
Baru saja Arditha mengemudikan mobilnya keluar dari area perusahaan PT. Bhi_Lha, ponselnya tiba-tiba berteriak meminta perhatian darinya. Melihat ID pemanggil adalah sang ratu maka ia memutuskan untuk menepikan mobilnya dan menjawab panggilan sang mama. Sudah menjadi kebiasaan mamanya jika menelepon topik pembicaraannya pasti panjang lebar dan pada akhirnya minta dijemput. Daripada salah arah dan harus putar balik maka keputusan terbaik adalah berhenti dan meladeni wanita kesayangannya.
“Assalamualaikum mama cantikku ,,,”
“Waalaikumsalam sayang, kamu dimana ?!” Suara lembut sang mama membuatnya sedikit geli. Biasanya nada lembut seperti itu hanya saat makan malam. Karena pagi hari Suara mama akan habis karena harus teriak-teriak membangunkannya.
“Baru aja keluar kantor ma, mau dijemput kan ?!” Tebak Arditha seperti kebiasaan sang mama. Ia dan abangnya memang menganjurkan agar mama mereka sering-sering keluar rumah agar tidak merasa kesepian karena anak-anaknya tak ada di rumah mulai pagi hingga sore.
“Kamu memang putri mama yang paling mengerti. Saat ini mama sedang di mall XXX kebetulan ketemu sama teman sekolah. Cepat ya kasihan dia jika terlalu lama menunggu mama dijemput.”
Arditha memutar bola matany jengah. Ada-ada saja yang dikatakan oleh mamanya. Jelas saja dirinya adalah putri mama Sherly yang paling mengerti bukankah anak mama hanya dirinya dan bang Kenan ?
“Suruh aja teman mama pulang, biasanya juga mama menunggu sendirian.” Arditha kini kembali ke jalan raya dan melajukan mobilnya menuju mall XXX dimana sang mama menunggunya.
Mama Sherly menatap layar ponselnya dengan kesal. Kebiasaan jelek putrinya tak pernah berubah, selalu memutuskan panggilan sepihak tanpa basa basi. Benar-benar anak gadis tengil dan tak busa diatur. Mama Sherly hanya bisa menari napas panjang. Marah pun bukan pilihan terbaik untuk mengubah seorang Arditha.
“Putrimu jadi kan jemput ??” Wanita paruh baya itupun penasaran dengan ekspresi teman sekolahnya dulu.
“Dia sudah di jalan, kok ,,,”
"Aku pingin banget ketemu sama dia, pasti cantik."
"Tentu saja cantik, siapa dulu dong mamanya." Mama Sherly terkekeh dengan ucapannya sendiri. Setiap ibu pasti mengatakan anaknya cantik dan baik.
Satu jam kemudian, mama Sherly melihat mobil putrinya dan segera melambaikan tangannya. Arditha pun mendekat dan keluar dari mobil mengangkat belanjaan sang mama.
“Kok lama banget sih, Dit ,,, kaki mama sampai pegel lho berdiri.” Mama Sherly mengomel seperti biasanya ketika putrinya itu melakukan kesalahan.
__ADS_1
“Macet ma, lagian kenapa juga mama ngemall hari kerja.” Arditha pun membalas omelan sang mama tak mau kalah.
Teman lama mama Sherly tersenyum melihat Arditha yang tak mau kalah. Ia baru pertama kali melihat gadis belia itu namun langsung menyentuh hatinya.
‘Cantik, cerewet, ceria dan tak mau kalah.’ Batinnya terus tersenyum.
“Oh ya Dit ,,, kenalin teman sekolah mama.” Mama Sherly memperkenalkan temannya yang baru pertama kali dilihat oleh Arditha.
“Ditha, tante ,,,” Arditha memperkenalkan diri dan mencium punggung tangan teman mamanya.
“Kamu cantik sekali, sayang,”
“Hehehe, orang-orang juga bilangnya gitu, tante ,,, tapi aku gak besar kepala kok. Percayalah,”
Wanita cantik di usia yang tak lagi muda itu tertawa mendengar ucapan Arditha. Tiba-tiba saja terlintas wajah beku, dingin dan datar timbullah sebuah ide cemerlang menguasai kepalanya.
“Mama sudah tua, tante ,,, tolong jangan perkenalkan dengan pria. Kan gak lucu kalau mama nikah lagi, lalu aku dan abang gimana ?!”” Ucap Arditha dengan wajah memelas.
“Ya, enggaklah nak, tante dan mamamu serta keluarganya harus sering-sering bertemu.” Wanita yang mengaku teman sekolah mamanya terkikik geli melihat ekspresi wajah Arditha sedangkan mama Sherly hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya melihat putrinya yang terlalu pandai berakting.
“Kami pamit dulu ya ,,,” Mama Sherly berpelukan dan cipika cipiki khas salam perpisahan para emak-emak seantero jagad raya.
Arditha perlahan menginjak gas meninggalkan pelajaran mall XXX yang merupakan mall termewah di ibukota. Tak lama kemudian mereka telah berada di jalan raya berpacu dengan para pengendara yang lain. Jalan raya semakin macet seolah tak mampu mengendalikan para pengguna jalan yang semakin membludak. Jam pulang kantor merupakan saat-saat terpadat di ibukota. Arditha berkonsentrasi penuh pada jalan di depannya. Tak ingin terjadi insiden jika sedikit saja ia mengalihkan perhatiannya. Jarak Mobil yang satu dengan yang lainnya terlalu rapat. Kesadaran lalu lintas tak terelakkan.
Tiga jam Arditha dan mama Sherly terjebak kemacetan hingga akhirnya mereka tiba di rumah. Arditha memarkir mobilnya asal karena kelelahan. Mobil sang abang belum terlihat sama sekali. Pria tampan itu memang lebih memilih mampir nongkrong menunggu kemacetan berlalu baru kemudian pulang.
“Jangan tidur sebelum makan malam ,,,,,” Mama Sherly mengingatkan anak gadisnya sebelum menaiki anak tangga menuju kamarnya. Kebiasaan jelek gadis beli itu kala tidur maka akan sangat susah untuk dibangunkan.
__ADS_1
Arditha hanya menganggukkan kepalanya tak berniat untuk mengeluarkan sebuah kata. Saat kelelahan seperti ini daya pengelolaan kata Arditha bekerja sangat tidak efektif. Ia hanya ingin menyegarkan diri dan bertemu dengan kasur empuk miliknya
Saat Arditha melakukan ritual mandinya, kejadian diluar kamar pun tak lagi menjadi perhatiannya. Gadis itu memilih asyik dengan dunianya sendiri dan berakhir di atas kasur miliknya. Senyum Arditha mengantarnya mengarungi dunia mimpi melupakan kata-kata sang mama sebelumnya.
“Arditha Trihapsari !!!!”
Duk duk duk
Suara nyaring mama Sherly memanggil namanya disertai gedoran di pintu kamarnya tak jua mengusik mimpi indah gadis cantik itu.
“Kenapa mama memilih membuang-buang suara percuma ? Kan ada kunci serep ,,,” Kenan yang baru saja tiba bergumam dengan sangat jelas sambil melewati sang mama yang masih berdiri di depan pintu kamar anak gadisnya.
Baru saja mama Sherly akan menyuruh Kenan mengambilkan kunci serep namun pria lajang itu sudah menutup pintu kamarnya. Mama Sherly tak ingin mengganggu putra sulungnya yang pasti lelah bekerja seharian sebagai pimpinan sebuah perusahaan. Mama Sherly memutuskan untuk mengambil kunci serep kamar putrinya.
“Dithaaaa !!! Bangun !!! Mama kan sudah bilang jangan tidur sebelum makan malam !!” Mama Sherly tak dapat menahan diri melihat gadis cantik itu tertidur pulas. Sebagai seorang ibu, ia hanya tak ingin melihat salah satu anaknya sakit karena asupan gizi yang masuk ke dalam tubuhnya tak seimbang.
Sayup-sayup Arditha mendengar seseorang memanggil namanya. Perlahan bola matanya bergerak mencoba menyesuaikan cahaya yang tertangkap oleh retinanya. Saat akan tidur, Arditha sengaja mematikan lampu agar busa tertidur pulas. Gadis itu memang selalu mematikan lampu saat akan tidur, alasannya klise namun masuk akal. Dalam keadaan gelap ia tak bisa mengkhayal sehingga membuat tidurnya tertunda.
“Mama hobby banget teriak-teriak, nggak pagi nggak malam, apa mama gak takut sesuatu terjadi dengan pita suaranya ?” Arditha mengucek-ngucek matanya sambil berusaha duduk sempurna diatas kasurnya.
“Dasar anak durhaka, ngomong suka asal ! Cepat bangun kita makan malam bareng.” Mama Sherly tak ingin dibantah. Ia sama sekali tak setuju jika Arditha mengabaikan makan malam dengan alasan tak ingin gemuk.
Tak ingin berperkara dengan pemegang keputusan tertinggi dalam rumah, Arditha mengikuti langkah kaki sang mama menuruti anak tangga satu per satu hingga akhirnya mereka berada pada anak tangga terakhir. Selanjutnya mata Arditha berbinar melihat beberapa menu menghiasi meja makan. Cacing diperutnya tiba-tiba memberontak meminta haknya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Hai readers, dua bab cukup ya hari ini.
__ADS_1