
Kebahagiaan Kenan tak dapat disembunyikan kala melihat sosok sang adik menyambutnya di depan pintu. Pria dewasa itu langsung memeluk sang adik kesayangannya.
"Meluknya biasa aja kali, bang. Aku gak bisa napas," Arditha mendorong pelan tubuh besar Kenan agar napasnya kembali normal.
"Melepas rindu tuh emang gitu, dek." Kenan berusaha kembali memeluk tubuh Arditha yang walaupun tergolong tinggi namun tetap terlihat kecil dibandingkan tubuh kekar sang abang.
"Stop bang, jangan lebay. Kemarin kita ketemuan dan hari ini bertemu lagi, kangen darimana coba." Arditha mulai kesal dan merasa dipermainkan oleh Kenan. Padahal sebenarnya Kenan memang sangat merindukan momen seperti ini. Memeluk sang adik dengan hangat dan penuh kasih sayang. Sejak pernikahan Arditha dan Abimana, adiknya itu tak pernah lagi memeluknya. Hanya tatapan datar bin dingin yang selalu ia dapatkan.
Mendengar suara ribut-ribut di depan pintu, mama Sherly pun keluar dan hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala melihat interaksi kedua anaknya. Saat bertemu mereka berubah layaknya anak kecil. Saling menyalahkan lalu berdebat dan selanjutnya tertawa.
"Kalian bukan anak kecil lagi yang harus selalu bercanda setiap kali bertemu," Mama Sherly menegur keduanya yang sedang mode on debat.
"Astaga mama, biarkan kami menikmati pertemuan ini. Asal mama tahu kemarin adalah pertemuan kami yang pertama setelah setahun lebih dan itupun tanpa pelukan hangat seorang adik," Kenan tiba-tiba curhat pada mama Sherly mengenai perlakuan Arditha padanya.
Arditha melenggang memasuki rumah, pura-pura tak mendengar keluhan sang abang yang terdengar lebay menurutnya. Lagian hanya tak ada pelukan saja dipersoalkan bagaikan tanahnya dijual berhektar-hektar.
Akhirnya mama Sherly mengikuti Arditha masuk ke dalam rumah disusul oleh Kenan. Kali ini Arditha menggeret kopernya menaiki anak tangga menuju kamarnya semasa belum menikah. Tak tega melihat adiknya berjuang dengan koper besarnya, Kenan lalu mengambil alih koper Arditha.
__ADS_1
"Thanks abang sayang," Arditha tersenyum semakin mungkin dan dibalas oleh Kenan dengan mengacak-ngacak rambut hitam gadis itu.
Setelah meletakkan koper Arditha, Kenan kembali keluar dan masuk ke dalam kamarnya meninggalkan Arditha. Kamar yang ia tinggalkan sekian lama ternyata masih seperti dulu, tak ada yang berubah bahkan tak ada debu sedikitpun. Perlahan Arditha membaringkan tubuhnya diatas kasur empuk miliknya. Tenang dan damai yang ia rasakan sehingga tanpa disadari mata Arditha sudah terpejam mengembara ke dunia mimpi.
Sementara disebuah rumah mewah pasangan mama Kalisha dan papa Kuncoro sedang terjadi aksi banjir airmata oleh kedua anak kecil yang tak berhenti mencari sang ayah yang tiba-tiba menghilang bersama mama mereka.
"Oma, kami bukan anak kecil yang tidak mengerti apa yang terjadi sesungguhnya," Arsheno menatap oma dan opanya dengan deraian airmata. Hal yang sama dilakukan oleh Arbilha. Kakak beradik itu memang selalu kompak dalam segala hal.
"Sayang, dengerin oma. Ayah kalian akan datang kalau pekerjaannya diluar kota sudah selesai." Mama Kalisha menatap papa Kuncoro dengan tatapan mengiba memohon bantuan. Sungguh ia tak mampu berbicara dengan Arsheno yang terkadang pemikirannya terlalu dewasa.
Tanpa berbicara papa Kuncoro mendial nomor Abimana dengan menyalakan loudspeakernya agar kedua bocah namun memiliki pemikiran dewasa itu mendengar sendiri suara ayah mereka. Papa Kuncoro hanya berdoa agar Abimana tidak berbicara mengenai Arditha.
Ponsel Abimana berdering nyaring sehingga memaksa matanya terbuka lebar dan merokok satunya agar bisa menjawab panggilan seluler tersebut. Sesaat alisnya mengernyit melihat ID pemanggil adalah papanya tercinta.
"Assalamualaikum pa, aku masih di perjalanan dari bandara." Ucapan Abimana membuat papa Kuncoro bernapas lega sambil melirik mama Kalisha.
"Waalaikumsalam, kamu langsung ke rumah ya, anak-anak sudah kangen katanya," Mama Kalisha semakin membuat Abimana bingung. Bagaimana bisa ia datang tanpa Arditha. Apa maksud mama ?
__ADS_1
"Gak usah banyak pikir. Sekarang anak-anak sangat merindukan ayahnya," Mama Kalisha kembali melanjutkan untuk mencegah kata-kata yang tak diinginkan keluar dari mulut putranya.
"Kami kangen ayah,,," Kompak Arsheno dan Arbilha berteriak.
Rasa rindu Abimana sedikit terobati mendengar suara anak-anaknya. Sekian lama tak bertemu dengan mereka membuatnya tak sabar ingin segera tiba di rumah sang mama.
Detik berikutnya senyuman Abimana berganti ringisan. Ia harus menyiapkan kata-kata yang tepat jika kedua buah hatinya bertanya tentang keberadaan Arditha. Bayangan Arditha seketika membuat Abimana larut dalam lamunannya. Bayangan wajah Arditha yang berderai airmata membuatnya semakin merasa bersalah. Peristiwa setahun yang lalu masih membekas dalam ingatannya.
Abimana semakin gelisah kala memasuki area pemukiman elite dimana kediaman kedua orang tuanya berada. Ia belum menyiapkan kata yang tepat untuk menjawab pertama kedua buah hatinya tentang keberadaan Arditha. Sejak kepergian Arditha, baru kali ini ia menemui anak-anaknya. Selama ini ia hanya melihat keduanya dari kejauhan.
Disaat Abimana akan menemui mereka untuk melepas rindu yang selama ini ia tahan namun disisi lain pasti akan ada pertanyaan dari kedua bocah itu.
Taksi yang membawanya pada akhirnya berhenti di depan sebuah organisasi tinggi. Abimana segera keluar dari mobil, ia kini pasrah dan akan menjawab apa adanya jika kedua anaknya mempertanyakan keberadaan Arditha. Keduanya pasti akan mengerti walaupun mungkin memakan waktu karena kedua anak sok dewasa itu terlalu menyayangi Arditha.
🌷🌷🌷🌷
SELAMAT MALAM READERS KESAYANGAN.
__ADS_1
DUKUNGANNYA JANGAN LUPA YA