
Kenan merasa khawatir dengan keadaan mama Sherly. Semak mereka kembali beberapa hari yang lalu hingga hari ini mama Sherly lebih banyak diam dan merenung. Diam-diam Kenan menyesal karena baru mengatakan yang sebenarnya pada sang mama. Seandainya sejak awal ia bercerita mungkin keadaan sang mama tak seperti ini. Beribu-ribu seandainya bercokol dalam kepala cerdas seorang Kenan. Ia tak menyalahkan siapapun atas apa Yang menimpa adik kesayangannya. Semua sudah takdir Arditha.
"Mama gak niat ngumpul bareng teman-teman mama kayak dulu ? Atau sekedar shoppimg ? Tahun ini perusahaan kita makan maju pesat lho dan alhamdulillah pendapatan juga lebih dari biasanya, berkat doa mama." Kenan berusaha membangkitkan gairah berbelanjanya.
"Tapi berkat kata-kata mama juga adikmu menikah dengan duda," Mama Sherly rupanya menyalahkan dirinya membuat Kenan harus berusaha lebih keras untuk menghilangkan rasa bersalah sang mama.
"Mama gak perlu merasa bersalah, semua sudah menjadi suratan takdir sebelum Arditha lahir." Kenan harus lebih berhati-hati dalam berbicara, untuk saat ini apapun ucapan Kenan bisa saja disalah artikan oleh sang mama.
Daripada selalu khawatir jika sang mama tinggal seorang diri saat Kenan berangkat ke kantor maka pria itu memilih bekerja dari rumah untuk sementara waktu. Sebagai seorang anak tentu saja Kenan tak ingin sesuatu yang buruk terjadi pada mamanya.
__ADS_1
Saat Kenan sedang berbicara dengan sang mama, tiba-tiba layar ponselnya berkedip disertai bunyi "bip" menandakan sebuah pesan masuk. Alisnya berkerut menatap sebuah nomor asing. Kenan segera membuka pesannya dan ternyata pesan tersebut dari seseorang yang membuat sang mama merasa bersalah. Namun Kenan tak memberitahukan mama Sherly.
"Siapa Ken ?!" Sifat kepo mama Sherly mulai kembali membuat Kenan sedikit lebih tenang. Ini adalah salah satu tanda-tanda sehatnya sang mama.
"Biasa ma, rekaman perusahaan, " Kenan tak mungkin mengatakan jika itu adalah Arditha. Sebelum mengetahui dengan jelas keadaan adiknya maka ia tak akan mengatakan apapun pada sang mama. Apalagi hingga saat ini tante Rani selalu datang dn menanyakan keberadaan Arditha.
"Jangan hanya membina hubungan dengan rekan bisnis, mama ingin kamu segera menikah, umurmu sudah matang untuk sebuah pernikahan, perusahaan pun sudah berkembang pesat walaupun bukan yang terbesar tapi cukup untuk menafkahi istri dan anak-anakmu kelak," Perkataan mama Sherly yang panjang kali lebar membuat Kenan tersenyum lebar. Fix mama Sherly sudah sehat dan bisa menerima kenyataan.
"Bicara pernikahan denganmu mengurus emosi mama," wanita paruh baya itu lalu berdiri dan meninggalkan Kenan. Melihat mama Sherly berdiri dan berjalan masuk ke dalam kamar membuat Kenan menarik napas lega.
__ADS_1
Tanpa membuang-buang waktu Kenan langsung menelepon nomor Arditha namun tak diangkat. Dua kali Kenan berusaha menghubungi nomor tersebut namun hasilnya tetap sama. Akhirnya Kenan memutuskan untuk mengirimkan pesan, mungkin Arditha belum siap untuk berbicara dengannya.
Sementara Abimana masih terus berusaha mencari keberadaan Arditha. Tak puas hanya menyewa satu detektif, Abimana pun berusaha mencari detektif swasta yang memiliki reputasi yang bagus dalam bidangnya.
Meskipun sudah memiliki beberapa orang yang ditugaskan untuk mencari keberadaan Arditha namun Abimana pun tak tinggal diam. Iapun tak pernah bosan mengunjungi kantor Kenan walaupun akhir-akhir ini tak pernah berhasil menemui sahabatnya itu.
Abimana tak pernah menemui kedua anaknya bukan karena tak rindu atau tak lagi menyayangi mereka, hanya saja pria itu tak tahu bagaimana harus menjawab jika mereka bertanya tentang keberadaan mamanya. Selain itu ia tak diijinkqn bertemu dengan kedua anaknya sebelum berhasil membawa pulang Arditha. Mama Kalisha memang tak memakai hati saat menghukum putranya.
Segala usaha tetap Abimana lakukan untuk menemukan keberadaan Arditha namun rupanya takdir belum bersedia mempertemukan mereka. Abimana hanya menanamkan prinsip pada dirinya sendiri bahwa setiap usaha pasti akan ada hasilnya, biarlah waktu yang akan menentukan.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷