
Alarm dari ponsel Arditha perlahan menyeretnya meninggalkan dunia mimpi. Melaksanakan kewajiban dua rakaat sudah menjadi rutinitasnya sebelum melakukan kegiatan yang lain. Setelah selesai, ia bergegas ke lantai bawah menemui kedua anak sambungnya. Hari ini ia harus ke kampus pagi-pagi dan tak sempat mengantar mereka ke sekolah.
"Shena dan Ilha sudah bangun, mbak ?" Arditha bertanya saat melihat mbak Mina keluar dari kamar anak-anak.
"Sudah non, tapi mereka masih betah di tempat tidurnya," Walaupun sedikit terkejut namun mbak Mina tetap menjawab dengan lancar.
"Biar aku aja yang urus mereka, mbak Mina bantu-bantu di dapur aja. Oh ya mbak, hari ini aku berangkat pagi-pagi jadi gak bisa nganter ataupun jemput mereka, minta tolong supir mama aja ya," Arditha lalu buru-buru masuk ke dalam kamar Arsheno sebelum mbak Mina bersuara.
Arditha tersenyum melihat kelakuan sepasang anak kecil yang kembali meringkuk dibawah selimut. Arditha mencari keberadaan remote AC dan langsung menekan tombol off.
"Ayo anak-anak, bangun dong. Kakak buru-buru nih," Arditha membuka selimut mereka satu per satu. Ia belum mandi dan berdandan. Hari ini adalah hari istimewanya dan ia tak boleh terlihat biasa saja.
"Masih terlalu pagi ma," Arsheno belum membuka matanya sama sekali.
"Pagi-pagi kakak ada urusan penting, sayang ,,, kakak gak boleh terlambat, ayo dong jangan jadi pemalas," Kata-kata Arditha berhasil membuat keduanya meninggalkan tempat tidur dengan sukarela.
Arsheno langsung menuju kamar mandi. Pria kecil itu tak ingin lagi dimandikan oleh mbak Mina ataupun Arditha karena mereka berbeda. Dasar anak kecil yang sok dewasa. Sedangkan Arbilha masih dimandikan oleh Arditha, gadis kecil, itu sangat manja pada ibu sambungnya.
Arbilha lalu berpakaian rapi dan rambutnya pun sudah diikat dengan rapi. Pun sama halnya dengan Arsheno yang sudah terlihat tampan dibalik seragam sekolahnya.
"Nah, sekarang kalian sarapan sama mbak Mina dan ke sekolahnya sama mbak Mina juga, ya. Hanya untuk hari ini saja." Arditha menatap dengan lembut kedua anak sambungnya itu.
"Emang mama mau kemana sih, pagi-pagi ?" Arbilha menatap Arditha penasaran khas anak kecil. Tatapannya menuntut jawaban dari Arditha.
"Hari ini adalah hari istimewanya kakak di kampus dan gak boleh telat." Arditha lalu berlari ke lantai atas. Jam sudah menunjukkan pukul 06.05 sementara mandi saja belum.
Sambil bergandengan tangan keduanya menemui mbak Mina sesuai dengan keinginan mama mereka. Melihat kedua anak asuhnya sejak bayi keluar kamar, mbak Mina segera menemui mereka.
"Mau sarapan ?" Mbak Mina menarik kursi untuk keduanya lalu mulai menyediakan nasi goreng ke piring masing-masing. Keduanya lalu sarapan tanpa bersuara.
Jam menunjukkan pukul 06.50 saat Arditha selesai bersiap. Ia hanya mengaplikasikan make up sedikit lebih cetar dari biasanya dan rambutnya di cepol hasil contekan dari youtube. Berikut ia mengenakan kebaya dengan warna pastel yang ia beli dari butik.
__ADS_1
"Cantik." Arditha bergumam memuji diri sendiri sebelum melenggang keluar kamarnya.
Sejenak ia menatap pintu kamar yang masih tertutup rapat sebelum akhirnya menuruni tangga. Arditha tak ingin merusak moodnya dihari bahagianya. Setelah berkutat dengan tugas kuliah akhirnya ia bisa menyelesaikan kuliahnya. Apalagi mereka berlima bisa wisuda bersama adalah hal yang sangat luar biasa menurutnya.
Arditha pun berniat memberitahukan sahabat-sahabatnya perihal pernikahannya dengan Abimana. Walaupun jauh di dalam lubuk hatinya Arditha belum yakin akan kelanjutan pernikahannya. Setidaknya mereka tidak kaget jika tiba-tiba aku menjadi janda, pikirnya dengan ringisan terletak jelas di wajah cantiknya.
Saat Arditha mulai menjalankan mobilnya sepasang mata elang menatapnya kesal dari balik jendela di lantai 2. Kali ini Abimana tak bisa lagi memberikan toleransi pada gadis itu. Setiap hari pergi pagi dan pulang sore bahkan terkadang malam hari. Ia tak tahu gadis itu kemana dan ada urusan apa. Berkali-kali ia menegurnya namum sepertinya Arditha semakin hari semakin menjadi-jadi.
Jalanan menuju kampus Arditha sudah mulai dipadati kendaraan dan semakin dekat semakin padat karena kendaraan para wisudawan dam wisudawati yang datang bersama keluarganya. Inilah yang dihindari oleh Arditha sehingga ia tak memberitahukan mamanya.
"Alhamdulillah, " Arditha bergumam dan tersenyum karena akhirnya tiba dan mendapatkan parkiran didalam area kampus.
Ternyata Kenan sudah tiba terlebih dahulu. Arditha melihat sang abang dari kejauhan dan langsung menghampirinya.
"Ayo masuk, bang." Arditha menggamit lengan abangnya dengan mesra.
"Kamu hampir telat lho, dek," Kenan memperlihatkan jam tangannya yang menunjukkan pukul 07.15.
Mendengar adiknya terkekeh, Kenan pun ikut tertawa bebas sehingga menarik perhatian beberapa kaum hawa yang berada di sekitar mereka. Tatapan iri mereka tujukan pada Arditha yang menggandeng mesra abangnya. Mereka adalah pasangan serasi bagi yang tak mengetahui hubungan mereka yang sebenarnya.
"Genit banget tuh si Ditha, pamer kebesaran dilangsungkan kampus," Cibir salah seorang mahasiswi yang mengenal Arditha.
"Iya, pantas saja si Pras memutuskannya," Timpal yang lainnya. Arditha maupun Kenan tak perduli dengan kata-kata yang tak bermutu dari para kaum penggibah.
Tak ada yang salah jika mereka saling bergandengan tangan. Sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi dan menjaga adiknya, perlakuannya wajar-wajar saja.
"Setelah acara, abang jangan langsung pulang ya, kita foto-foto dulu sebagai kenangan." Arditha tak melepaskan tangannya dari lengan Kenan. Mereka terus berjalan memasuki auditorium kampus.
Arditha lalu mengambil posisi berbasis bersama dengan para wisudawan dan wisudawati yang lain. Arditha mencari jurusannya yang ternyata Vanya sudah berada disana.
"Woii Didith ,,, sini," Vanya sedikit berteriak mengalahkan suara yang hiruk pikuk di dalam ruangan tersebut. Semua bersuara secara bersamaan jadi walaupun suara mereka pelan namun tetap seolah kita berada di sebuah pasar tradisional.
__ADS_1
"Aku bawa bang Kenan," Wajah Vanya seketika memerah mendengar nama yang Kenan disebut oleh sahabatnya.
"Gak usah malu, aku rela kok jadi mao comblang asalkan sesuai dengan bayarannya," Arditha berbisik sambil cengengesan. Kapan lagi ia bisa menggoda sahabatnya itu.
Acara menggoda Vanya terpaksa dihentikan Arditha. Suara MC memenuhi auditorium dan acara dimulai. Diam-diam Vanya memperhatikan Kenan yang tampak sangat tampan dengan bantuan setelan jas. Ia jatuh cinta pada pandangan pertama pada abang sahabatnya itu. Namun cintanya harus ia simpan dengan rapi karena Kenan sangat dingin dan tak tersentuh. Pria itu sepertinya tak berniat untuk memiliki kekasih.
"Bang Kenan memang sangat indah untuk dipandang, tampan dan dingin. Idaman para gadis tuh. Kalau saja dia bukan abangku, maka pasti akulah di barisan pertama berjuang untuk mendapatkan cintanya," Arditha menyadari jika Vanya lebih tertarik menatap abangnya daripada mendengarkan ocehan MC.
Wajah Vanya semakin memerah karena tertangkap basah menatap kagum bang Kenan. Acara pu terus berlangsung hingga akhirnya satu per satu wisudawan dan wisudawati yang berhasil lulus dengan nilai cumlaude dipanggil agar berada diatas pentas. Arditha pun berada dijejeran lulusan dengan nilai cumlaude.
Kenan tersenyum bahagia melihat pencapaian adik kesayangannya. Arditha membuktikan diri bukan hanya sebagai gadis yang banyak akal namun ternyata juga cerdas dalam akademiknya. Kenan mengambil foto Arditha dan dengan bangga memasangnya pada status whattshapnya dengan caption "Satu tahap telah terlewati dengan sangat indah, selamat adikku." Tak lupa emoticon 🥰🥰.
Akhirnya rangkaian acara selesai, Arditha menarik paksa sahabatnya dan menghampiri sang abang.
"Dith, jangan kayak gini ah, nanti bang Kenan mengira aku cewek murahan," Walaupun senang bisa berdekatan dengan pujaan hatinya namun Vanya juga masih memiliki harga diri dan inilah yang disukai oleh Arditha.
"Bang, kita ke depan foto bareng yuk," Arditha tak memperdulikan ucapan sahabatnya. Jika tidak sekarang mendekatkan mereka maka tak ada lagi kesempatan berikutnya. Ia dan Vanya pasti akan sibuk dengan urusan masing-masing.
Kedua gadis memanfaatkan kebersamaan mereka pun Arditha berusaha mendekatkan Kenan dan Vanya. Hingga pada akhirnya ponsel Kenan berdering dan pria itupun mengangkatnya.
"Halo Bi," Kenan sedikit menjauh dari keduanya.
"Ken, kamu dimana ? Apa kamu tahu Ditha kemana ? Sejak tadi aku menghubungi ponselnya namun tak dijawab." Terdengar suara Abimana tak biasa membuat Kenan mengerutkan alisnya. Baru kali ini Abimana meneleponnya dan menanyakan adiknya. Ada rasa bahagia sekaligus rasa penasaran dan khawatir.
"Ngomong yang jelas, Bi." Meskipun ada perasaan khawatir mendengar suara Abimana namun Kenan tak ingin berprasangka buruk.
Kenan ternganga tak percaya mendengar cerita Abimana. Hingga akhirnya Abimana mengakhir ceritanya namun Kenan hanya mendengarkan saja. Tak ada kata yang bisa ia ucapkan. Tak ingin membuang-buang waktu, Kenan segera menghampiri adiknya dan membiarkan sesuatu. Keduanya lalu bergegas ke tempat parkir.
"Vanya, tolong bawa mobilku sekalian kamu ikut dibelakang kami," Arditha melemparkan kunci mobilnya ke arah Vanya.
🌷🌷🌷🌷
__ADS_1
Kira-kira berita apa ya yang didengar oleh Kenan ?