
Karena bangun kesiangan dan tak sempat ke salon, Arditha memilih untuk merias sendiri wajahnya dengan make up natural. Jika sehari-harinya ia make up sentuhan mungkin namun kali ini sedikit lebih mengingat akan menghadiri pernikahan sang abang kesayangan yang pasti semua anggota keluarga mama dan papanya akan hadir.
Sambil merias wajahnya senantiasa mungkin, Arditha senyum-senyum sendiri membayangkan wajah kesal abangnya yang hingga saat ini ia belum beri kabar.
"Apakah kamu sekesal bang Kenan, mas ?" Gumam Arditha, wajah Abimana tiba-tiba berkelebat di pelupuk matanya.
Mengingat suami dan kedua anak sambungnya membuat Arditha buru-buru menyudahi acara memake over wajahnya. Melirik jam pada ponsel yang baru saja ia aktifkan membuatnya segera mengambil barang-barangnya lalu keluar dari kamar hotel.
Kini Arditha berada di dalam taksi online dan duduk dengan tenang. Sepanjang jalan ia berdoa agar tak kejebak macet dan bisa tiba di rumah sang mama sebelum para tamu berdatangan. Bisa dipastikan akan ada drama jika hal itu sampai terjadi.
"Bisa sedikit lebih cepat, pak ?"
Sopir taksii online tersebut hanya menganggukkan kepalanya lalu menginjak gas agar laju mobilnya lebih kencang sesuai permintaan penumpangnya. Sebuah keberuntungan bagi Arditha karena jalan raya belum terlalu ramai.
Taksi online tersebut akhirnya berhenti di depan pintu pagar rumah calon mempelai pria. Setelah membayar ongkos taksinya, Arditha bergegas turun dan langsung masuk ke dalam rumah.
Tok tok tok
"Masuk aja ma, gak dikunci kok." Arditha tersenyum mendengar suara abang kesayangannya. Ia lalu memutar gagang pintu dan pelan-pelan mendorongnya.
"Cepat berpakaian nak, bentar lagi tamu-tamu pada berdatangan," Arditha menahan tawanya melihat penampakan sang abang yang masih acak-acakan.
Mendengar suara adiknya, Kenan membalikkan badannya dan tersenyum lebar. Ternyata asik kesayangannya telah kembali.
"Eit jangan peluk-peluk, abang belum mandi sedangkan aku sudah cantik dan wangi gini." Kenan mengurungkan niatnya untuk memeluk dan mengacak-ngacak rambut sang asik seperti yang biasa ia lakukan kalau sedang kesal .
__ADS_1
"Ck, gak asyik. Abang mandi dulu, jangan kemana-mana. " Titah Kenan bergegas masuk ke dalam kamar mandi. Ia harus selesai mandi sebelum kanjeng ratu menemuinya.
Sementara Kenan mandi Arditha sibuk dengan ponselnya. Ia berbalas pesan dengan sahabatnya, Vanya. Wanita ini benar-benar tak ada akhlak. Bukannya menghubungi suami malah sibuk sendiridengxn sahabatnya.
Ceklek
Suara pintu kamar yang terbuka membuat Arditha mengalihkan perhatiannya. Saat ini sang mama tersayang berdiri di depan pintu dengan wajah suram melihatnya.
"Astaga mama, bikin kaget aja deh," Arditha memperlihatkan wajah tak bersalahnya.
"Kamu sangat keterlaluan Ditha ! Mama gak suka kamu berkeliaran seperti ini. Meninggalkan suami tanpa pesan bahkan mematikan ponsel selama Berhari-hari," Mama Sherly mengomeli putri bungsunya, jangan lupa wajahnya yang memerah karena marah.
"Jangan menyalahkan aku doang dong ma, anakmu ini hanya ingin menenangkan diri karena menantu kesayangan mama sedang marah. Mama tau kan kalau aku bukan orang sabar yang bisa menerima kemarahan seseorang ? Nah, untuk menghindari konflik yang akan berujung pada situasi yang tidak baik maka aku memutuskan untuk healing sejenak sambil merenung. Yang penting kan aku kembali pada saat yang tepat," Arditha menatap serius wajah merah mama Sherly. Ia yakin jika mulut ember Kenan sudah menceritakan semuanya pada wanita paruh baya kesayangannya.
"Mama gak mau tahu, pokoknya kamu harus meminta maaf pada suami dan mertuamu. Mama malu pada mertuamu, Ditha." Mama Sherly melupakan tujuan semula ke kamar Kenan kala melihat Arditha.
"Nak Abi sudah tahu kamu datang, kan ?!" Mama Sherly rupanya belum selesai dengan kekesalannya.
Arditha hanya cengengesan, tidak membantah namun tidak pula mengiyakan. Mama Sherly masih ingin melampiaskan kekesalannya yang tak berujung namun rupanya Kenan sudah keluar dari kamar mandi dan menjadi penolong Arditha.
"Cepat sedikit Ken, kita harus tepat waktu." Mama Sherly memang orangnya sangat disiplin masalah waktu.
"Aku akan bantu bang Ke memakaikan bajunya ma, sekarang mama turun aja menyambut para tamu dan kerabat," Arditha memanfaatkan kesempatan agar sang mama segera berlalu dan ia terbebas dari omelan berkepanjangan wanita kesayangannya.
Sungguh Arditha tak kuat mental jika mama Sherly sudah mulai mengomel. Jika sang mama sudah mengomel maka bisa dipastikan semua kesalahan Arditha dimasa lalu kembali terseret.
__ADS_1
Mama Sherly pun segera keluar dari kamar Kenan, apa yang dikatakan oleh Arditha besar adanya.
"Huffftt, thanks bang sudah menyelamatkan mentalku," Arditha tersenyum manis menatap sang abang.
"Jangan tersenyum seperti itu dek, abang khawatir dan ketakutan," Ucap Kenan mulai memakai baju dalamnya. Kenan hanya memakai jas untuk ijab qabulnya.
Mempelai pria memang lebih simple tidak seperti mempelai wanita yang harus berdandan sedemikian rupa padahal sebenarnya meskipun tidak bermake up tebal sudah terlihat cantik.
"Ck, abang terlalu berprasangka buruk. Hari ini tuh hari bahagianya abang dan sebagai adik aku ikut bahagia apalagi akhirnya abang menikah dengan sahabatku," Arditha menatap serius wajah tampan sang abang yang hari ini terlihat lebih berseri-seri.
"Eh dek, kamu menghilang kemana sih selama tiga hari ini? Abi sudah tahu kamu pulang ?!" Kenan masih penasaran dengan tingkah laku adiknya yang ajaib. Tiba-tiba hilang dan tiba-tiba datang bagaikan hantu.
"Nanti juga ketemu bang. Sudahlah jangan banyak tanya. Sekarang kita turun keluarga pasti sudah pada menunggu abang," Arditha setengah menyeret Kenan keluar kamar.
"Tante Marisa dan anaknya datang lho, kemarin Abi beralasan jika kamu sibuk dan lembur," Kenan tak ingin kebohongannya dan Abimana terbongkar sehingga Arditha akan menjadi bulan-bulanan tante Marisa. Kenan bisa membayangkan bagaimana akhirnya. Arditha dan tante Marisa memang tak pernah akur.
"Jangan khawatir bang, aku siap menghadapi ibu dan anaknya itu. Aku sudah disiapkan amunisi untuk mereka," Arditha terkikik geli mendengar ucapannya sendiri.
Kenan dan Arditha kini menuruni anak tangga satu per satu sambil bercanda. Tampak jika kakak beradik itu sangat kompak dan saling menyayangi. Tak jauh dari tangga tatapan tajam tante Marisa menatap keduanya.
Arditha tak memperdulikan tatapan tante Marisa, matanya justru sibuk mencari keberadaan suami dan kedua anaknya yang belum tampak, hanya mama mertuanya yang kini terlihat tengah menatapnya sambil tersenyum.
🌷🌷🌷🌷
Selamat sore readers
__ADS_1
MINAL AIDIN WAL FAIDZIN
MOHON MAAF LAHIR DAN BATIN