Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 79 》》 CK, BUKAN BEGITU, KEN


__ADS_3

Kemarahan Abimana pada sang istri harus ia tahan untuk sementara waktu. Pria itu memilih diam seribu bahasa daripada berbicara dalam keadaan emosi. Bisa-bisa semuanya menjadi semakin runyam.


Tiga hari sudah Abimana mendiamkan sang istri bahkan satu di rumah ia lebih banyak menghabiskan waktu di ruang kerjanya, sedangkan kedua buah hatinya ia titipkan di rumah kedua orang tuanya.


"Mas, ada apa sih ?!" Arditha pura-pura bertanya agar memancing suaminya untuk bicara.


"Gak ada, santai aja." Abimana menjawab sekenanya sebelum akhirnya berdiri dan meninggalkan meja makan.


"Tapi mas, aku mau bicara mengenai pemeriksaanku beberapa hari lalu," Melihat aksi diam Abimana maka Arditha memutuskan untuk memberikan penjelasan, mungkin saja pria itu bisa sedikit mengerti.


Abimana tak menghentikan langkahnya dan berlalu begitu saja dari hadapan Arditha. Bahkan untuk sekedar menoleh pun tak ia lakukan. Kekecewaannya pada sang istri masih memguasai perasaannya. Arditha hanya mengangkat bahunya cuek melihat Abimana melenggang ke ruang kerjanya.


"Ya sudah kalau gak mau bicara," Arditha membereskan meja makan dan mencuci piring bekas makan mereka. Dua hari yang lalu ART nya meminta ijin pulang kampung selama seminggu.


Arditha tahu kesalahannya sehingga Abimana diam seperti itu, dan ia berusaha menyelesaikannya, akan tetapi Abimana yang selalu menghindarinya membuat Arditha kesulitan untuk berbicara.


Banyak pertimbangan yang harus Arditha pikirkan akan tetapi Abimana yang egois dan hanya melihat dari tidak inginnya ia hamil tanpa ingin memberinya kesempatan untuk menjelaskan. Luka yang dalam tak akan bisa disembuhkan dengan mudahnya.


Karena kelakuan Abimana yang terkesan kekanak-kanakan, akhirnya Arditha memutuskan tak lagi membicarakannya. Biarlah pria itu melakukan aksi diamnnya selama yang ia mau. Arditha yang pada dasarnya memang cuek tak lagi peduli.


Arditha memilih tidur untuk menyiapkan diri menghadapi hari esok. Pekerjaannya sudah menumpuk, ia tak ingin lagi ,menambah beban pikirannya.


Mentari pagi kembali memperlihatkan diri menyapa para penghuni semesta. Sinarnya kemasan memaksa embun pagi menghilangkan jejaknya. Arditha pun bangun dan menyiapkan sarapan. Berhubung ART sedang pulang kampung maka semua pekerjaan dapur ia tangani sendiri.

__ADS_1


Dua puluh menit kemudian, nasi goreng seaafood dan telur mata sapi sudah tertata rapi diatas meja makan. Arditha bergegas kembali ke kamar agar bisa bersiap ke kantor. Hari ini jadwalnya di kantor sedikit padat. Vanya akan segera melangsungkan pernikahan olehnya itu bertemu dengan klien diambil alih oleh Arditha.


Jam menunjukkan pukul 07.15 kala Arditha keluar dari kamar. Ia langsung ke meja makan untuk sarapan sebelum ke kantor. Arditha menarik napas panjang karena hingga jam segini Abimana belum juga menyantap sarapannya. Arditha memutuskan untuk memanggil suaminya.


Tok tok tok


"Mas ,,, mas Abi, sarapan yuk," Arditha mengetuk pintu berkali-kali sambil memanggil pria tersebut. Namun selama bagaimanapun Arditha memanggil akan tetapi pria itu sama sekali tak menjawabnya.


Tak ingin terlambat ke kantor, akhirnya Arditha menyerah dan kembali ke meja makan. Meskipun ruang kerja tersebut milik suaminya namun Arditha tak akan masuk jika tak dipersilahkan.


Sambil sarapan, Arditha terus berpikir melihat perubahan Abimana. Mungkin mereka butuh waktu untuk saling introspeksi diri. Arditha dengan traumanya dan Abimana dengan kekecewaannya. Benar kata orang luka di badan karena sebuah pukulan dapat disembuhkan namun luka hati karena kata-kata dan perbuatan butuh waktu untuk menyembuhkannya.


Selesai sarapan Arditha bergegas keluar rumah dan melihat mobil sang suami tak ada pertanda orangnya sudah berangkat ke kantor.


'Mungkin mas Abi gak ingin bertemu denganku,' Arditha meringis. Mantan duda itu benar-benar kekanak-kanakan.


"Ken, adikmu gak mau mengandung anakku dan malah melakukan program KB, kamu tahu kan akibatnya jika seorang wanita belum pernah hamil," Tanpa basa basi Abimana mulai mengeluhkan kelakuan Arditha.


"Gak mungkin kan kamu menyuruhku menghamili adikku sendiri ?!" Kenan tak lagi menyembunyikan kekesalannya.


Kenan tahu alasan Arditha melakukan hal itu namun ia tak mungkin membela adiknya karena bagaimanapun tindakan yang dilakukan Arditha juga salah.


"Ck, bukan gitu Ken, aku tuh kesini minta solusi bukan mendengar kata-kata gilamu," Abimana tak kalah kesalnya. Harapannya hanya pada Kenan seorang, ia tak ingin melibatkan para orang tua dalam masalah ini.

__ADS_1


"Kamu sudah membahasnya dengan Arditha, kan ?!" Kenan menatap Abimana dengan wajah serius.


"Sudah tiga hari kami tak saling menegur lebih tepatnya aku yang mendiamkannya bahkan aku tidur di ruang kerja. Aku sangat kecewa Ken," Wajah Abimana terlihat frustasi saat ini. Sesungguhnya ia tak bisa tidur tanpa memeluk sang istri namun iapun tak kuasa membendung rasa kecewanya.


"Arditha gak mengajakmu bicara ?!" Kenan kembali bertanya kali ini tubuhnya sedikit ia condongkan ke depan seolah tak sabar mendengar jawaban pria dengan sepulang masalah.


"Semalam ia mencoba berbicara denganku tapi aku gak menggubrisnya agar ia sadar apa yang dilakukannya adalah salah," Jujur Abimana dengan tatapan kosong.


Plaaakkkk


Pukulan Kenan tepat mengenai kepala Abimana sehingga pria itu melotot tak terima.


"Kamu melakukan kesalahan besar, kenapa kamu malah memperlakukannya seperti itu. Arditha merupakan salah satu manusia tercuek di dunia. Jika dia ingin berbicara denganmu berarti wanita itu ingin menyelesaikannya dengan baik dan mencari solusi. Syukur-syukur jika dia mengalah. Tapi kamu malah semakin memperbesar masalah yang ada." Kenan menaikkan nada bicaranya satu oktaf. Sahabatnya ini benar-benar hanya pintar menangani perusahaan tapi menghadapi istrinya sendiri nol besar.


"Apa yang harus aku lakukan ?!" Abimana spontan tersentak mendengar ucapan Kenan. Ia melupakan sifat cuek wanitanya.


"Berdoa sebanyak yang kamu bisa," Jawab Kenan menatap sinis Abimana.


"Lagian Arditha melakukan hal itu karena kelakuanmu juga. Aku bukannya ingin membela adikku tapi semuanya berawal dari lisanmu. Seharusnya kamu itu berusaha lebih keras meyakinkan istrimu agar traumanya hilang karena hanya itu kunci permasalahan kalian, " Kenan kembali mengomeli Abimana yang kini hanya menatapnya dalam diam.


Dalam hati Abimana membenarkan semua ucapan Kenan. Dengan melakukan aksi diam malah semakin memperbesar jarak diantara mereka.


🌷🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Selamat siang readers,,,


Selamat menjalankan ibadah puasa bagi yang melaksanakannya


__ADS_2