Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 24 》》 AWAS KALAU NGEYEL


__ADS_3

Sebelum adzan subuh kembali berkumandang mama Sherly sudah terlebih dahulu membuka mata . Alarm yang sengaja ia pasang berbunyi tanpa henti. Meskipun acaranya sangat sederhana dan hanya dihadiri oleh keluarga calon menantunya bangun tetap saja pihaknya harus menyiapkan makan siang walaupun bukan dirinya yang masak melainkan memakai jasa Catering temannya.


Pun sama halnya dengan Kenan, pria tampan namun tetap jomblo diusianya yang sudah matang untuk menikah. Setelah shalat subuh Kenan langsung ke bawah mengurus beberapa hal sekaligus menemui para karyawannya yang pasti sudah bangun dan bersiap kembali ke rumah masing-masing.


"Jika pekerjaan kami sudah selesai, kami pamit dulu pak," Salah satu karyawan mewakili rekannya berbicara dengan bos mereka.


"Sarapan dulu pak Jamal, mamaku sudah menyiapkan serapan," Kenan memutar badannya kembali ke dapur menemui sang mama yang sedang berkumandang dengan alat masaknya.


"Eh Ken, karyawannya sudah pada bangun ?" Mama Sherly menatap putra sulungnya sejenak lalu kembali melanjutkan kegiatannya membuat nasi goreng.


"Sudah ma, mereka tadinya pamitan akan pulang tapi aku meminta agar sarapan dulu."


"Kamu memang putra terbaikku," Mama Sherly terkekeh melihat ekspresi wajah putranya yang mendengus kasar.


Seandainya Arditha yang mendengarnya pastilah gadis itu akan mengembalikan kata-kata sang mama namun Kenan bukanlah Arditha. Pria itu memilih lebih banyak diam ketika berbicara dengan wanita yang telah berjuang melahirkannya dan mengurusnya hingga saat ini.


Kenan lalu membantu mama Sherly menata sarapan diatas meja. Setelah siap, iapun keluar memanggil keempat karyawannya agar sarapan bersama.


"Kalian santai aja sarapannya anggap di rumah sendiri. Aku mengurus yang lain dulu," Kenan sengaja meninggalkan mereka agar para karyawannya tak merasa sungkan. Bagaimanapun baiknya Kenan pada mereka namun para karyawan itu pasti akan merasa segan pada atasannya.


"Ken, bangunkan adikmu. Jangan sampai keluarga nak Abi datang tapi Ditha belum siap." Mama Sherly memberikan titah sebelum ia masuk ke dalam kamarnya untuk membersihkan diri.


Mendengar perintah sang mama membuat wajah Kenan meringis samar. Pekerjaan yang paling ia hindari adalah membangunkan gadis itu. Jika dulu ia memiliki kata-kata pamungkas untuk membangunkan adiknya namun kini sepertinya kata-kata itu tak berlaku lagi.


Dengan langkah malas, Kenan menaiki anak tangga satu per satu sambil memutar otak mencari kata yang tepat agar Arditha bangun secara sukarela.

__ADS_1


Tok tok tok


"Dek, abang masuk ya." Kenan mengetuk dengan sedikit keras pintu kamar sang adik. Namun seperti prediksi sebelumnya, tak ada reaksi dari dalam kamar.


Perlahan Kenan mencoba membuka pintu kamar sang adik sembari berdoa agar pintu tersebut tidak terkunci. Dan sebuah senyum manis menghiasi bibirnya menghilangkan sedikit ringisannya. Rupanya gadis banyak akal itu lupa mengunci pintu kamarnya.


"Selamat pagi gadis ,,," Kenan membuka earphone yang terpasang di telinga Arditha namun si gadis tak juga bereaksi.


Kenan kemudian mengambil ponsel yang berada di dekat bantal Arditha. Alisnya mengernyit menatap ponsel yang baru kali ini dilihatnya.


'Sejak kapan Ditha punya ponsel ini ?' Kenan membatin sambil membolak balik ponsel tersebut.


Beberapa kali ia mencoba membuka ponsel tersebut namun passwordnya tidak cocok. Masih dengan rasa penasaran akhirnya Kenan meletakkan ponsel tersebut, tak ada waktu baginya untuk mengurus ponsel adiknya. Kenan kembali membangunkan sang adik sebelum mama menyusulnya. Bisa-bisa ia pun akan mendapatkan ceramah pagi dari mama tersayang.


"Dek bangun dong, bentar lagi Abi dan keluarganya akan datang lho. Jam 9 kalian akan menikah sekarang jam 07.15." Kenan berbicara persis di telinga sang adik namun gadis itu tetap betah di dunia mimpinya.


Tak ingin buang-buang waktu lagi, Kenan segera berbaring dengan posisi memeluk sang adik dengan erat dan benar saja belum beberapa saat Kenan memeluknya namun Arditha sudah berteriak kencang hingga suaranya terdengar oleh sang mama.


"Huaaaaa !!!!" Teriakan Arditha tak urung membuatnya Kenan terlonjak kaget hingga terjatuh dari tempat tidur.


Buuggg


"Awww ,,, kalau teriak kira-kira dong !! Gak perlu pakai dorongan juga kali !!" Kenan menatap adiknya dengan kesal sambil menahan sakit terjerembab di lantai, beruntung jatuhnya tidak pada posisi tengkurap.


"Bang Ke sih, ngagetin aja. Kebiasaan gak mau lihat orang tidur dengan tenang dan damai," Arditha benar-benar kesal karena kaget dan ternyata adalah perbuatan si abang kesayangannya.

__ADS_1


"Ada apa kalian ribut-ribut, cepetan mandi sudah hampir jam 8 lho," Mama Sherly mengingatkan lagi waktu yang terus bergulir.


"Apa ??!! Berarti aku bangunin gadis bantal ini selama tiga puluh menit ? Ck, kamu keterlaluan Dek, gak boleh seperti ini setelah kamu menikah." Kenan terperangah tak menyangka jika sang adik sangat susah dibupangunkan. Pantas saja setiap hari mamanya uring-uringan.


"Setelah mandi pakai baju ini ! Awas kalau ngeyel. " Mama Sherly meletakkan kebaya putih tulang berikut bawahannya yang berupa kain panjang yang sudah dijahit berbentuk sehingga langsung dipakai tanpa ribet.


Perlahan airmata Arditha menetes memikirkan pernikahannya yang mengenaskan. Setiap gadis memiliki impian pernikahan bak putri raja pun sama haknya dengan Arditha yang memiliki impian menikah dengan pria yang dicintai dan mencintainya. Namun impian hanyalah sebuah bunga tidur, kenyataan di depan mata tak sesuai dengan ekspektasinya. Menikah dengan orang yang sama sekali bukan kriterianya dan yang paling penting mereka tak saling mencintai.


"Kamu kenapa dek ?" Kenan rupanya belum meninggalkan kamar adik kesayangannya.


"Bisa gak sih, aku gak usah memakai baju ini. Toh hanya ijab qabul." Arditha mencoba bernegisiasi dengan sang abang.


Kenan tahu isi hati Arditha. Sesungguhnya ia pun sedikit kecewa dengan ide gila sahabatnya kemarin. Sebagai seorang abang, Kenan ingin menikahkan adiknya dengan sangat mewah sehingga Arditha akan mengingat momen yang sangat bersejarah dalam hidupnya.


"Gak bisa Dek, akan ada beberapa ritual yang mengharuskan kamu melakukannya bersama dengan Abimana."


"Tapi bang, ide ini kan duda itu yang menginginkannya maka dia yang harus melakukannya sendiri." Arditha masih berusaha menggoyahkan sang abang.


"Kali ini kamu nurut ya, jangan bikin malu mama sama abang." Kenan membelai lembut kepala sang adik sebelum akhirnya keluar dari kamar gadis itu.


Kenan tak tega melihat airmata sang adik yang disertai rengekan. Seandainya ia berada pada posisi sang adik, iapun akan melakukan hal yang sama atau bahkan mungkin lebih parah.


Masih dengan berlinangan airmata, Arditha berjalan ke arah kamar mandi. Di dalam kamar mandi, ia tak langsung melakukan ritual mandinya. Gadis itu menatap cermin yang memperlihatkan wajah yang terlihat tak bersemangat. Dalam hati Arditha menyesal tak mengikuti anjuran abangnya agar magang di perusahaan keluarga mereka. Maksud hati ingin merasakan sedikit tantangan dunia kerja namun siapa sangka berakhir sangat mengenaskan bahkan teramat mengenaskan bagi Arditha.


Lelah menatap wajahnya yang sama sekali tak enak dipandang, akhirnya Arditha memutuskan berendam agar bisa sedikit lebih fresh dan berpikir dengan jernih. Saat berendam, Arditha seolah terputus dengan dunia luar, ia sangat menikmati aromaterapi yang ia campurkan pada air berendamnya.

__ADS_1


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2