Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 36 》》 SEDANG BERSEMEDI


__ADS_3

Sebelum mentari pagi menampakkan diri secara sempurna, Arsheno dan Arbilha telah bangun terlebih dahulu namun keduanya sama sekali tak beranjak dari tempat tidurnya, kedua bocah itu memilih memeluk Arditha sembari kembali memejamkan matanya. Untuk pertama kalinya mereka merasakan tidur bersama seorang ibu.


Merasakan pelukan erat membuat Arditha merasa terusik. Perlahan ia membuka kelopak matanya dan tersenyum kala melihat dua tangan mungil memeluknya. Ada rasa hangat memenuhi rongga d**anya.


"Kalian gak sekolah ?!" Arditha mencium pucuk kepala keduanya secara bergantian. Dan kedua bocah itu kembali membuka matanya, Arditha terkekeh melihat wajah imut keduanya yang terlihat sangat lucu saat baru bangun. Arditha mulai terbiasa bangun pagi tanpa teriakan sang mama.


"Tapi mama yang antar kita sekolah, ya ,,," Mata Arsheno berbinar penuh harap menatap ibu sambungnya itu.


"Tapi kan kakak gak tahu sekolah kalian,"


"Jangan khawatir ma, masalah itu ada mbak Mina yang nungguin kita di sekolah," Arsheno dan Arbilha mulai mendudukkan diri diatas kasur empuknya.


"Tapi pulangnya kakak gak bisa jemput karena banyak yang harus diselesaikan di kampus," Arditha berterus terang sebelum mereka meminta dijemput olehnya. Sungguh Arditha tak kuasa menolak permintaan keduanya.


"Gak apa-apa tapi lain kali mama tungguin kami disekolah," Arsheno mencium pipi Arditha lalu beranjak ke kamar mandi, bersamaan dengan sebuah ketukan pelan di pintu.


Tok tok tok


Ceklek


Arditha bergegas berdiri dan berjalan ke arah pintu dan membukanya. pintu tersebut sebenarnya tidak terkunci namun Arditha pun tak mungkin berteriak pagi-pagi di rumah orang.


"Masuk aja mbak Mina," Arditha membuka lebar pintu kamar.


"Maaf Nona, saya akan membantu den Sheno dan non Ilha bersiap," Walaupun Arditha meminta wanita itu berlaku biasa saja padanya namun tetap saja mbak Mina berkata sesopan mungkin.


"Ok mbak, makasih ya, akupun harus siap-siap ke kampus, " Arditha tersenyum ramah dan berjalan dengan cepat menaiki anak tangga satu per satu. Beruntung kamarnya dirumah mama Sherly pun berada di lantai dua sehingga ia tak kewalahan naik turun tangga.

__ADS_1


Perlahan Arditha mendorong pintu kamarnya, takut pria itu terusik dari tidurnya. Namun detik berikutnya ia mengernyitkan dahinya bingung karena tak mendapati pria itu disana dan detik berikutnya ia tersenyum lega. Dengan tidak adanya pria itu di dalam kamar maka ia bisa mandi dan bersiap dengan bebas. Arditha lalu mengunci pintu kamarnya.


Sambil bersenandung kecil, Arditha berjalan kearah kamar mandi dan memulai ritualnya. Ia benar-benar menikmati mandinya kali ini.


Mengingat janjinya pada kedua bocah itu untuk mengantarnya sekolah, Arditha buru-buru menyelesaikan mandinya dan memakai baju lengkap sebelum keluar. Setelah mengikat rambut panjangnya dan memoles bedak serta sedikit liptint dibibirnya, ia lalu meraih tas punggung yang berisi proposal dan semua keperluannya kemudian keluar kamar. Bersamaan dengan Abimana yang keluar dari kamar yang terletak di depan kamarnya.


Walaupun hati Arditha mulai bertanya-tanya tentang kamar tersebut namun untuk saat ini ia tak ingin ikut campur yang bukan urusannya. Hubungan mereka saat ini hanya karena kedua bocah yang menggemaskan itu.


Arditha melewati Abimana begitu saja. Aroma sabun dan parfumnya menguar memenuhi rongga hidung pria itu. Seketika Abimana mematung aroma bunga yang sangat menenangkan. Gadis itu terus melangkah dan Abimana menatapnya dengan tatapan yang tak terbaca. Penampilan gadis itu terlihat sangat muda dan fresh.


Saat Arditha berada pada anak tangga terakhir, Arsheno dan Arbilha sudah duduk dengan rapi di kursi masing-masing siap untuk sarapan.


"Sudah siap sarapan ?!" Arditha menghampiri keduanya dengan senyum manis yang sangat disukai oleh kedua bocah tersebut.


"Ayah mana, ma ?" Arbilha memang sangat dekat dengan sang ayah sehingga jika Abimana berada di rumah, gadis kecil itu akan makan jika ayahnya pun makan.


"Jangan suka asal kalau ngomong sama anak-anak." Abimana berbicara sedikit keras sehingga mengagetkan Arditha.


Gadis itu lalu mengambilkan nasi goreng pada piring kedua bocah itu, lalu mengambil dua lembar roti tawar dan menolaknya dengan selai coklat untuk dirinya sendiri. Abimana mengerutkan alisnya melihat sarapan Arditha.


"Kenapa gak makan nasi goreng ? Apa itu mengenyangkan ?" Abimana tak dapat menahan diri untuk tak bertanya pada istrinya yang masih gadis.


"Sudah biasa kok, lagian untuk mendapatkan body yang bagus memang butuh pengorbanan." Arditha dengan cuek menggigit roti dan mengunyahnya sambil sesekali menyuapi Arbilha yang hanya akan makan jika disuap olehnya.


"Kamu tuh sudah menikah, buat apa memelihara body ? Jangan berpikiran aneh-aneh kamu !!" Lagi-lagi nada bicara Abimana terdengar dingin dan datar. Sebisa mungkin Arditha menahan agar emosinya tak terpancing.


"Kita berangkat yuk," Arditha mengajak kedua bocah itu agar segera meninggalkan meja makan.

__ADS_1


Tanpa disuruh, Arsheno dan Arbilha berdiri dan menghampiri ayah mereka kemudian salim seraya mencium punggung tangan sang ayah. Anak-anak yang manis dan sopan. Mbak Mina pun sudah bersiap sejak tadi.


Secuek apapun Arditha namun ia tak melupakan sopan santunnya pada yang lebih tua. Karena tak ada mama ataupun sang abang maka Arditha pun menghampiri Abimana yang masih duduk di kursinya dan tanpa kata-kata ia lalu meraih tangan Abimana dan melakukan seperti yang dilakukan oleh Arsheno dan Arbilha.


Sesaat Abimana terdiam mendapatkan perlakuan yang tak terduga dari gadis itu. Sebuah desiran aneh pria itu rasakan saat Arditha mencium punggung tangannya. Abimana sendiri bingung dengan keadaan dirinya yang dejavu.


Arditha kembali melenggang setelah mencium punggung tangan Abimana. Aroma parfumnya masih tertinggal walaupun orangnya sudah berada di dalam mobil.


"Mbak Mina penunjuk jalannya ya," Arditha mulai melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah.


"Baik Non, " Mbak Mina merasa canggung duduk berdampingan dengan Arditha yang walau bagaimanapun wanita muda itu adalah majikannya.


Sepanjang jalan menuju sekolah, Arsheno dan Arbilha tampak ceria dan bercerita dengan topik yang random dan cukup membuat Arditha kebingungan. Mereka bercerita tentang sekolah dan teman-temannya sementara Arditha sama sekali belum pernah melihat sekolah keduanya apalagi teman-teman yang ada dalam ceritanya. Arditha hanya bisa terkekeh jika tak tahu harus menimpali bagaimana. Hingga akhirnya mereka tiba di sebuah sekolah yang ternyata menyatu dengan tiap tingkatan sekolah, mulai Play group sampai Sekolah Menengah Atas.


"Kami sekolah dulu ya ma," Arsheno dan Arbilha mencium pipi Arditha secara bergantian.


"Hati-hati sayang, mbak Mina telepon aku kalau ada apa-apa ya,"


"Baik Non," Mbak Mina menundukkan kepalanya sedikit sebagai rasa hormat saat berbicara dengan Arditha.


Saat akan menjalankan mobilnya, ingatan Arditha kembali pada satu tahun yang lalu dimana ia hampir menabrak seorang anak kecil. Ia lalu teringat cerita keluarga Abimana tentang hal itu. Jalan ini memang selalu ia lewati saat akan ke kampus


'Astaga, berarti anak kecil itu adalah Arsheno ?' Arditha mengusap wajahnya kasar.


Ia tak menyangka jika panggilan mama saat itu akan berbuntut panjang dan membuat dirinya berada pada posisi seperti sekarang. Tak ingin terlambat tiba di kampus akhirnya Arditha kembali melajukan mobilnya menuju kampus.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2