimana dingin.
🌷🌷🌷🌷🌷
Dua bab cukup ya.
Selamat menikmati
__ADS_1
^^^Penghujung Tahun 2022^^^
^^^Makassar, 31 Desember 2022^^^