
Kenan sedang dilema di ruang tamu. Antara melakukan permintaan Abimana yaitu memanggil penghulu agar bisa menikahi Arditha secara agama atau mengabaikan permintaan sahabat sekaligus adik iparnya itu. Kenan tak ingin adiknya menderita kedua kalinya namun disisi lain tatapan mata Abimana terlihat sangat sungguh-sungguh dan Kenan tidak melihat tatapan seperti itu ketika Abimana memutuskan untuk menikahi Arditha.
"Apa yang kamu pikirkan, nak ?!" Mama Sherly dapat melihat kegelisahan dan kekhawatiran pada sorot mata putranya.
"Aku bingung harus gimana ma, Abi memintaku memanggil penghulu agar bisa menikahi Arditha secara agama namun aku juga takut kejadian yang lalu kembali terulang." Kenan benar-benar bagaikan makan buah simalakama. Ia sangat menyayangi adiknya dan takut jika adik kesayangannya itu kembali terluka.
"Mama lihat nak Abi sangat bersungguh-sungguh ingin mempertahankan pernikahannya dengan Ditha, kalau menurut mama sih sebaiknya kita berikan kesempatan kedua. Setiap manusia berhak memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri." Selama ini mama Sherly memang tak pernah abai memperhatikan tingkah laku Abimana saat menemuinya. Bahkan saat mama Sherly menolaknya mentah-mentah, Abimana tak pernah merasa berkeliling hati justru semakin gencar mengunjungi mama mertuanya itu.
"Tapi bagaimana jika yang terjadi malah sebaliknya ma, cinta Abimana pada almarhumah istrinya sangat besar dan semua tahu hal itu." Kenan tak ingin mengambil resiko untuk adiknya.
Mama Sherly dan Kenan terlibat pembicaraan yang serius dan tak menemui kesepakatan. Kenan yang tak bisa mempercayai Abimana semudah membalikkan telapak tangan karena perbuatannya sementara mama Sherly ngotot ingin memberikan kesempatan kedua pada Abimana. Hingga tanpa mereka sadari hari semakin sore dan Abimana turun dari lantai dua untuk memastikan keberadaan pak penghulu.
"Jangan khawatir kakak ipar, aku benar-benar menginginkan pernikahan ini bukan karena anak-anak," Suara Abimana mengagetkan mama Sherly berbeda haknya dengan Kenan yang merasa geli mendengar Abimana memanggilnya kakak ipar.
"Ditha mana ? Kita harus memberitahukan gadis itu . Mulai saat ini kita tak boleh lagi memutuskan sepihak kehidupannya." Kenan tak ingin lagi disesali oleh adik kesayangannya itu.
Abimana hanya menggelengkan kepalanya tanda tak tahu. Saat ia memejamkan mata, Arditha masuk kedalam kamar mandi namun kala ia bangun, gadis itu tak ada lagi di kamar.
"Dia pasti di kamarku tidur," Kenan setengah berlari menaiki anak tangga satu per satu menuju kamarnya. Salah satu kebiasaan Arditha jima kamarnya bermasalah maka kamar tidur Kenanlah yang akan menjadi solusi terbaik bagi adiknya itu.
__ADS_1
Dan benar saja, Arditha sedang terlelap di kasur empuk Kenan. Wajah cantik dan tenang Arditha tampak memukau dimata Abimana. Sebuah senyuman tipis bahkan teramat tipis menghiasi bibirnya.
" Dek bangun, kita harus bicara ini menyangkut kehidupan dan kebahagiaan," Kenan memaksa sang adik agar bangun. Ia tak ingin memberikan kesempatan pada Abimana tanpa persetujuan Arditha.
"Dek bangun,,,," Kenan sedikit menaikkan nada suaranya agar Arditha meraih kesadarannya.
"Ada apa sih bang, berisik banget, " Arditha terpaksa membuka matanya yang masih sangat berat. Dengan wajah banyaknya, Arditha berusaha duduk.
"Abimana ingin menikahimu kembali secara agama. Kamu setuju gak ?" Ucapan Kenan membuat Arditha terdiam sejenak. Ia tak ingin lagi berurusan dengan pria itu namun pria gila itu sudah mengambil ci**an pertamanya.
"Aku pikir-pikir dulu deh, bang. Sebenarnya saat ini aku menyukai seseorang." Arditha tersenyum manis menatap sang abang. Ia tidak melihat Abimana yang sedang berdiri di depan pintu dan tentu saja membuatnya meradang.
Abimana duduk di sofa kemudian mengirimkan pesan pada asisten andalannya untuk membawakan penghulu ke rumah mama mertuanya sekarang.
drrrrttttt drrrrttttt
"Halo ,,,"
"Besok aja bos, mana ada penghulu malam-malam," Adam langsung nyerocos saat Abimana menjawab panggilannya. Adam merasa bosnya itu sudah mulai aneh setelah melihat Arditha kembali.
__ADS_1
"Tidak ada kata besok, Adam ! Sekarang !!" Abimana tak ingin dibantah kali ini, ia lalu mematikan ponselnya agar Adam tak lagi meneleponnya.
Kenan menatap Abimana yang terlihat kesal. Entah apa lagi persoalan sahabatnya itu.
"Ada apa ?!" Kenan bertanya sambil menatap pria yang sedang menatap lembut adiknya.
"Aku menyuruh Adam membawa penghulu kemari,". Abimana tak mengalihkan tatapannya pada Arditha yang kini sedang mendelik tajam mendengar kata-kata Abimana.
"Aku gak setuju !!" Arditha masih menolak keinginan Abimana. Baginya ini adalah kesempatan untuk berpisah dengan pria itu.
"Status kita masih suami istri secara hukum, seandainya saja kamu tidak melarikan diri maka secara hukum agamapun kita tetap suami istri. Jadi ijab qabul kali ini hanya formalitas saja saya aku bebas melakukan apa saja padamu." Abimana tersenyum misterius saat mengatakan semuanya.
Wajah Arditha memerah karena malu mendengar kata-kata vulgar yang meluncur dengan bebas tanpa hambatan bagaikan jalan tol. Ia sudah dewasa dan cukup umur untuk mengetahui hal-hal seperti itu.
'Rupanya tak ada jalan untuk bebas darinya. Mengapa takdir berlaku tak adil padaku ?' Arditha menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamarnya sang abang yang di dominasi warna abu-abu. Warna khas pria.
🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers, jangan lupa mampir di cerita
__ADS_1
"MASA LALU YANG TAK USAI"