
Meskipun merasa tak nyaman namun Arditha hanya bisa pasrah dan pada akhirnya tertidur, malam semakin larut dan matanya tak dapat lagi diajak kompromi. Hingga pagi kembali menyapa dan Abimana terbangun dengan senyum yang membingkai wajah tampannya mata, secepat kilat Abimana kembali menutup matanya. Agar pria kecil itu tak berteriak protes karena posisi tidur dan bangunnya berbeda. Arsheno menyadari perubahan posisinya dan segera bangun menatap satu per satu penghuni kamar yang masih terlelap.
"Ayah bangun ! Jangan pura-pura tidur !" Arsheno kini menatap tajam Abimana yang setengah mati menahan tawa. Pria dewasa itu ternyata sedikit membuka matanya dan ketahuan oleh Arsheno.
"Sssttt, jangan ribut. Mama sama adek masih tidur." Abimana memelankan suaranya agar Arditha yang masih dalam pelukannya tak terusik. Meskipun sesuatu dibawah sana mulai mekar.
Tak ingin Arsheno terus-terusan bicara dan yang mekar semakin mekar hingga menyesakkan, akhirnya dengan berat hati Abimana melepaskan pelukannya pada Arditha dan segera bangun. Ia bergegas ke kamar mandi selain karena panggilan alam juga untuk meredam sesuatu yang tiba-tiba terbangun. Padahal sudah Bertahun-tahun tidur nyenyak di dalam sangkar.
Telinga Arditha sangatlah tipis sehingga walaupun kedua pria beda generasi itu berbicara pelan namun tetap saja mampu mengusik tidurnya dan berhasil mengembalikan jiwanya dari pengembaraannya.
"Kenapa sayang ? Pagi-pagi kok wajahnya kesal gitu ?" Arditha tersenyum manis meskipun masih bermuka bantal. Sifat lazim yang dimiliki oleh seorang ibu yang selalu ingin membuat sang anak merasa nyaman dan bahagia.
"Ayah jahat ma," Bukan hanya wajahnya yan tampak kesal namun kini bibir pria kecil itu sudah maju sepanjang 5 centimeter. Mau tak mau Arditha terkekeh melihat ekspresi lucu pria kecil namun wajahnya sudah terlihat jelas ketampanannya saat dewasa nanti.
"Lho kok bisa ? Kalian kan baru bangun," Arditha mengerutkan dahinya bingung, kekehannya tak terdengar lagi dan berganti dengan wajah serius.
Tak ada jawaban dari Arsheno, calon pewaris PT. Bhi_Lha itu malah bersedekap dengan wajah menekuk. Arditha lalu turun dari tempat tidur agar bisa membujuk Arsheno tanpa harus membangunkan Arbilha.
"Sayang, ngomong yang jelas dong biar mama paham dan meminta penjelasan sama ayah," Suara lembut disertai belaian kasih sayang dari Arditha seketika menghilangkan amarah Arsheno.
Untuk pertama kalinya dalam hidup Arditha membujuk anak kecil pagi-pagi buta. Dan mungkin ini adalah awal dari tugasnya sebagai seorang ibu. Sejak perjalanan pulang melihat rumah yang akan mereka tinggali, ia terus berpikir akan takdir yang memang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa untuk hidup bersama pria beranak dua itu. Dan akhirnya memutuskan untuk kembali memulai hidup barunya sebagai seorang istri dan ibu kedua anak itu. Ibarat kata Arditha sedang mendapatkan kehidupan istimewa "Beli satu Gratis dua."
Abimana keluar dari kamar mandi dengan wajah yang lebih segar dan hanya melilitkan handuk dibagikan perutnya saja. Untuk pertama kalinya Arditha melihat pria itu dalam kondisi yang menjadi matanya. Ia segera mengalihkan tatapannya pada Arsheno yang masih dalam mode on ngambek.
__ADS_1
"Mas, pakai baju dulu lalu jelaskan kenapa anak tampanku semarah ini," Arditha tersenyum menatap lembut Arsheno. Sebaliknya Abimana terdiam beberapa saat mendengar kata-kata manis sang istri.
'Apakah kamu sudah menerima pernikahan kita, honey ?!' Abimana membatin sambil menatap Arditha tanpa berkedip. Sebuah tatapan yang sangat berbeda dari biasanya.
Abimana tak melakukan permintaan Arditha agar berpakaian terlebih dahulu. Ia lalu duduk disamping Arditha dan tersenyum misterius. Sedangkan Arsheno semakin kesal dan mendengus kasar.
"Semalam bang Sheno tidurnya gelisah jadi aku mengangkatnya ke dekat Arbilha agar bisa tenang dan tidur nyenyak, nah akhirnya mau tak mau Ayah tidur di samping mama karena bang Sheno tidur di tempat yang seharusnya tempat Ayah tidur," Abimana memang sangat pandai memilih kata untuk meyakinkan orang lain namun Arsheno tetaplah Arsheno keturunan Abimana yang tak akan mempercayai sesuatu begitu saja.
"Alasan !! Terus kenapa saat aku bangun Ayah malah asyik peluk-peluk mama ?!" Arsheno menatap tajam ayahnya pun halnya dengan Arditha. Wajah ibu sambung Arsheno dan Arbilha kini memerah bagai kepiting rebus. Ia kesal dengan aksi tak sopan sang suami.
"Mas ?! Kamu berbuat tak senonoh saat aku tertidur ?!" Arditha bertanya dengan wajah sengit campur malu. Sementara Arsheno tersenyum mengejek melihat mamanya yang sedang marah.
"Tak senonoh gimana sih ? Hanya meluk doang kok, kayak gini masa gak boleh, istri sendiri juga," Abimana memeluk Arditha yang otomatis membuat wanita itu menegang. Abimana memeluknya tanpa memakai baju dan tentu saja itu membuatnya sangat kaget.
"Baiklah tapi kalau gak ada anak kecil boleh lebih dari pelukan ?!" Abimana tersenyum miring sambil menaik turunkan alisnya menggoda Arditha yang kini seluruh wajahnya memerah.
"Maksud lebih dari pelukan apa, yah ?!" Keingintahuan Arsheno terusik dengan kata yang baru ia dengar.
"Bang Sheno mau kan punya adik lagi ?" Abimana mengabaikan tatapan horor sang istri dan masih menatap Arsheno.
"Tentu saja Ayah, aku dan dek Ilha kan memang sudah lama ingin punya adik seperti teman-teman disekolah,"
"Nah itu dia, kalau bang Sheno ingin punya adik lagi maka Ayah sama mama harus melakukan lebih ari sekedar pelukan tapi gak boleh dilihat oleh orang lain," Sebisa mungkin Abimana memberikan penjelasan dengan umum yang dapat dimengerti dengan mudah oleh pria kecil itu.
__ADS_1
"Mas, hentikan ! Jangan buat dia dewasa sebelum waktunya !" Arditha benar-benar tak mengerti dengan kelakuan pria dewasa itu.
"Sayang, gak perlu dengarkan Ayah. Sekarang bang Sheno kembali ke kamarnya mandi dan bersiap, kita ke rumah nenek. Pasti om Kenan sangat merindukan bang Sheno dan dek Ilha," Arditha harus menghentikan pembicaraan kedua pria yang sudah membuat pusing kepalanya padahal masih pagi-pagi.
"Ok ma," Arsheno memeluk singkat Arditha dan menghadiahinya sebuah ciuman sayang seorang anak sebelum berlari keluar kamar.
"Eh, kok Ayah gak dipeluk ?!" Abimana berusaha menahan tangan Arsheno namun tak berhasil.
"Gak mau, Ayah sudah peluk-peluk mama semalaman." Arsheno lalu menutup pintu dan mencari bi Mina yang selalu menyiapkan baju yang akan dipakainya.
Abimana kembali memeluk Arditha setelah pintu tertutup rapat. Arbilha yang masih tertidur pulas nampak tak terusik dengan keributan kecil mereka. Sebuah keajaiban bagi Arbilha yang biasanya akan sangat mudah terusik dengan suara sekecil dan sepelan pun. Tapi pagi ini bahkan Arsheno yang berbicara sedikit keraspun tak mampu mengusik tidurnya.
"Kamu gak takut masuk angin ? Sejak tadi betah banget gak pakai baju. " Arditha berusaha melepaskan tangan besar Abimana yang melingkar bebas pada tubuhnya.
"Di depan istri sendiri gak apa-apa, kan masih susanan pengantin baru dan kamu harus biasakan diri, honey karena setiap hari kita selalu akan seperti pengantin baru," Bukqnnyq melepaskan tangannya, Abimana justru semakin mempererat pelukannya dan mendorong tubuh Arditha agar berbaring di sofa tempat mereka duduk.
🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers ,,,,
Jangan lupa mampir di cerita yang terbaru ya, "MASA LALU YANG TAK USAI "
Terima kasih atas dukungannya.
__ADS_1