
Kedatangan kedua pria beda generan itu menarik perhatian oma dan opa yang sedang bermain bersama Arbilha. Pasalnya sejak siang mereka tak bisa di hubungi dan kini dengan santainya mereka memasuki rumah.
"Omaaa ,,," Arsheno menghambur kepelukan sang oma bagaikan tidak bertemu selama setahun.
"Cucu oma darimana aja sih ? Kok jam segini baru pulang sekolah, udah gitu pulangnya bareng ayah pula ?!" Oma Kalisha bertanya tanpa melepas pelukannya.
"Dari rumah mama, trus besok ayah akan menikah sama mama, jadi mama bisa tinggal bareng kita. Akhirnya Sheno dan adek Ilha punya mama." Mata Arsheno berbinar saat bercerita. Sedangkan sang ayah duduk tenang berhadap-hadxpan dengan opa Kuncoro.
"Sekarang Sheno mandi gih, nanti kumannya menyebar kemana-mana. Seharian Sheno diluar lho," Perlahan oma Kalisha melepas pelukan cucu kesayangannya sambil menatap tajam putranya meminta penjelasan.
Masih dengan mata berbinar, Arsheno berlari mencari pengasuhnya. Pria kecil itu benar-benar bahagia karena akan segera memiliki seorang ibu.
"Benar yang dikatakan oleh Sheno ?!" Kompak oma Kalisha dan opa Kuncoro bertanya. Keduanya tak akan percaya begitu saja dengan cerita sang cucu. Mungkin saja Abimana hanya ingin menghibur pria kecil itu.
Abimana menatap kedua orang tuanya secara bergantian dengan wajah serius seolah ingin mewakilkan mulutnya untuk membenarkn perkataan buah hatinya bersama mending istri tercintanya.
"Mama Sherly pun setuju, ma." Abimana menjawab tanpa ekspresi. Yang ia pikirkan hanya kebahagiaan kedua anaknya yang sangat mendambakan seorang ibu.
__ADS_1
"Kamu terlalu gegabah nak, tidak mengertikah kamu dengan ekspresi gadis itu saat kami melamarnya ? Apalagi saat kamu meminta pertunangan dan pernikahan yang sangat singkat menurutnya ?" Opa Kuncoro tetap bersikap tenang untuk menutupi rasa terkejut dan khawatirnya tentang kehidupan pernikahan putranya.
"Apa sejarah akan berulang ? Dimana kamu harus berusaha mati-matian mendapatkan cinta istrimu ?" Oma Kalisha benar-benar tak bisa mengerti jalan pikiran putra tunggalnya.
"Bedalah ma, kalau dulu aku menikah dan berjuang untuk mendapatkan hati Sheila karena memang aku mencintainya tapi kali ini pernikahanku berbeda ma. Tak ada yang bisa menggantikan Sheila dan cintanya dalam hatiku. Aku menikahi Arditha hanya karena kedua anakku." Abimana kembali menegaskan pada kedua orang tuanya. Ia tak ingin papa dan mamanya berharap terlalu banyak dalam pernikahan keduanya.
"Kamu pria yang sangat kejam !! Tahukah kamu arti pernikahan bagus emang gadis ?! Mama gak mau besok kita datang dengan tangan kosong !! Sekarang kamu ke toko perhiasan langganan mama belikan dua set perhiasan. Satu set berlian dan satu set intan. Mama mau yang edisi terbatas !!" Oma Kalisha benar-benar kesal dengan putra tunggalnya. Seandainya saja ia memiliki putra yang lain sudah pasti Abimana akan dibuatnya menderita hingga matipun enggan dan hidup pun tak ingin.
"Jangan terlalu heboh, ma. Biasa ajalah toh hanya ijab qabul yang penting sah." Ucapan Abimana berhasil membuat oma Kalisha mengeluarkan tanduknya.
"Itu saja masih kurang nak." Opa Kuncoro mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang yang diketahui adalah orang kepercayaan yang mengelola semua asset termasuk saham beliau pada beberapa perusahaan.
"Pa, gak sebanyak itu juga kali. " Abimana mendelik tajam tak terima mendengar sang papa memberikan saham segitu banyaknya pada gadis yang akan ia nikahi tanpa cinta.
"Diam kamu !! Ini adalah jaminan hidup menantuku kelak. Apa kamu gak memikirkan masa muda gadis itu yang akan dihabiskan hanya untuk menjadi ibu sambung anak-anakmu ?! Arditha begitu cantik dan mungkin saja saat ini sudah memiliki kekasih hati. Dan ini adalah sedikit pengikat sekaligus sebagai hadiah. Jika saja saat nanti ia tak tahan lqgi hidup bersamamu maka pasti akan pergi darimu dan anak-anakmu. Papa harap jika saat itu tiba Arditha busa memulai hidupnya kembali." Opa Kuncoro sengaja sedikit menyerang mental putra tunggalnya yang terlalu percaya diri.
"Pa !!!" Tanpa sadar Abimana berteriak tak terima dengan ucapan papanya. Memang benar yang dikatakan oleh papanya. Untuk itulah ia memutuskan untuk segera menikahi Arditha. Ia tak ingin Arsheno kehilangan wanita yang sudah diklaim sebagai mamanya.
__ADS_1
Oma Kalisha bersorak gembira dalam hati melihat ekspresi putranya. Ia berharap ekspresi spontan tersebut adalah awal runtuhnya benteng hati yang telah dibangun oleh duda kutub itu sejak kepergian Sheila, mendiang istrinya.
"Kenapa ? Ada yang salah dengan ucapan papa ?" Opa Kuncoro menatap sinis putranya. Pria paruh baya itu benar-benar dibuat kesal oleh keputusannya yang tiba-tiba dan tanpa persiapan.
"Sudah, sudah, gak usah debat. Mending kamu segera ke toko perhiasan, mama sudah kirim pesan. Kamu tinggal bayar dan ambil barangnya." Oma Kalisha benar-benar dibuat pusing tujuh keliling oleh Abimana. Besok pagi ijab qabulnya sementara belum ada persiapan apapun.
Tak ingin mendengar kata perintah kedua kalinya dari sang mama tersayang, Abimana segera beranjak menuju pintu utama sedangkan oma Kalisha sibuk dengan ponselnya mengirim pesan pada beberapa temannya yang menyediakan pernak pernik pernikahan. Tampak sesekali ia menelepon sementara opa Kuncoro menghubungi penghulu yang dulu menikahkan Abimana. Untung opa Kuncoro tidak menghapus kontak penghulu tersebut.
Sementara itu di rumah mama Sherly pun terlihat beberapa kesibukan yang dipandu oleh Kenan. Tampak beberapa karyawan sedang memindahkan kursi tamu dan menggelar karpet. Semua aktifitas hanya di dalam rumah. Arditha tak ingin para tetangga mengetahui pernikahannya. Mama Sherly dan pun akhirnya mengalah dan melakukan sesuai dengan permintaan gadis keras kepala itu.
Dilantai bawah semua sibuk sedangkan Arditha sibuk dengan dunia maya. Ia berselancar tanpa melihat waktu yang terus bergulir. Hingga ponselnya mati total. Arditha kemudian berjalan kearah meja rias untuk mencarger ponselnya sekalian mengambil ponselnya yang lain kemudian memutar lagu sambil berbaring.
Pertama kali dalam hidupnya ia menggunakan ponsel bisnisnya untuk keperluan pribadi. Selama ini ia hanya menggunakan ponsel tersebut untuk memantau harga saham. Sejak setahun yang lalu Arditha nekad memulai bisnis yang beresiko tinggi jika salah mengambil langkah.
Hingga gadis itu tanpa sadar tertidur dengan earphone masih menyumpal telinganya. Gadis yang sangat susah bangun pagi walaupun tidurnya tidak terlalu malam. Bisa ditebak apa yang akan terjadi keesokan harinya.
Jam sudah menunjukkan pukul 00.05 saat pekerjaan semua sudah selesai. Kenan meminta karyawan yang membantunya agar menginap saja, toh besok hari minggu dan tentu saja mereka tidak harus ke kantor. Setelah karyawan yang hanya beberapa orang masuk ke dalam kamar, Kenan pun segera ke lantai atas dimana kamarnya berada. Ia harus segera tidur agar besok bisa menyambut sahabatnya yang akan menjadi adik iparnya secara resmi.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷