Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 63 》》 HIDUPKU KACAU TANPAMU


__ADS_3

Jam menunjukkan pukul 19.15 saat Adam dan pak penghulu tiba. Baru saja Adam duduk, terdengar sebuah mobil memasuki halaman rumah mama Sherly. Rupanya papa Kuncoro bersama sang istri yang datang.


Sebagai nyonya rumah yang baik, mama Sherly menyambut besannya dengan hangat. Walaupun hubungan mereka pernah kurang baik lebih tepatnya mama Kalisha yang merasa bersalah karena perbuatan putranya. Namun kini papa Kuncoro dan mama Kalisha datang untuk menjadi saksi ijab qabul putranya. Pasangan suami istri itu tampak antusias.


"Silahkan masuk pak, bu," Mama Sherly mempersilahkan kedua tamunya masuk ke dalam ruang tamu dimana kursinya sengaja disingkirkan untuk acara ijab qabul.


"Terima kasih bu," Dengan canggung mama Kalisha menggandeng lengan papa Kuncoro memasuki rumah besannya. Mata mama Kalisha melirik kesana kemari mencarinya keberadaan Arditha. Setahun lebih mereka tak bertemu dan mama Kalisha ingin berbicara banyak pada menantunya itu.


"Nak Abi masih di atas sama Arditha," Mama Sherly mengira besannya itu sedang mencari keberadaan putranya.


"Aku gak mencari manusia kutub itu, bu tapi mencari menantuku," Mama Kalisha serius sangat ingin bertemu dengan Arditha. Ia benar-benar sangat merindukan gadis yang membuat putranya kelimpungan mencari keberadaannya.


"Sejak bertemu keduanya bertengkar dan sepertinya masih berlanjut hingga saat ini padahal pak penghulu sudah datang," Mama Sherly terlihat frustasi. Putri bungsunya sangat keras kepala dan itu membuat mama Sherly kelimpungan.


Dari arah tangga terlihat pasangan Abimana dan Arditha menuruni anak tangga dengan wajah tak bersahabat. Menyusul Kenan dibelakang mereka bertindak sebagai pengawal. Kenan membawa keduanya ke depan penghulu. Untuk pertama kalinya terjadi di dunia ini seseorang mengucap ijab qabul dengan pakaian rumahan. Arditha ngotot tak ingin memakai kebaya seperti dulu.


Mama Sherly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya sedangkan mama Kalisha dan papa Kuncoro menahan tawa melihat penampakan keduanya. Diam-diam Adam mengabadikan penampakan bosnya itu.


Karena Arditha tak ingin duduk bersama Abimana di depan penghulu, maka mama Kalisha meminta agar Arditha duduk di sampingnya. Walaupun kekesalan Arditha pada Abimana berada pada level tingkat dewa namun ia tetap tersenyum manis pada pasangan suami istri itu. Keduanya tak bersalah lagipula mereka adalah orang tua yang seharusnya dihormati.


Saat Abimana mulai mengucap ijab qabul, Arditha justru tenggelam dengan lamunannya sehingga ia tak mendengar suara lantang penuh keyakinan ijab qabul yang dilafalkan oleh Abimana atas namanya.


"SAH !!"

__ADS_1


"SAH !!"


Teriakan SAH mengembalikan kesadaran Arditha. Mama Kalisha mengambil sebuah kota dari dalam tasnya dan memberikan pada Arditha.


"Sayang, tolong terima warisan keluarga kita." Mama Kalisha menarik tangan Arditha dan meletakkan diatas telapak tangan gadis itu.


Mata Abimana melotot sempurna, selama ini ia tidak pernah tahu jika ternyata mamanya memiliki dan menyimpan perhiasan warisan keluarga papanya. Seharusnya kan mama memberikannya pada almarhumah ? Bukannya Abimana tak terima perlakuan istimewa mamanya pada Arditha hanya saja ia penasaran dengan kelakuan sang mama. Bukankah almarhumah adalah anak dari sahabatnya dan sudah dituangkan sejak mereka masih kecil ?


"Tapi ma ,,," Arditha tak menyesuaikan kata-katanya karena mama Kalisha tak memperdulikannya dan terus melanjutkan ucapannya.


"Mama tau kamu akan menolaknya dengan berbagai alasan tapi percayalah sayang, hanya kamu yang berhak menerima dan memelihara warisan ini. Kelak jika anak-anak kalian menikah maka kamu akan mewarisi pada menantu yang menurutmu layak menerimanya. Jangan berpikir bahwa istri pertama duda kutub itu tak layak hanya saja menurut mama saatnya untuk memberikannya belum tepat dan ternyata memang Allah berkehendak lain." Senyuman mama Kalisha tak pernah hilang dari wajahnya.


Arditha tak mungkin menolak apalagi tatapan mama Sherly yang tajam bagaikan pedang yang siap menebas lehernya.


Mama Kalisha memeluk hangat menantunya. Besar harapan mama Kalisha untuk kebahagiaan mereka dan Arsheno maupun Arbilha memiliki adik-adik yang lucu-lucu.


"Ma, boleh aku peluk istriku ? Sejak tadi hanya mama yang menguasainya," Abimana menatap kesal pada sang mama. Meskipun baru saja sang mama menyerahkan perhiasan keluarga yang pastinya sangat berharga namun ia pun ingin memeluk Arditha yang berpisah dengannya dalam kurun waktu yang lama. Walaupun dikamar sempat menc**nya namun hanya sekilas dan tak ada pelukan hangat.


Mama Kalisha akhirnya melepaskan pelukannya pada Arditha. Dan tanpa malu-malu, Abimana langsung memeluk Arditha dan mencium pucuk kepalanya.


"Jangan menghilang lagi, hidupku kacau tanpamu," Bisik Abimana tanpa melepas pelukannya.


Mama Sherly terharu melihat Abimana meneteskan airmatanya saat berbisik pada Arditha. Walaupun tak ada yang mendengarnya namun mereka ikut larut melihat ekspresi Abimana. Berbanding terbalik dengan Arditha yang malah tanpa ekspresi. Hatinya benar-benar telah beku sehingga apapun yang diucapkan oleh Abimana tak mempengaruhinya.

__ADS_1


"Kapan kalian berbuka madu ?!" Suara papa Kuncoro terdengar bagaikan geledek di telinga Arditha.


"Gak ada pa, launching kantorku baru aja pagi tadi. Akan banyak pekerjaan ke depannya." Arditha mendorong tubuh Abimana agar melepas pelukannya. Ia tak boleh memberi celah pada Abimana apalagi merencanakan bukan madu.


"Setelah keadaan kantor Arditha stabil pasti kami akan berbulan madu pa, gak perlu terburu-buru." Abimana buru-buru meralat ucapan Arditha, ia tak ingin melihat wajah kecewa papanya yang terlihat sangat antusias.


Arditha terpaksa mengangguk membenarkan ucapan Abimana setelah mendapat tatapan maut dari mama Sherly. Melihat hal itu, Kenan terkikik geli. Sungguh malam ini mamanya adalah dewi penolong bagi Abimana.


"Dam, tolong antarkan pak penghulu. Setelah itu kamu boleh istirahat tapi jangan telat ke kantor," Perintah Abimana sontak membuat Adam tersenyum. Sebenarnya malam ini ia ingin menikmati istirahatnya namun apa daya tiba-tiba perintah sang bos tak dapat ditolak.


"Tentu bos." Adam bergegas berpamitan pada semuanya sebelum bosnya itu berubah pikiran atau lebih buruk lagi menyuruhnya melakukan sesuatu yang bisa memangkas istirahatnya. Saat ini jam sudah menunjukkan 21.30.


"Kamipun pamit, " Mama Kalisha berdiri begitupula dengan papa Kuncoro. Mereka berempat lalu beriringan keluar diantar oleh pasangan suami istri lama tapi rasa baru bersama dengan Kenan dan mama Sherly.


Perlahan iringan mobil tersebut meninggalkan halaman rumah mama Sherly. Mereka pun kemudian masuk ke dalam rumah. Kenan dan Abimana mengatur kursi dan meja ke tempatnya semula sedangkan Arditha dan mama Sherly telah menghilang, kedua wanita itu masuk ke kamar masing-masing.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat sore readers,,,,


Terima kasih atas dukungannya.


Jangan lupa mampir dicerita terbaruku

__ADS_1


"MASA LALU YANG TAK USAI"


__ADS_2