
Arditha mengekori Abimana keluar dari kamar tersebut tanpa bersuara. Sebuah tanda tanya besar memenuhi kepala Arditha. Selama ini pria itu tak pernah bisa meninggalkan masa lalunya namun kini sebuah kenyataan yang tak dapat ia terima dengan akal pikirannya. Apakah hanya karena pria itu ingin agar dirinya menerima pernikahan ini sehingga menyimpan foto-foto almarhumah istrinya ?
"Jangan bengong, honey." Abimana terkekeh melihat ekspresi bingung wanita yang membuatnya menyadari akan sebuah kehilangan.
Arditha malas menimpali perkataan pria yang membuatnya bingung. Untuk saat ini tak ada yang perlu dibahas. Biarlah semua terjadi sesuai dengan kehendak Yang Maha Kuasa. Arditha terus melangkah keluar rumah menuju mobil yang terparkir di depan pintu. Ia harus segera tiba di kantor.
"Jam istirahat kita lihat rumah baru, setelahnya ke rumah mama, anak-anak pasti sangat bahagia melihatmu," Suara Abimana sangat lembut namun di telinga Arditha sama saja dengan perintah yang tak bisa dibantah.
"Aku juga merindukan mereka akan tetapi meninggalkan Vanya bekerja sendiri hanya karena urusan pribadi sangat tidak etis, kak. Hanya ada kami berdua untuk saat ini." Demi kesuksesan kantornya dan Vanya, ia tak boleh egois. Semua ada porsi yang masing-masing. Lagipula pulang kantor juga bisa kan ?
Serba salah memang akan tetapi Abimana harus mengerti posisi Arditha saat ini. Kantornya kemarin baru launching dan mereka masih dalam tahap awal merintis. Seandainya saja Ia cepat menemukan Arditha tentu tak akan seperti ini jadinya. Tak akan pernah ia biarkan wanitanya bekerja keras, cukup di rumah saja menunggunya pulang dan mendidik anak-anaknya dengan baik.
"Ya sudah, gak apa-apa kok. Tapi melihat rumah yang akan mas beli gak boleh di tunda. Kita gak boleh terlalu lama tinggal di rumah mama. Kasihan Kenan yang belum menikah," Sejenak Abimana melirik Arditha sebelum kembali fokus ke jalan raya yang mereka lalui.
"Lho, apa hubungannya ?" Tanpa sadar Arditha sudah mulai berbicara dengan nada rendah dan terdengar akrab di telinga pria yang sedang menyetir itu.
"Adalah honey, coba bayangkan ketika tanpa sadar kita berbicara dengan mesra bahkan melakukan interaksi yang sangat mesra dan di dengar oleh Kenan, kan kasihan dia akan jadi penonton. Sebagai sesama pria tentu saja mas tahu jika hal itu sangat menyiksa," Abimana terdengar serius padahal dalam hati tersenyum lebar karena berhasil mengemukakan keinginannya.
"Emang sampai segitunya, ya ?!"
"Iyalah honey, pasangan suami istri memang harus seperti itu agar pernikahan langgeng dan rumah tangga kita berlimpah kasih sayang sehingga anak-anak tumbuh dan berkembang dengan baik." Abimana masih dengan wajah seriusnya dan perlahan membelokkan mobilnya memasuki area parkiran kantor Arditha. Tampak mobil Vanya sudah terparkir dengan rapi.
"Kakak gak usah masuk, nanti telat." Arditha mengusir secara halus pria itu. Ia tak tahu harus bagaimana menjelaskan pada sahabatnya, Vanya. Arditha memang berencana hari ini akan menceritakan semuanya pada Vanya namun bukan saat dirinya bersama Abimana akan terasa sangat canggung.
" Ok, tapi ingat jam istirahat mas jemput ya," Abimana seketika menc**m dahi Arditha dengan sedikit lebih lama hingga dahi Arditha terasa basah.
__ADS_1
Dengan wajah memerah Arditha spontan meraih tangan Abimana dan mencium punggung tangan pria itu.
"Love you honey, " Abimana menatap mata bening sang istri, terdengar tulus namun bukan Arditha namanya jika akan percaya begitu saja. Bisa saja itu adalah jerat yang sengaja Abimana tebar untuknya.
"Jangan mudah mengumbar kata itu kak, aku bukanlah gadis yang akan terlena hanya dengan ucapan atau gòmbalan receh seperti itu." Arditha berkata apa adanya. Sebagai seorang gadis tentu saja kata-kata receh seperti itu seringkali ia dengar bahkan teramat akrab di telinganya.
Abimana tersenyum kikuk mendengar ucapan sang istri. Padahal kata cinta ia ungkapkan dengan penuh perasaan namun ternyata Arditha masih menganggapnya sekedar kata-kata gòmbalan.
Sejenak menatap wajah cantik Arditha seraya tersenyum kemudian Abimana mulai menjalankan mobilnya perlahan meninggalkan Kantor Akuntan Publik Diva. Arditha pun membalikkan badannya memasuki kantornya.
"Sebelum kerja, jelaskan dulu kronologis kebersamaan kalian. Sejak awal menikah hingga bersama lagi seperti saat ini kamu selalu merahasiakannya." Rupanya Vanya melihat kedatangannya diantar oleh Abimana dan ternyata gadis itupun menyimpan unek-unek tentang dirinya selama ini.
"Hindari membicarakan hal-hal yang tak bermanfaat di hari pertama kerja," Arditha berusaha berkelit. Menurutnya semua sudah jelas dan tidak perlu mengulang-ulang cerita.
"Baiklah, tapi setelah ini kamu traktir aku makan, soalnya bercerita juga membutuhkan asuhan gizi yang memadai, " Arditha tersenyum manis namun justru membuat Vanya dongkol. Baru saja Vanya bersorak gembira karena berhasil mengerjai Arditha namun lihatlah kini, hanya dalam hitungan detik, otak sahabatnya itu kembali normal.
"Dasar wanita gak mau rugi," Dumel Vanya namun kembali duduk cantik di depan Arditha.
"Eits, aku masih gadis ya. Sebutan wanita itu khusus untuk yang sudah menikah dan sudah nganu-nganu."
Plaaakkkk
"Dasar gak ada akhlak. Gak boleh ngomong gitu di depan gadis jomblo, " Vanya seketika memukul lengan sahabatnya yang dengan lancarnya berkata tak sopan menurutnya.
"Kalau gitu gimana kalau kamu nikah sama bang Kenan. Pria tampan itu juga jomblo akut lho, sama kayak kamu." Arditha memang sudah lama ingin menjodohkan sahabatnya dengan abangnya. Bahkan terkadang jika da seorang pria yang meminta dikenalkan pada Vanya maka Arditha tanpa dosa akan mengatakan jika sahabatnya itu adalah tunangan abangnya.
__ADS_1
"Ck, gak usah bahas sesuatu yang tak mungkin, sekarang ceritakan tentang kisahmu bersama pak Abi," Ternyata Vanya ingin mendengarkan kisah asmara sahabatnya.
"Tapi janji, setelah aku cerita kamu mau kucomblangin dengan bang Kenan," Arditha menaiki turunkan alisnya. Kali ini ia serius dan tak mau menyia-nyiakan kesempatan yang ada. Bang Kenan sudah sangat matang untuk berumah tangga.
"Ck, kamu terlalu banyak syarat." Vanya mengeluhkan sifat sahabatnya yang selalu membuatnya terpojok.
"Bukan begitu, Nya. Ini demi kelangsungan garis keturunan mama dan papaku. coba pikirkan jika bang Kenan terus menjomblo, gimana mau punya anak ?" Arditha tak kenal putus asa sampai harus mengatasnamakan kedua orang tuanya. Sungguh perjuangan yang tak kenal kata menyerah.
"Baiklah tapi kalau bang Kenan menolakku maka kamu harus bertanggung jawab mencarikanku pria tajir." Vanya sengaja memberikan beban pada sahabatnya agar mengurungkan niatnya layanan ia yakin jika Kenan pasti akan menolaknya. Pria itu tak tersentuh oleh gadis manapun.
"Ok, deal. " Arditha tersenyum lebar. Ia yakin sang abang akan dengan sukarela menerima Vanya untuk dijadikan istri.
"Sekarang ceritakan kisahmu dari awal hingga hari ini tanpa sensor termasuk yang sangat pribadi,"
Arditha lalu mulai kisahnya sesuai dengan permintaan Vanya. Bagi Arditha rencana untuk menyatukan Vanya dan abangnya lebih penting dibandingkan cerita tentang kisahnya bersama Abimana.
🌷🌷🌷🌷
SELAMAT PAGI READERS
JANGAN LUPA MAMPIR DI CERITA TERBARUKU " MASA LALU YANG TAK USAI"
TERIMA KASIH ATAS DUKUNGANNYA
LOVE YOU ALL
__ADS_1