Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 58 》》 HARAPAN KENAN


__ADS_3

Seakan berlomba dengan mentari pagi, Arditha bangun dan langsung mandi lalu bersiap tak lupa dengan dandanan yang terlihat sedikit lebih dewasa. Hari ini adalah hari penting dan ia harus terlihat menarik agar bisa meyakinkan para tamu untuk menggunakan jasanya.


"Selamat pagi ma," Arditha menyapa sang ama yang tengah sibuk dengan alat masaknya.


"Selamat pagi sayang, " Mama Sherly hanya melirik sekilas anak bungsunya lalu kembali mengadakan nasi goreng yang akan disediakan.


Setiap pagi mama Sherly memang selalu menyiapkan sarapan untuk putra putrinya walaupun sudah ada yang membantunya namun sarapan merupakan kewajiban bagi sang mama.


"Mama jadi ikut kan ?" Arditha menatap mama Sherly yang sedang membelakanginya. Arditha duduk manis menunggu nasi goreng buatan mama tersayang.


"Ikut dong tapi sama abang, kalau mama ikut sama kamu terlalu pagi, mama belum mandi dan harus dandan juga kan," Mama Sherly membawa nasi goreng ke meja makan dan sebagiannya langsung berpindah ke piring Arditha.


"Dandannya jangan terlalu cantik ma, ntar malah mama yang dilamar orang dan akunya gak laku," Arditha terkekeh sengaja menggoda sang mama.

__ADS_1


"Jangan asal ngomong, mana ada seperti itu. Umur mama sudah setengah abad." Mama Sherly mendelik tajam sebelum menyendok nasi goreng ke piringnya.


"Eits, jangan salah ma, justru umur segitu yang disukai para duda yang hidup sendiri dalam jangka waktu lama," Arditha tak mau kalah. Ada-ada saja kata yang bisa ia gunakan untuk mendebat mama Sherly.


Mendengar perbincangan kedua wanita terpenting dalam hidupnya membuat Kenan terkekeh dan ikut duduk menikmati sarapan. Walaupun belum berpakaian rapi namun Kenan sudah mandi. Kebiasaan pria itu setiap pagi.


"Sudahlah ma, jangan berdebat dengan gadis ini dijamin mama gak bakalan menang . Kosan katanya terlalu banyak," Kenan menimpali lalu duduk berhadap-hadapan dengan Arditha.


"Jadi perempuan memang harus gitu bang, coba perhatikan perempuan-perempuan yang hanya diam dan menerima perlakuan kaum pria, sebagian besar mereka menderita dan aku gak mau jadi bagian dari mereka. Perempuan itu harus kuat, jangan mau ditindas." Arditha menghentikan makannya dan berbicara berapi-api seolah-olah ia sedang berorasi tentang hak perempuan ditengah khalayak ramai.


Sontak Arditha terdiam dan melanjutkan makannya. Kalau ia terlambat maka Vanya akan mengomelinya layaknya ibu-ibu kompleks yang ditagih cicilan pancinya. Akhirnya Arditha menyelesaikan sarapannya dan segera pamit.


"Ma, bang, aku berangkat. Kalian jangan telat." Arditha mencium punggung tangan mama Sherly dan Kenan bergantian. Kebiasaan Arditha selalu mencium punggung tangan mereka jika akan berpamitan.

__ADS_1


"Bang, jangan lupa karangan bunganya," Arditha kembali mengingatkan sang abang akan tugasnya sebagai klien pertamanya sebelum melenggang keluar rumah


"Iya, kemarin abang sudah pesan yang paling besar," Kenan tersenyum menatap adik kesayangannya.


'Semoga kamu sukses dan kebahagiaan hidup mengiringi langkahmu, dek.' Kenan sangat menyayangi adiknya dan selalu berharap segera menemui kebahagiaannya.


Setiap kali Kenan melihat sang adik, sebagai seorang kakak yang sangat menyayangi adiknya, Kenan tak henti-hentinya berdoa dalam hati akan kebahagiaan adik satu-satunya yang ia miliki. Jika memang Abimana bukan pria tepat yang bisa membahagiakan adiknya maka Kenan berharap ada pria lain yang bisa melakukannya.


Perlahan mobil Arditha meninggalkan halaman rumahnya untuk selanjutnya bergabung dengan para pengguna jalan raya yang lain.


🌷🌷🌷🌷


Selamat sore readers,,,,

__ADS_1


Beberapa bab lagi ceritanya tamat ya, tolong dong dukungannya


__ADS_2