
Hari demi hari berlalu pun begitu halnya dengan minggu dan bulan. Waktu terus berputar tanpa ada yang bisa menghentikannya. Usia pernikahan antara Abimana dan Arditha pun sudah memasuki bukan keenam.
Kehidupan pernikahan merekapun tak ada kemajuan yang berarti. Arditha sibuk dengan segala urusan persiapan wisudanya besok. Sedangkan Abimana masih hidup dalam bayang-bayang masa lalunya. Namun Arditha tak pernah mengabaikan kedua bocah itu. Ia tetap mengurus dan menyayangi keduanya. Lambat laun Arditha mulai menerima keduanya dalam kehidupannya walaupun tak memperdulikan keberadaan ayah mereka.
Drrrrttttt drrrrttttt
Bunyi ponsel mengalihkan perhatian Arditha sejenak untuk melihat ID pemanggil, seketika senyumnya merekah manakala melihat sebuah nama pada layar ponselnya kemudian perlahan menepikan mobilnya lalu menjawab panggilan sang abang.
"Assalamualaikum abang sayang," Arditha menyapa sang abang dengan ceria. Sejujurnya ia sangat merindukan sang abang yang sudah beberapa lama tak bertemu dengannya.
"Waalaikumsalam, dek ketemuan yuk ditempat biasa," Kenan pun sangat merindukan adiknya yang walaupun sering menjadi korban akal-akalan adiknya itu.
"Ok bang, kebetulan aku sedang dijalan, sampai ketemu disana assalamualaikum," Arditha memutuskan panggilan secara sepihak sehingga membuat Kenan menggerutu tak jelas.
Arditha kembali ke jalan raya bergabung dengan para pengguna jalan. Ia sudah tak sabar untuk bertemu dan berbagi kebahagiaan dengan abang kesayangannya. Dulu ketika Arditha belum menikah, Kenanlah tempatnya bercerita banyak hal. Meskipun jarak usia mereka terbilang jauh namun sang abang bisa menempatkan diri pada usia sang adik.
Perlahan Arditha membelokkan mobilnya pada sebuah cafe tempat nongkrongnya bersama sang abang. Setelah mendapatkan parkiran, Arditha bergegas keluar dari mobil dan berjalan dengan langkah cepat memasuki Cafe tersebut. Ia melihat mobil Kenan sudah terparkir dengan rapi.
"Sudah lama bang ?" Arditha menarik kursi di depan Kenan yang menatapnya datar. Arditha sudah terbiasa dengan tatapan abangnya yang seperti itu karena memang seperti itulah pria yang berstatus sebagai abangnya sejak lahir.
"Gak juga tapi yang jelas sedikit lebih lama dari kamu," Kenan terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Keduanya kompak tertawa namun tetap membatasi suara agar tak mengganggu pengunjung yang lain.
"Abang sudah pesan, kan ?" Lambun Arditha sudah mulai meminta haknya sejak memasuki cafe.
"Sudah dong, selera untuk belum berubah kan ?!" Kenan sengaja menggoda Arditha. Sudah enam bulan adiknya menikah dengan sahabatnya namun sepertinya tak ada yang berubah dari adik kesayangannya ini.
"Soal selera mah gak akan pernah berubah, oh ya bang besok aku wisuda tapi gak usah bilang-bilang sama mama atau yang lainnya. Abang juga gak perlu datang." Wajah Arditha terlihat sangat serius sehingga membuat Kenan semakin penasaran dengan kehidupan pernikahan sang adik.
__ADS_1
"Lho, kok gitu sih dek ? Setidaknya suami kamu harus datang." Suara Kenan sedikit meninggi, ia tak mengerti jalan pikiran Arditha.
"Dia sibuk bang, gak usah diganggu."
"Bicara yang jelas dek, hari ini abang harus tahu semuanya." Kali ini Kenan benar-benar memaksa agar Arditha menceritakan apa yang dialaminya setelah menikah.
Arditha hanya meringis dan menyodorkan ponsel yang berisi rekaman suara pembicaraannya dengan Abimana beberapa waktu lalu dan video isi kamar istimewa Abimana. Mata Kenan seketika memerah setelah mendengar dan melihat video tersebut. Rahangnya mengeras menahan amarah, pikiran jernihnya masih berfungsi Kenan menyadari jika saat ini mereka sedang berada didepan umum.
"Abang akan berbicara dengannya !!" Desis Kenan menahan emosinya.
"Jangan sekarang bang, setelah aku wisuda aja ya ? Aku ingin menikmati momen bahagia pendidianku bersama teman-teman yang lain." Arditha menatap sang abang dengan tatapan memelas andalannya. Kenan tak pernah bisa membantah jika adiknya sudah menatapnya seperti itu.
"Ok, abang setuju tapi besok abang yang akan mendampingimu wisuda. Masa iya kamu wisuda tak dihadiri oleh keluarga. Orang perantauan saja keluarganya pada datang, "
"Sebahagianya abang aja deh, tapi jangan bilang-bilang mama, aku gak mau membebani pikiran beliau." Sejak awal menikah dengan Abimana, ia sudah bertekad tak akan menyeret sang mama ke dalam persoalan rumah tangganya.
Kenan menganggukkan kepala tanda setuju, keduanya lalu menikmati makan sore menjelang magrib. Kenan menganggapnya sebagai makan siang yang terlambat sedangkan Arditha menganggapnya makan malam yang terlalu cepat.
"Salam buat mama, bang." Arditha mencium punggung tangan Kenan sebelum masuk ke dalam mobilnya.
"Pasti. Sampai ketemu besok di kampus," Kenan mengusap sayang kepala Arditha. Kenan menatap iba adik kesayangannya. Ia salah menilai sahabatnya. Menyesal ?! Pasti Kenan sangat menyesal akan tetapi semua sudah terjadi, tak ada yang bisa ia lakukan.
Arditha hanya mengangkat jempol sembari tersenyum manis. Kebersamaan dengan sang abang mampu membuatnya merasa lega tetelah beberapa lama menyimpan beban hidupnya. Orang yang tepat untuk berkeluh kesah adalah saudara sendiri memang benar adanya.
Mobil Arditha dan Kenan meninggalkan pelataran parkir cafe secara beriringan. Pada pertigaan pertama yang mereka lewati, keduanya lalu berpisah dan saling membunyikan klakson seperti dulu. Arditha ke kiri karena jalan tersebut merupakan arah ke rumahnya sedangkan Kenan melajukan mobilnya lurus menuju rumahnya bersama sang mama.
Saat Arditha melihat rumahnya semakin dekat, ia menarik napas panjang sambil melirik jam tangannya. Arditha memastikan jika pria arogan itu sudah pulang kantor. Perlahan Arditha membelokkan mobilnya memasuki halaman luas itu dan memarkir mobilnya dengan rapi.
"Mamaaaa ,,,!!!" Teriakan dua jenis suara menyambutnya memberikan kebahagiaan yang tak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Mereka sudah membangun hubungan layaknya ibu dan anak tanpa mereka sadari. Walaupun Arditha masih menyebut dirinya kakak jika sedang berbicara dengan kedua anak itu.
__ADS_1
"Hai sayang, maaf ya kakak telat pulang. Gimana sekolah kalian ?" Arion memeluk mereka dengan hangat secara bergantian.
Mendengar teriakan kedua anaknya, Abimana keluar teras dengan wajah ditekuk. Arditha tak menggubrisnya, urusannya dengan kedua anak sambungnya bukan dengan pria itu.
"Minaaaaa !!!" Teriakan Abimana membuat semua yang mendengarnya kaget. Tak terkecuali kedua anak kecil dalam pelukan Arditha.
"I ,,, iya pak," Mbak Mina datang dengan berlari.
"Bawa Sheno dan Ilha masuk ke kamar !!" Abimana memerintah khas cara arogannya.
Tanpa menunggu perintah dua kali, mbak Mina segera melaksanakan perintah majikannya. Arsheno dan Arbilha pun menurut namun tak urung melempar tatapan kesal pada ayah mereka. Setelah pintu kamar kedua anak itu tertutup rapat, Abimana menatap Arditha dengan tatapan membunuh.
"Untuk kesekian kalinya aku pulang tapi kamu tak di rumah ! Kemana saja kelayakan setiap hari !!" Datar, dingin dan mengintimidasi memancing emosi Arditha.
"Saya keluar karena urusan kampus dan hari ini terlambat pulang karena diajak ketemuan sama bang Kenan !!" Arditha tak kalah dingin namun terdengar penuh penekanan tanda sedang berusaha menekan amarahnya.
"Alasan !! Kalau kamu selama ini pulang telat karena jalan dengan pacarmu dan mengabaikan kedua anakku maka mulai saat ini hentikan semuanya ! Putuskan hubungan kalian !!"
"Bisa gak sih otak bapak diservice sedikit agar pikirannya sedikit lurus ?! Asal bapak tahu, selama beberapa hari ini aku sedang sibuk ujian dan sebagainya. Besok aku wisuda." Arditha akhirnya mengatakan puncak bahagianya sebagai seorang mahasiswi.
"Alasan !!" Abimana meninggalkan Arditha dengan emosi yang memuncak. Akhir-akhir ini ia sudah menahan amarahnya. Jika saja ia tak sekuat tenaga menahan emosinya mungkin saja sudah terjadi sesuatu yang tak diingikan.
Entah mengapa Abimana merasa Arditha masih berhubungan dengan kekasihnya. Ia ingin mereka memutuskan hubungan namun Abimana tak tahu harus bagaimana memberitahukan pada Arditha agar gadis itu menurut.
Arditha hanya mengedikkan bahu mendengar Abimana tak mempercayainya. Adalah hak pria itu jika tak mempercayainya dan ia tak bisa memaksakan kehendaknya. Arditha pun perlahan memasuki rumah mewah itu dan menapaki anak tangga satu per satu. Arditha lelah seharian berada di luar rumah, ia membutuhkan istirahat yang cukup agar besok terlihat segar saat wisuda. Senyum bahagia kembali menghias bibirnya dan melupakan kekesalannya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Nah, kira-kira apq yang akan terjadi selanjutnya, ya ????
__ADS_1
Selamat membaca readers, jangan lupa selalu bahagia bersama keluarga dan orang-orang tercinta.