
"Dek, bisa kita bicara berdua ? Gak lama kok," Kenan mengekori adiknya menaiki tangga menuju ke kamar keduanya. Kenan sengaja memberi kode pada Abimana agar tak mengikuti mereka.
"Ada apa sih bang, aku gak enak lho sama Vanya kalau datangnya telat," Sebenarnya Arditha hanya ingin menghindar karena ia tahu apa yang akan dibicarakan oleh sang abang.
"Bentar aja dek, mumpung Abi masih cerita sama mama," Kenan tetap ngotot, pria muda itu harus menyadarkan adik kesayangannya dari kesalahan yang tidak seharusnya dilakukannya.
Dengan pasrah Arditha duduk di ruang televisi yang terletak di depan kamar mereka. Kenan pun duduk dihadapannya dengan wajah serius. Sebelum berbicara Kenan menatap wajah sang adik dan menarik napas panjang.
"Dek, bukannya abang membela Abi akan tetapi dia itu suamimu, pria yang harus kamu hargai dan hormati melebihi apapun. Jangan membuat kesalahan hanya karena ingin membalas kesalahannya dimasa lalu. Tolong buka hatimu dan lihat ketulusannya. Abang mohon kali ini saja sejenak kamu abaikan ego dan harga dirimu. Abang paham akan dirimu dan kemarahanmu tapi jangan berlebihan Dek, setiap orang memiliki kesempatan untuk memperbaiki diri. Mungkin kalian memang ditakdirkan untuk bersama selamanya." Dengan panjang lebar Kenan mencoba membuka hati dan pikiran Arditha agar bisa menerima pernikahannya.
Ada banyak hubungan yang harus dijaga dalam hal ini. Bagi Kenan dan mama Sherly lebih baik memelihara hubungan yang ada saat ini daripada memulai hubungan yang baru.
"Beri aku waktu bang, untuk saat ini semua itu terasa berat dan aku gak bisa berpura-pura baik sementara hatiku masih membara." Arditha mencoba jujur agar abangnya itu berhenti mendesaknya. Semua orang bisa mengatakan hal itu dengan enteng karena bukan mereka yang mengalaminya. Mereka hanyalah sebagai penonton dan penilai saja.
"Nah gitu dong, abang menunggu berita baiknya ya," Kenan berdiri dan mengusap lembut kepala sang adik. Kenan mengenal dengan baik adiknya.
Pembicaraan kakak beradik itupun usai. Arditha lalu masuk ke dalam kamarnya untuk bersiap-siap ke kantor. Jam sudah menunjukkan pukul 06.30. Tak lama kemudian Abimana pun masuk ke dalam kamar dan kembali memakai bajunya yang sejak kemarin. Ia tak memiliki baju ganti.
__ADS_1
"Honey, kita ke kantor barengan ya, tapi mampir dulu ke rumah agar aku bisa ganti baju." Abimana menatap penuh harap pada Arditha. Abimana ingin memulai segalanya dari awal agar kesempatannya tak sia-sia.
"Jangan memanggilku seperti itu, kak. Aku geli dengarnya." Arditha mendelik tajam mendengar panggilan Abimana padanya.
Abimana tak ingin berdebat namun ia tak akan pernah mengubah panggilannya pada sang istri. Begitupula dengan Arditha yang malas berdebat pagi-pagi, ia tak ingin moodnya rusak. Yang terpenting bagi Arditha adalah bahwa ia sudah mengutarakan ketidaksukaannya.
Arditha dan Abimana keluar dari kamar secara bersamaan dan bergegas menuruni tangga. Mama Sherly sedang duduk di ruang keluarga sedang nonton berita para artis tanah air.
"Ma, kami berangkat, " Arditha mencium punggung tangan sang mama seperti biasanya dan diikuti oleh Abimana.
'Semoga kalian selalu bahagia,' Mama Sherly berdoa dalam hati. Tak ada lagi yang ia inginkan di dunia ini selain melihat putra putrinya bahagia.
Arditha langsung masuk ke dalam mobil dan duduk di sebelah pengemudi. Ia tak ingin Abimana membukakan pintu untuknya. Terlalu lebay menurutnya. Abimana hanya bisa menarik napas panjang berusaha mengerti keadaan sang istri.
Perlahan namun pasti, Abimana melajukan mobilnya keluar dari halaman rumah mertuanya dan mengarah ke jalan raya menuju rumahnya yang dulu. Kali ini tujuannya Abimana selain berganti baju, ia juga ingin memperlihatkan jika kehidupannya saat ini tak lagi bersama masa lalunya.
"Jam istirahat nanti aku jemput ya, kita makan siang bareng setelah itu mas akan mengajakmu melihat rumah baru yang akan kita tinggali bersama Arsheno dan adik-adiknya," Abimana tak mengalihkan pandangannya dari jalan raya yang sudah mulai padat.
__ADS_1
Arditha tersentak kaget mendengar kata-kata Abimana. Terlalu dini baginya untuk membicarakan hal-hal yang seperti itu. Ada banyak pertimbangan bagi Arditha. Pada kenyataannya Arditha masih diliputi keraguan.
Akhirnya mobil Abimana memasuki halaman sebuah rumah mewah dan lalu memarkir mobilnya. Keduanya lalu turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah. Setelah satu tahun lebih akhirnya Arditha kembali menginjakkan kakinya di rumah yang sama sekali tak pernah memberinya rasa nyaman.
Abimana menarik tangan Arditha menaiki anak tangga menuju kamarnya. Tanpa ragu Abimana mendorong kamar yang hanya sempat Arditha lihat dari luar. Mata Arditha terbelalak melihat dinding kamar tersebut yang dulunya oenuh dengan foto-foto ukuran besar.
Sementara Abimana mengganti bajunya seolah tak terpengaruh dengan Arditha dengan mata terbelalak. Abimana membelakangi Arditha sambil tersenyum puas.
'Semoga setelah hari ini hatimu luluh honey, ' Abimana membatin dengan kesungguhan hati.
Untuk saat ini luluhnya hati Arditha dan menerimanya dengan baik adalah keinginan terbesar Abimana.
🌷🌷🌷🌷
SELAMAT MALAM READERS
MAAF BARU BISA UP, MAKASSAR BANJIR GAEZZZ
__ADS_1