Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 39 》》 MAKSUDNYA ?!


__ADS_3

Arditha duduk dengan manis di ruang keluarga menunggu Abimana turun. Seharusnya sejak dua puluh menit yang lalu Arditha sudah berangkat namun ia teringat kata-kata pria itu semalam. Arditha akan berusaha untuk tidak berkonflik dengan Abimana.


Suara derap kaki terdengar menapaki anak tangga, Arditha melirik jam tangan yang melingkar pada pergelangan tangannya, jam sudah menunjukkan pukul 07.25. Fix ia sudah terlambat. Dengan wajah menahan kekesalan, Arditha menatap Abimana yang baru saja meninggalkan anak tangga terakhir. Hampir saja ia tertawa melihat penampakan Abimana yang seperti Zombi. Lingkaran mata hitam menandakan jika pria itu kurang tidur.


"Kenapa belum ke kantor ? Jangan katakan jika kamu akan ke kampus lagi !" Abimana memberikan tatapan tajam dibalik mata zombinya.


"Kenapa otak bapak suka sesuka hati menuduh orang ?! Bukankah semalam anda sendiri yang mengatakan jika aku gak boleh keluar rumah jika TUAN BESAR belum berangkat ?!" Arditha sengaja menekan kata TUAN BESAR saking emosinya.


Abimana tak lagi menimpali kata-kata Arditha. Dalam hati ia tersenyum puas karena gadis tu mulai mendengarnya walaupun masih terlihat setengah hati melakukannya. Baru saja Abimana mengisi piringnya dengan semangat akan tetapi detik berikutnya hatinya kembali memanas, pasalnya ekor matanya menangkap bayangan Arditha menjauh dan tak lama kemudian terdengar pintu mobil terbuka.


Pria itu hanya makan beberapa sendok saja dan langsung berangkat. Bi Lia hanya bisa menatap majikannya bingung. Sedangkan Arditha sudah berada ditengah kemacetan khas ibukota. Ia berkali-kali mengumpat kesal menyalahkan Abimana yang memiliki sifat terlalu kaku dan arogan.


Akhirnya Arditha tiba di kantor pada pukul 09.15, hari-hari terakhirnya magang tidak meninggalkan kesan baik. Datang terlambat dan kemarin malah tidak datang sama sekali. Sungguh citra yang buruk.


"Maaf kak, aku telat. " Arditha bergabung dengan Maya setelah melakukan absen kehadirannya.


"Iya gak apa-apa, tapi asal kamu tahu kemarin pak bos uring-uringan karena kamu bolos. Entah hari ini akan jadi apa kamu," Maya bercerita tanpa mengetahui hubungan antara Arditha dengan orang nomor satu di perusahaan.


"Kemarin aku ke kampus, kak. Oh ya kak, hari ini kan terakhir kami disini gimana kalau kak Maya makan bersama kami setelah jam pulang kantor ? Gak jauh-jquh kok kak, di depan perusahaan kan ada resto nah kita makan disana aja, gimana ?!" Arditha dan Maya tak menyadari jika presdir sudah berdiri didepan meja mereka.


"Kelakuan yang sangat buruk !! Sudah datang terlambat ngajak orang lain berpisah pula ! Kamu keruanganku sekarang !!" Suara Abimana mengagetkan keduanya. Wajah Maya terlihat pucat pasi sementara Arditha tampak biasa-biasa saja.


Maya dan Arditha berjalan beriringan menuju lift karyawan. Mereka tak ingin dibantah kedua kalinya.


"Ngapain kalian berdua meninggalkan pekerjaan kalian ?! Siapa yang akan menangani jika ada tamu ?!" Abimana mengurungkan niatnya memasuki lift dan menatap kedua gadis cantik itu.


"Sudahlah pak, jangan marah-marah melulu, orang pemarah usianya pendek. Tadi kan anda yng memanggil kami berdua, gimana sih pak." Dengan berangkat Arditha membalas Abimana sedangkan Maya sudah mulai gemetar. Maya tak ingin kehilangan pekerjaannya.

__ADS_1


"Yang aku maksud itu yang terlambat !" Pungkas Abimana tak mau kalah.


"Ck, bilang kek dari tadi."


"Kak Maya sayang, kembali aja ya." Arditha tersenyum pada Maya agar gadis itu merasa tenang. Ia tak ingin rekan kerjanya selama tiga bulan ini merasa khawatir.


Melihat wajah Arditha biasa saja bahkan tersenyum tanpa beban membuat Maya merasa lega. Walaupun Arditha hanya mahasiswa magang akan tetapi kehadiran gadis itu membuatnya merasa terhibur dan memiliki teman yang selalu membuatnya tertawa.


Arditha memasuki lift karyawan dan langsung menekan nomor dimana ruangan pria arogan itu berada.


Ting


Pintu Lift terbuka dan Arditha pun keluar dengan santai. Ia bertekad emosinya tak akan terpancing jika pria itu mulai memperlihatkan kekuasaannya. Bersamaan dengan Abimana pun keluar dari lift yang lain. Melihat hal itu Adam menatap keduanya bingung.


'Apa yang terjadi dengan pasangan Tom & Jerry ini ?' Batin Adam masih dengan tatapan bingungnya.


"Awas matanya kak Adam, nanti jatuh cinta lho," Arditha menggoda sekretaris Adam sambil terkikik geli melihat ekspresi pria lajang itu langsung berubah pucat.


Seolah belum puas dengan kelakuannya menggoda Adam, gadis itu bukannya mengikuti Abimana masuk ke dalam ruangannya. Arditha justru duduk di meja sang sekretaris.


"Astaga bu bos, jangan mempertaruhkan pekerjaanku dengan tingkahmu yang seperti itu. Pak bos orangnya sangat kaku, " Adam menatap penuh permohonan pada Arditha agar gadis itu segera menghentikan perbuatannya.


"Alaaahhh mas Adam gak asyik. Apa bedanya mas Adam dengan jalan tol muka datar itu, " Arditha malah meledek sekretaris Adam dan belum beranjak dari tempatnya.


"Ardithaaaa !!!" Teriakan Abimana menggelegar hingga suaranya terdengar jelas di telinga Adam dan Arditha.


"Aku masuk dulu mas Adam, toa mesjid sudah terdengar tuh, " Arditha terkekeh dengan ucapannya sendiri sedangkan sekretaris Adam hanya busa menggeleng-gelengkan kepalanya.

__ADS_1


'Semoga saja kehadiran Arditha bisa membuat pak bos berubah, ' Batin Adam penuh harap.


Ceklek


Arditha membuka pintu dan dengan santainya langsung duduk di sofa menunggu lata demi kata yang akan diucapkan pria itu. Entah itu sebuah perintah atau omelan, Arditha sudah menyiapkan mentalnya sedemikian rupa.


"Kenapa gak langsung masuk, malah mengganggu Ada bekerja,"Abimana menatap tajam pada Arditha.


"Pak, hal itu gak perlu dibahas, toh mas Adam juga gak merasa terganggu kok. " Arditha masih terlihat santai.


"Kenapa kamu meninggalkan rumah tanpa pamit !" Tatapan Abimana berubah kesal sedangkan Arditha hanya menarik napas panjang. Gadis itu tak habis pikir dengan pria yang sedang duduk dikursi kebesarannya itu.


"Pak, bahas yang lain aja, ya ?" Arditha berusaha setenang mungkin, ia tak ingin melanjutkan pembicaraan yang tak berguna itu.


"Maksudnya ?!" Abimana sama sekali tak mengerti ucapan Arditha. Ia memanggil istri belinya itu memang hanya ingin membahas tingkah Arditha yang kekanak-kanakan. Pergi begitu saja tanpa pamit.


"Jadi bapak memanggilku kesini hanya karena aku pergi tanpa pamit ?! Bukankah bapak sudah tahu tujuanku kemana ? Pak, jadi orang tuh jangan terlalu kaku, santai ajalah lagipula gak ada yang dirugikan juga, kan ?" Arditha terheran-heran dengan sikap manusia didepannya. Semua hal dijadikan persoalan besar. Ia tak busa membayangkan jika harus hidup selamanya dengan pria ini.


"Etikanya kan harusnya kamu pamit baik-baik, jangan seperti anak kos yang datang dan pergi sesuka hatinya." Sarkas Abimana kesal. Ia merasa disebelah dan tak dihargai oleh Arditha. Pria itu tak ingin jika hari-hari berikutnya Arditha selalu seenaknya.


Wajah Arditha memerah, ia tak ingin bertengkar dengan Abimana. Bagaimanapun juga gadis itu tak ingin sekretaris Adam mendengar pertengkaran mereka. Biarlah kekesalannya tersimpan dalam hati untuk sementara. Karena seandainya mereka di rumah sudah pasti Arditha akan melawannya dengan sengit.


Arditha bergegas meninggalkan ruangan Abimana sebelum airmatanya menetes karena menahan rasa kesalnya. Melihat hal itu Abimana semakin murka namun kehadiran Adam yang tiba-tiba masuk dengan setumpuk berkas membuatnya tetap duduk singgansananya.


"Maaf pak, ada beberapa berkas yang harus segera ditandatangani," Dengan pelan dan sopan Adam menyodorkan beberapa map, sedangkan map yang lainnya ia letakkan terpisah.


"Kamu sudah cek ulang, kan ?" Abimana mulai menggoreskan tanda tangannya. Ia sangat mempercayai sekretarisnya.

__ADS_1


"Sudah pak," Adam tetap berdiri menunggu berkas tersebut selesai ditandatangani agar ia bisa segera mengirimkan dan menyelesaikan sebagian pekerjaannya.


🌷🌷🌷🌷


__ADS_2