
Tak menemui titik terang mengenai Arditha, akhirnya Abimana pulang ke rumah setelah menemui Kenan. Gadis itu benar-benar menghilang dan tak ingin ditemukan bahkan pada saudara sendiri pun tak ia beritahukan keberadaannya.
Memasuki kompleks elite diibukota, Abimana sedikit mempercepat laju mobilnya agar segera tiba di rumahnya yang terlihat sunyi. Setelah security membukakan pintu pagar yang menjulang tinggi, perlahan Abimana membelokkan mobilnya dan memarkirnya di depan pintu utama.
"Selamat datang pak," Lia menghentikan sejenak pekerjaannya dan menyapa majikannya dengan sopan.
"Setelah pekerjaanmu selesai, kamu dan yang lainnya kembali ke rumah mama. Dua kali seminggu kalian datang membersihkan rumah." Abimana sedang dalam mode on tak ingin dibantah. Walaupun bingung dan kaget namun Lia tetap mengerjakan perintah majikan arogannya itu.
Abimana segera menaiki anak tangga, ia hanya ngin istirahat agar otaknya bisa kembali diajak bekerjasama. Tanpa sadar langkah Abimana memasuki kamar yang selama ini ditempati oleh Arditha. Tanpa mengganti baju ia langsung membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk itu. Wangi khas gadis itu masih terasa pada bantal dan sepreinya.
Berada di kantor Kenan dan berdebat dengan pria itu membuatnya kelelahan ditambah wangi yang sangat menenangkannya membuat mata Abimana semakin meredup dan akhirnya mengembara ke dunia mimpi.
Kali ini tidur Abimana benar-benar nyenyak hingga sore menjelang magrib barulah ia tersadar dari tidurnya. Ia pun sendiri heran saat terbangun, senyenyak-nyenyak tidurnya di kamarnya bersama foto-foto almarhumah Sheila namun tak senyenyak tidurnya saat ini. Perasaan lebih fresh dan pikiran pun jernih.
Sadar dengan baju yang ia pakai, Abimana segera melangkah keluar menuju kamar tidurnya. Sebelum waktu magrib berlalu ia segera membersihkan diri lalu melanjutkan kewajiban tiga rakaatnya. Dengan khusyu' Abimana melaksanakan shalat magrib dan diakhiri dengan doa sepenuh hati.
"Maaf Yang, bukannya tak mencintaimu atau cintaku tak ada lagi buatmu hanya saja kita sudah berbeda alam dan tempatmu tetap yang terbaik dalam hatiku." Abimana bergumam sambil mencopot satu per satu foto almarhumah kemudian memasukkannya ke dalam kardus yang terungkap di sudut kamar. Sprei dan sarung bantal yang bergambar almarhumah pun tak luput dari peserta berikutnya yang menghuni kardus tersebut.
__ADS_1
Selesai dengan aktifitasnya, Abimana mengangkat kardus besar tersebut menuruni tangga. Keadaan rumah sudah sepi karena Lia dan yang lainnya sudah kembali ke rumah kedua orang tuanya.
Abimana membawa kardus tersebut ke belakang rumah dan membuka kardus tersebut lalu menyalakan api di dalam tong sampah yang sudah kosong. Satu per satu foto Sheila ia bakar walau dengan berat hati. Bukan berarti ia ingin menghilangkan jejak Sheila dalam hidupnya namun Abimana harus melanjutkan hidupnya.
"Tak ada yang bisa menggantikanmu, Yang. Istirahatlah dengan tenang disana," Abimana terus bergumam sambil terus menatap foto almarhumah hingga menjadi abu karena terlalap api. Pria itu menatap asap hitam yang membuang tinggi dan kemudian hilang tersipu angin.
Malam semakin larut, sunyinya malam semakin terasa. Bulan yang menampakkan diri dengan angkuhnya sebagai penguasa malam seolah tersenyum mengejek pada Abimana yang sedang menatapnya. Bulan yang menyinari malam perlahan berganti dengan wajah Arditha. Sontak saja Abimana terjingkat kaget. Pasalnya ia sama sekali tak mengingat gadis itu. Ia hanya fokus dengan foto-foto almarhumah yang kini sudah menjadi abu.
Tak ingin larut dalam suasana hati dan pikiran yang tiba-tiba dipenuhi oleh nama Arditha, pria itu berdiri meninggalkan sisa-sisa pembakaran. Ia lalu berjalan menuju ruang kerjanya, mungkin saja pikirannya bisa teralihkan dengan bekerja.
Tiba diruang kerjanya kembali ia disuguhkan dengan foto-foto almarhumah dan dirinya dengan berbagai gaya. Abimana menarik napas panjang.
Abimana menyadari jika terus berada pada lingkungan dimana waktu yang ia habiskan bersama Sheila maka kenangan itu tidak akan mampu membuatnya bisa memulai hidup baru.
Sementara di rumah papa Kuncoro, seorang pria kecil yang berstatus sebagai cucu pertama dari keluarga Kuncoro sedang misu-misu mencari mama yang selama seminggu ini tak bersamanya.
"Mama kemana sih, opa ? Kok gak pernah menemui Sheno ?!" Pria kecil itu menatap sang opa dengan mata berkaca-kaca.
__ADS_1
"Sayang, kalau ingin bertemu mama maka kamu dan Ilha harus bersabar. Saat ini mama kalian sedang melanjutkan pendidikannya." Papa Kuncoro terpaksa bicara asal yang terpenting baginya adalah cucu kesayangan penerus keturunannya bisa diam walaupun entah sampai kapan, setidaknya untuk saat ini pria kecilnya bisa mengerti.
"Tapi jangan lama-lama, opa. Ayah kan banyak uang siapa tau sekolahnya bisa dibayar supaya sekolah mama cepat kelar," Entah dimana dan siapa yang pernah di dengar oleh pria kecil itu sehingga bisa mengungkapkan pada sang opa. Pun sama halnya dengan opa Kuncoro yang terkejut mendengar ungkapan Arsheno.
"Mama kalian cerdas jadi gak perlu pakai bayar sana sini, lagipula hal seperti itu sangat salah dan tidak dibenarkan," Terkadang jika papa Kuncoro berbicara dengan Arsheno, ia melupakan jika sedang berbicara dengan anak kecil karena hal-hal yang sering diucapkan oleh Arsheno layaknya orang dewasa.
Kedua pria beda generasi itu terus berbicara. Papa Kuncoro perlahan mengalihkan topik pembicaraannya bersama Arsheno. Tentu saja papa Kuncoro tak ingin menantang bebas jika menyangkut keberadaan Arditha. Ia sendiri belum tahu pasti keadaan yang sebenarnya karena Abimana hingga saat ini belum lagi menampakkan batang hidungnya.
"Kok bisa sih, Sheno menyayangi mama ? Kan mama Ditha bukan mama kandung Arsheno dan adek Ilha," Papa Kuncoro sebenarnya sangat penasaran dengan Arsheno yang memperlakukan Arditha layaknya ibu kandungnya, padahal pria kecil itu tahu yang sebenarnya.
"Gak tau juga opa, pokoknya Sheno sayangnya sama mama." Ucapan anak kecil tentu saja tak perlu alasan, jika memang merasa nyaman maka itu sudah cukup bagi mereka.
"Ya sudah, sekarang Sheno masuk ke kamar lalu kerjakan tugas sekolahnya setelah itu persiapkan buku sekolahnya agar besok bisa menemui adek Ilha sebelum ke sekolah." Kebetulan besok kelas Arsheno mendapat giliran masuk siang.
"Oma gak pulang ?" Keingin tahuan dan perhatian Arsheno memang sangat besar berbeda dengan ayahnya yang super cuek.
"Kan adek Ilha butuh teman. Kasihan kan jika hanya ayah kalian yang temani adeknya," Papa Kuncoro tentu saja tak mungkin mengatakan jika ayah mereka dilarang mendekat sebelum menemukan Arditha, mama mereka.
__ADS_1
Sambil mengangguk-anggukkan kepalanya tanda mengerti, Arsheno berlalu dari hadapan papa Kuncoro dan memasuki kamarnya. Meskipun masih kecil namun Arsheno sangat mandiri. Ia melakukan perintah sang opa tanpa membantah. Papa Kuncoro pun masuk ke dalam kamarnya untuk beristirahat.
🌷🌷🌷🌷🌷