Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 84 》》SAH


__ADS_3

Waktu terus bergulir hingga jam menunjukkan pukul 08.30 pagi. Mama Sherly dan para keluarga inti mulai mengatur proses keberangkatan mereka menuju rumah calon mempelai wanita. Senyuman bahagia Kenan tak pernah lepas dari wajahnya tampannya.


Arditha dan Abimana beserta kedua anak mereka pun berjalan menuju mobil mereka diikuti oleh mama Kalisha dan papa Kuncoro. Abimana memang tak membiarkan sang papa untuk membawa mobil sendiri.


Iring-iringan mobil keluar dari halaman rumah mama Sherly dan selanjutnya mengarah ke jalan raya menunjukkan rumah calon mempelai wanita.


Selama perjalanan, Arditha lebih banyak diam dan hanya sesekali menimpali cerita kedua anaknya. Hal itu membuat Abimana merasa heran. Pasalnya antara Arditha dan kedua anaknya sangat akrab layaknya anak dan ibu kandung. Ada apa gerangan wanita di sampingnya ?


"Yang, apa ada yang mengganggu pikiranmu ?!" Abimana melirik sejenak pada sang istri lalu kembali fokus ke jalan raya yang mereka lewati.


"Gak kenapa-kenapa, mas," Arditha pun melirik sejenak dan tersenyum tipis terkesan dipaksakan.


Bukannya puas dengan jawaban sang istri. Abimana justru semakin penasaran. Biasanya seorang wanita jika mengatakan tidak kenapa-kenapa maka yang terjadi adalah sebaliknya. Istrinya pasti memikirkan sesuatu.


Abimana tak ingin memperpanjang pertanyaannya yang nantinya berujung pada perdebatan. Ada dua anak kecil yang tak boleh mendengar perdebatan orang dewasa. Apalagi mereka adalah orang tua anak-anak yang masih polos itu. Namun Abimana tetap menyimpan rasa ingin tahunya tentang isi kepala sang istri.


"Wah, mewah banget tenda pengantin Vanya, " Mata Arditha berbinar menatap tenda mewah yang dipenuhi hiasan bunga segar.


"Bener ma, Ilha nanti kalau menikah pingin tenda kayak gini juga," Ucapan Arbilha yang spontan tak urung membuat Arsheno mendelik tajam.

__ADS_1


Abimana terkekeh mendengar ucapan gadis kecilnya. Sedangkan Arditha mengusap lembut kepala sang gadis kecil.


"Nanti kalau Ilha menikah pasti mama akan membuatkan pesta yang sangat meriah. Seorang gadis yang menikah memang harus berkesan karena itu akan menjadi sejarah dalam hidupnya yang akan diingat hingga tua." Arditha tersenyum lembut. Ia tak menyadari jika ucapannya menjadi sebuah tamparan keras bagi Abimana yang berdiri tepat di sampingnya.


"Masuk yuk ma, om Kenan sudah masuk tuh." Arsheno menarik tangan Arditha agar mengikutinya.


'Maafkan aku, Yang. Setelah ini aku akan mengadakan pesta untukmu.' Abimana menatap punggung Arditha yang semakin menjauh.


Tak ingin ketinggalan acara sakral sahabat sekaligus kakak iparnya, akhirnya Abimana bergegas menyusul sang istri memasuki rumah calon mempelai wanita. Tampak Arditha dan kedua anak serta kedua orang tuanya dan mama mertuanya duduk di arisan paling depan. Abimana pun mendekati sang istri dan memangku Arbilha yang duduk disamping Arditha. Lagi-lagi Abimana menangkap sesuatu yang tak biasa dari tatapan bahagia wanita disampingnya.


Abimana meraih tangan Arditha dan dengan perlahan menggenggam kemudian mencium tangan seputih mutiara itu dengan penuh perasaan. Rasa bersalah memenuhi rongga dadanya hingga napas terasa sesak. Arditha menatap pria yang juga sedang menatapnya dengan tatapan bersalah.


Meskipun Arditha terlihat bahagia namun sebagai pelaku utama, Abimana tak mampu menghilangkan rasa bersalahnya.


"Kitapun harus menggelar pesta, setidaknya untuk menyambut adik-adik Arsheno dan Arbilha. Semoga mereka segera hadir dalam hidup kit,a." Abimana berbisik dan sedikit menghembuskan napasnya sehingga membuat Arditha merinding.


"Jangan aneh-aneh masss, bang Kenan sedang mengucapkan ijab qabulnya." Arditha sedikit mendes** sembari menjauhkan kepalanya dari Abimana. Arditha bisa merasakan wajahnya memanas. eruntung saat ini ia memakai blush on sehingga wajah merahnya tertutupi.


Dengan suara lantang dan penuh keyakinan, Kenan mengucap janji suci atas nama Vanya Adelia Putri. Senyuman manis dan bahagia membingkai wajah cantik Arditha. Sejak dulu ia sangat mengharapkan kelak sahabatnya yang akan menjadi pendamping abang kesayangannya dan ternyata Sang Pengatur Kehidupan mengabulkan harapannya.

__ADS_1


Kata SAH terdengar dari para saksi dan tamu memenuhi ruangan. Mama Vanya pun lalu berdiri dan berjalan menuju kamar pengantin untuk membawa sang mempelai bertemu dengan mempelai pria. Lagi-lagi Arditha mengingat bagaimana dirinya saat menjadi mempelai. Senyum getir kembali menghiasi bibirnya.


"Maafkan aku, Yang." Abimana tak kuasa menahan rasa bersalahnya. Ingin rasanya membayar semua kesedihan yang dulu dialami wahitanya saat ini juga. Seandainya saja waktu bisa kembali terulang Abimana pasti akan memperbaiki kesalahannya pada Arditha terlebih dahulu.


"Apa sih mas, , sejak tadi minta maaf melulu. " Arditha menatap Abimana yang saat ini pun sedang menatapnya.


"Setelah pulang kita bicarakan ya," Abimana menatap lembut Arditha.


Pembicaraan mereka seketika terhenti karena kedatangan Vanya yang terlihat sangat cantik dan anggun dengan kebaya yang melekat sempurna pada tubuhnya. Kebaya berwarna gading berhiaskan swarosky semakin menyempurnakan kecantikan seorang Vanya.


"Tante Vanya cantik ya, ma." Arbilha menatap Arditha dengan mata berbinar. Sungguh gadis kecilnya ini sudah bisa menilai kecantikan seseorang.


"Ck, lebih cantik mama, dek. Nanti istriku harus yang seperti mama." Arsheno menimpali sang adik dengan acuh.


"Jangan yang seperti mama, nak. Yang mirip boleh." Abimana setengah dongkol meralat ucapan pria kecil yang sejak tadi menempel terus pada istrinya.


Bahaya jika kepala Arsheno terus-terusan terisi dengan sosok Arditha. Pikiran Abimana rupanya sudah terlalu jauh berkelana sehingga memikirkan yang aneh-aneh.


🙏🙏🙏🙏

__ADS_1


Hai readers, maafkan othor yang baru nongol lagi. Kesibukan mengurus anak yang akan mengikuti kejuaraan tak bisa diabaikan. 🙏🙏🙏


__ADS_2