
Kegiatan pasangan suami istri itu harus terhenti karena pergerakan Arbilha yang nampaknya akan segera terbangun. Arditha mendorong tubuh Abimana agar menjauh darinya. Ia tak ingin anaknya melihat yang seharusnya belum pantas mereka lihat.
"Mas, jangan dilanjut ! Ilha sudah bangun." Arditha merapikan kancing bajunya yang terbuka sebagian.
"Jangan bergerak honey, Mas urus dulu gadis kecil itu." Abimana berjalan ke arah tempat tidur. Pria yang sudah terlalu lama mengandangi peliharaannya kini akan melepaskan agar bebas menikmati indahnya surga dunia. Ia tak ingin lagi menunda-nunda untuk menjadikan Arditha sebagai istri seutuhnya.
Dengan gerakan cepat Abimana menggendong Ilha keluar kamar dan tak mencari mbak Mina, pengasuh anaknya. Dan secepat itu pula Abimana kembali ke kamar dan mengunci pintu dari dalam. Ia mendengus kasar kala melihat Arditha tak lagi berada di tempat semula.
"Honey, kenapa kamu gak menurut sih ?!" Sedikit kesal Abimana menatap Arditha namun ketika melihat sang istri ternyata belum mandi, wajahnya berubah sumringah.
"Masa iya aku harus menahan panggilan alam, Mas." Arditha berjalan melewati Abimana seraya menggelung rambutnya keatas. Gadis itu tak sadar jika gayanya itu justru semakin membuat Abimana tak dapat menahan diri untuk tidak memakannya.
"Kamu sudah siap kan honey ?" Abimana menatap Arditha dengan mata berselimut kabut. Pria itu sungguh sangat tersiksa. Jika saja mereka sudah sering melakukannya tentu saja Abimana akan langsung menerkam gadis yang sudah membangkitkan sesuatu dalam dirinya.
Arditha tersipu malu mendengar kata-kata sang suami. Arditha bukan anak kecil yang tak mengerti arah pembicaraan pria yang telah menikahinya sebanyak dua kali. Abimana semakin berani melihat reaksi malu-malu gadis yang mampu meruntuhkan pertehanannya.
Tanpa banyak kata, Abimana langsung memulai aksi yang sejak tadi tertunda karena gangguan kedua anaknya. Kini kedua anak kecil iti pasti sedang sibuk bersama pengasuhnya.
Abimana menyerang gadis yang sebentar lagi akan berubah menjadi wanita seutuhnya dengan lembut namun sedikit liar. Jika saja Abimana tak menyadari bahwa ini adalah pertama kali buat Arditha maka sudah pasti pria itu akan menerkam habis sang istri.
Suasana kamar dipagi hari yang seyogyanya masih terasa dingin karena AC masih menyala namun bagi kedua pasangan halal itu tak demikian halnya. Keduanya kini bermandikan peluh akibat petualangan yang mereka lakukan. Rasa nikmat surga dunia yang telah lama tak pernah dirasakan oleh Abimana membuatnya tak ingin menyudahi perbuatan mereka. Pun sama halnya dengan Arditha yang sangat menikmati pengalaman pertama bertualang dengan sang suami.
Berkali-kali Abimana menyempatkan lahar panas ke dalam rahim Arditha namun persediaan lahar putih sang pria seolah tak ada habisnya hingga akhirnya keduanya terkunci lemas tak berdaya. Posisi mereka masih berpelukan dan senjatapun masih tertanam sempurna . Tak ada yang bergerak bukan karena pingsan akan tetapi keduanya berusaha mengatur napas dan memulihkan tenaga yang terkuras habis.
"Terima kasih honey," Abimana hanya mampu berbisik ditelinga Arditha yang ternyata sudah tertidur karena kelelahan.
__ADS_1
Mau tak mau terpaksa Abimana mencabut senjatanya perlahan agar sang istritak terganggu. Maksud hati masih ingin melanjutkan rindu berikutnya namun ia tak tega melihat sang istri kelelahan. Ia tak boleh egois dan merasakan nikmat sendirian. Sama-sama berkeringat maka harus sama-sama pula merasakan nikmat.
Akhirnya Arditha terbangun dan berusaha bangun sedangkan Abimana sudah mandi dan sedang duduk menunggu wanitanya terbangun. Ia tersenyum bahagia melihat pergerakan sang istri.
"Butuh bantuan ?!" Abimana tersenyum melihat Arditha meringis saat bergerak bangun.
Mendengar pertanyaan Abimana membuat wajah Arditha memerah bagaikan kepiting rebus. Pergumulan panas yang mereka lakukan semalam sungguh membuatnya malu.
Abimana langsung menggendong ala bridal style tubuh langsing milik Arditha. Menunggu persetujuan wanita itu sepertinya akan sangat lama. Abimana tak ingin kedua anaknya melihat penampakan mama mereka yang acak-acakan karena perbuatannya.
"Gak usah malu-malu honey. Kita memang harus melakukannya itu adalah salah satu cara untuk menjaga keharmonisan rumah tangga, dan semua pasangan melakukan hal itu." Abimana terus berkicau sambil menggendong tubuh wanitanya. Sebelum meletakkan Arditha, terlebih dahulu ia kembali menikmati manisnya bibir sang istri.
"Jangan melotot honey, ingat tak ada yang gratis didunia ini dan wajar aku mengambil upahku membantumu ke kamar mandi," Abimana terkekeh dengan ucapannya sendiri. Ia tak bisa menahan diri melihat Arditha diam seribu bahasa.
Masih dengan senyumannya, Abimana keluar dan menutup pintu kamar mandi. Sebenarnya ia sangat ingin membantu sang istri mandi dan mengulang kembali aksinya namun waktunya tidak tepat. Sebentar lagi pasti kedua bocah itu mencari mama mereka.
Duk duk duk
Terdengar pintu digedor dengan keras, tebakan Abimana sangat jitu. Baru saja ia selesai merapikan dan mengganti seprei yang memiliki noda merah milik sang istri akibat petualangan hebatnya, kini kedua bocah itu sudah kembali. Untung saja ia tak melanjutkan babak berikutnya di kamar mandi.
Ceklek
"Lama banget sih Yah , mama mana ?" Arsheno bersungut-sungut sambil matanya kesana kemari mencari sang mama.
"Mama masih mandi, boy." Abimana menjawab apa adanya lalu kembali duduk di samping Arbilha.
__ADS_1
"Lho, kok sepreinya ganti , Yah ?!" Kali ini gadis kecil kesayangannya yang angkat suara. Abimana tersenyum gemes merasa sedang diinterogasi oleh aparat keamanan.
"Sepreinya kotor makanya ayah ganti yang baru. Lagian ayah sama mama tadi tidur bersama." Abimana tak ingin berdusta pada anak gadisnya dan ia yakin jika gadis kecil itu tak mengerti arti sebenarnya yang dimaksudkan olehnya. Dan benar saja Arbilha mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti.
Akhirnya Arditha keluar dari kamar mandi dengan menggunakan handuk kimono. Kepalanya terbungkus handuk sehingga terlihat dengan jelas leher jenjangnya yang di tumbuhi rambut-rambut halus. Terlihat sangat seksi dan membuat Abimana menelan ludah. Wanitanya terlalu menggoda.
"Mama sakit ?!" Arsheno menatap Arditha yang berjalan ke arah lemari. Semalam mama Kalisha memberitahukan jika baju-bajunya sudah disiapkan di dalam lemari tersebut.
Arditha menghentikan langkahnya dan menatap bingung pria kecil yang juga sedang menatapnya. Wanita cantik itu mengerutkan dahinya tak mengerti.
"Enggak sayang, mama baik-baik aja kok."
"Tapi jalan mama kok kayak gitu ?!"
Arditha menatap horor sang suami yang nampak tersenyum geli. Sungguh Arditha tak menyangka Arsheno memperhatikan cara jalannya. Ia memang merasa sedikit aneh saat berjalan namun tak menyangka jika Arsheno menyadari hal itu.
"Tadi mama kesandung sesuatu makanya jalannya kayak gitu." Abimana tak kehabisan kata-kata sementara Arditha masih setia dengan tatapan horornya. Abimana hanya nyengir kuda membalas tatapan sang istri.
Arditha lalu melanjutkan kegiatannya mengambil baju dan kembali ke kamar mandi. Tak mungkin ia memakai baju di depan kedua anaknya dan pria dewasa yang terus-terusan menatapnya lapar.
🌷🌷🌷🌷
Selamat pagi readers,,,
Maaf baru up.
__ADS_1