Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 59 》》 JANGAN TEBAR PESONA, HONEY


__ADS_3

Satu per satu tamu undangan berdatangan, Vanya dan Arditha sangat bahagia karena ternyata kantor mereka mendapat apresiasi yang sangat baik. Karangan bunga berbagai ukuran pun menghiasi depan kantor mereka. Mama Sherly dan kedua orang tua Vanya pun sudah hadir untuk menyaksikan acara anak-anak mereka.


Kenan kini sudah berbaur dengan para pebisnis yang ikut hadir. Pun sama haknya dengan Vanya dan Arditha yang menyambut tamu-tamu mereka dengan suka cita. Senyuman manis kedua gadis itu tak pernah lekang dari wajah cantik mereka.


Dari arah pintu masuk tampak dua orang pria tampan memasuki ruangan dan disambut oleh Vanya. Sementara Arditha sibuk dengan tamu yang lain.


"Selamat datang pak," Sambut Vanya dengan ramah. Adam dan Abimana mengernyitkan dahinya bingung melihat Vanya.


"Terima kasih, " Balas Adam masih dengan wajah bingungnya.


"Dulu saya magang di perusahaan PT. Bhi_Lha makanya saya memberanikan diri mengundang anda, " Vanya menjelaskan seolah mengerti kebingungan Adam dan Abimana.


"Waahhh hebat kamu, kami turut merasakan bangga ternyata mahasiswa magang kami akhirnya berhasil," Adam sangat antusias mengetahui kenyataan bahwa Vanya ternyata pernah magang di perusahaan mereka.


Berbeda dengan Adam yang tampak antusias, Abimana justru terlihat biasa saja. Tak ada yang istimewa menurutnya karena memang perusahaannya selalu menerima mahasiswa magang yang cerdas.


"Namamu Diva ?!" Adam ingin memastikan sekaligus menghilangkan rasa penasarannya karena yang bertanda tangan dua orang.


"Singkatan nama saya dan seorang teman, pak." Vanya sedikit gelagapan mendapatkan pertanyaan yang hampir saja membuatnya keceplosan. Meskipun ia dan Arditha adalah sahabat namun jika menyangkut masalah pribadi masing-masing maka mereka tak pernah ikut campur. Paling hanya memberikan saran itupun jika diminta. Ucapan Vanya sukses menarik perhatian Abimana,


Mata elang Abimana menangkap sosok Kenan namun tak mempengaruhinya karena hampir semua tamu undangan yang hadir adalah kalangan pebisnis. Namun detik berikutnya pandangan Abimana terpaku pada sosok wanita paruh baya yang tak lain adalah mama mertuanya.


'Kok mama datang juga ?' Abimana bertanya dalam hati pasalnya ia mengenal mertuanya yang merupakan ibu rumah tangga dan tak mungkin Kenan meminta mama Sherly mendampinginya.

__ADS_1


Tanpa memperdulikan Adam yang menatapnya bingung dan langsung mengikutinya, Abimana berjalan menghampiri sang mama mertua. Walaupun selalu mengalami penolakan dari mama Sherly namun Abimana tak pernah kapok untuk menemui wanita yang telah melahirkan gadis yang membuat dunianya teralihkan.


"Assalamualaikum ma," Abimana menyapa seraya meraih dan mencium punggung tangan mama Sherly.


Mama Sherly hanya menatap datar pria tampan yang tengah mencium punggung tangannya. Rasa iba dan marah memenuhi rongga dadanya secara bersamaan membuat mama Sherly tanpa sadar memeluk pria yang telah melukai hati putrinya. Rupanya rasa iba lebih mendominasi perasaan mama Sherly.


Sepasang mata bening milik Arditha tanpa sengaja melihat sang mama tengah memeluk pria yang tak ingin lagi ia temui sehingga terdengar dengusan kasar dari gadis itu. Beruntung Kenan tiba-tiba berdiri di depannya sehingga tak membuat pak Tyo salah satu pebisnis muda tersinggung.


"Dek, jaga sikapmu." Kenan menegur pelan sang adik karena netranya pun menangkap adegan sang mama dan menantunya.


"Mama kok plin plan gitu sih, bang. Aku bisa dalam bahaya bang," Kekesalan Arditha dan alarm peringatan keras baginya jika sang mama tiba-tiba teriakan lagi bujuk rayu pria arogan itu.


"Jangan salahkan mama, masa iya mama akan mencak-mencak di tempat ramai seperti ini. Yang malu abang dan kamu, dek." Kenan mengingatkan Arditha agar bisa memaklumi sikap mama mereka.


Arditha tak lagi mendebat sang abang seperti biasanya. Biarlah hari ini mama dan abangnya berbuat seenak mereka karena ia tak ingin merusak acaranya sendiri.


"Selamat datang para tamu undangan, atas nama pemilik acara kami ucapkan terima kasih telah meluangkan waktunya untuk menghadiri launching Kantor Akuntan Publik Diva," Suara khas MC yang merdu dan memukau para tamu terdengar memenuhi ruangan sehingga para tamu undangan fokus ke atas panggung.


"Untuk mempersingkat waktu, kita sambut kedua gadis cantik dan masih single untuk naik ke atas panggung. Kita beri tepuk tangan yang meriah untuk Arditha dan Vanya. " Tepuk tangan memenuhi ruangan yang lumayan besar menyambut keduanya. Mata para pebisnis muda berbinar melihat kecantikan keduanya yang man jika para pebisnis muda akan apabila disuruh menilai kecantikan keduanya.


Mata Abimana membulat sempurna menatap gadis yang selama ini ia cari. Entah bagaimana perasaannya saat ini. Gembira, bahagia dan marah secara bersamaan. Bukan itu saja, telinganya mendadak panas mendengar ucapan para pria lajang yang memuji kecantikan Arditha. Adapun yang memuji kecantikan Vanya, ia tak peduli.


"Ma ??" Abimana menatap mama Sherly setelah berhasil menguasai perasaannya.

__ADS_1


"Maafkan mama, nak. Untuk saat ini mama tak bisa memaksa Arditha. Dia tak ingin bertemu denganmu." Mama Sherly berkata apa adanya. Ia tak mungkin menjerumuskan putrinya ke lubang yang sama untuk kedua kalinya.


"Aku hanya butuh doa restu mama, selebihnya biarkan aku berjuang untuk memenangkan hati istriku dan mama anak-anakku." Abimana menatap mama Sherly penuh harap. Baginya doa restu wanita yang melahirkan istrinya adalah yang terpenting saat ini. Abimana tahu betul jika doa dan restu orang tua akan memuluskan usahanya.


"Mama hanya bisa berdoa yang terbaik buat kalian. Jika kalian tak ditakdirkan untuk bersama, tolong jangan memaksakan keadaan, " Mama Sherly tak ingin mengulang kesalahan yang oernah ia lakukan pada anak gadisnya.


"Tentu ma, setidaknya aku berusaha manatau takdir Yang Maha Kuasa memang mengharuskan aku berjuang terlebih dahulu," Abimana tak mengenal putus asa untuk meyakinkan mama Sherly.


Mama Sherly hanya tersenyum dan menepuk-nepuk tangan Abimana yang masih memegang tangannya. Mama Sherly diam-diam merasa kagum dengan kegagalan Abimana untuk mendapatkan hati Arditha. Wanita paruh baya itu hanya memasrahkqn semuanya pada takdir Yang Kuasa.


Dari atas panggung senyuman manis Arditha dan Vanya terus-terusan membingkai wajah cantiknya. Antusias para tamu undangan membuat keduanya yakin akan perkembangan kantornya.


Vanya menyerahkan urusan kata-kata sambutan pada Arditha. Dirinya tak memiliki cukup banyak kosa kata untuk dirangkai menjadi sebuah kalimat yang bermakna. Mungkin sejak lahir Arditha sudah ditakdirkan untuk menguasai panggung dengan kata-kata. Terbukti sejak mereka kenalan hingga bersahabat seperti saat ini, Vanya belum pernah melihat Arditha kehabisan kata-kata.


Hingga kata sambutan selesai dan para tamu undangan dipersiapkan untuk mencicipi hidangan yang telah tertata rapi diatas meja. Karyawan hotel pun mulai melakukan tugasnya. Vanya dan Arditha pun berbaur dengan para tamu.


"Jangan coba-coba menebar pesona, honey. Kita masih suami istri, " Abimana berbisik dan sengaja meniup telinga Arditha sehingga membuat gadis itu merinding karena geli. Namun bukan Arditha namanya jika ia menampakkannya. Arditha pura-pura tak mendengarnya dan berbicara dengan ramah dengan tamu yang lain.


Abimana hanya tersenyum lebar menanggapi ketakpedulian Arditha. Ia pun berjalan kearah meja untuk mengambil beberapa menu untuk di santapnya. Kenan pun melakukan hal yang sama sedangkan Adam sudah duduk manis menikmati santap siangnya. Untuk pertama kalinya presdirnya itu tak merecokinyq dengan meminta dipesankan makan siang sejak ia bekerja pada perusahaan PT. Bhi_Lha.


🌷🌷🌷🌷🌷


Nah, apa yang akan terjadi selanjutnya ??

__ADS_1


Selamat membaca readers kesayangan.


Jangan lupa dukungannya


__ADS_2