Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 70 》》 OK, KAMI BERJANJI


__ADS_3

Selesai makan malam, Abimana sengaja mengajak kedua anaknya ke kamar tidur mereka. Sejak siang kedua anak itu sudah mengatakan akan tidur dengan mama mereka. Sebuah ide cemerlang tiba-tiba berkelebat dalam otak cerdasnya yang sedikit licik.


"Kita berempat akan tidur disini," Abimana tersenyum pada kedua anaknya yang juga sedang menatapnya.


"Aku dekat mama," Si gadis kecil sudah mulai menampakkan keegoisannya.


"Aku juga mau dekat mama," Kali ini suara tegas Arsheno pun terdengar tak mau mengalah.


"Eh, kalian jangan bertengkar. Pokoknya kalian berdua tidur dekat mama." Abimana lagi-lagi tersenyum lebar melihat kedua anaknya sangat menyayangi Arditha.


"Terima kasih ayah," Keduanya serentak memeluk Abimana dengan erat dan hangat. Tak terasa airmata pria itu menetes. Sesederhana ini kebahagiaan putra putrinya.


"Eh, kalian gak mau lagi kan kalau mama tiba-tiba menghilang kayak kemarin-kemarin ?" Abimana melirik pelukannya dan menatap mereka secara bergantian.


"Tentu ayah, kami gak mau lagi kehilangan mama," Dengan polosnya Arbilha mengatakan keinginan terbesarnya.


"Kalian mau punya adik kan ?" Abimana bertanya dengan hati-hati takut keduanya tak menginginkan seorang adik.


"Apa hubungannya kehilangan mama dan seorang adik ?!" Arsheno menatap sang ayah dengan wajah serius. Ia tak mengerti arah pembicaraan ayahnya.


"Kalau mama kalian hamil kan pasti akan melahirkan seorang adik, nah kalau kalian memiliki adik maka pasti mama gak mungkin akan menghilang,"Abimana berusaha menjelaskan dengan perlahan agar keduanya mengerti.


"Bagaimana caranya agar mama hamil ?" Arsheno masih menatap ayahnya itu. Ia sering mendengar kata hamil namun tak mengerti proses kehamilan seorang wanita.


"Mama sama ayah harus selalu bersama. Terutama kalau malam dan pagi-pagi." Abimana bersorak dalam hati melihat kedua anaknya manggut-manggut tanda mengerti.


"Tapi malam ini kami ingin tidur sama mama," Arbilha merajuk. Sejak lama ia merindukan tidur dalam pelukan seorang mama.


"Untuk malam ini gak apa-apa tapi mama dekat ayah juga. Dan selanjutnya kalian tidur di kamar masing-masing agar cepat memiliki adik takutnya nanti mama kalian pergi lagi," Abimana tak tanggung-tanggung meracuni otak anak-anaknya. Pria itu sangat tahu kelemahan anaknya.

__ADS_1


"Iya deh, kami mau daripada mama pergi lagi, tapi ingat harus secepatnya punya adik bayi," Arbilha tampak sangat antusias, teman-temannyq di sekolah semua memiliki adik hanya dia sendiri yang tidak memiliki adik sehingga saat teman-temannya menceritakan tentang adik mereka, Arbilha hanya diam dan menyimak.


"Ok, tapi ingat pembicaraan kita kali ini adalah rahasia," Abimana mengenal kedua anaknya yang tak dapat menyimpan rahasia jika tidak membuat perjanjian.


"Ok, kami berjanji." Ketiganya saling menautkan jari kelingking. Bersamaan dengan itu Arditha masuk ke dalam kamar tersebut. Diam-diam Abimana menarik napas lega, hampir saja ia ketahuan oleh target.


"Janji apaan nih, kok mama gak ikut ?!" Arditha mendekati Arbilha sambil tersenyum.


"Ma, bobok yuk. Aku ngantuk tapi ayah ngajak kita bicara." Arsheno memanfaatkan kesempatan untuk menarik perhatian sang mama.


"Sikat gigi dulu, lalu cuci kaki dan ganti baju supaya tidurnya nyenyak." Arditha mengingatkan keduanya rutinitas umum sebelum tidur.


Hubungan batin mbak Mina dan kedua anak asuhnya memang tak diragukan lagi. Baru saja Arbilha akan keluar namun pintu kamar mereka sudah diketuk pelan dari luar. Arditha segera berdiri dan membuka pintu kamar.


"Maaf bu, aku bawakan baju tidur den Sheno dan non Ilha." Mbak Mina menyerahkan dua pasang baju tidur anak-anak pada Arditha.


"Gak apa-apa mbak, malam ini mereka tidur bareng kami. Mbak Mina istirahat aja." Arditha menerima baju tersebut lalu kembali menutup pintu dan mbak Mina pun membalikkan badannya menuju kamarnya.


'Tenanglah disana, Yang. Anak-anak telah memilih seorang ibu yang tepat dan mas sangat mencintainya.' Abimana menengadahkan kepalanya menatap langit-langit kamar seolah sedang berbicara dengan almarhumah Sheila.


Selesai dengan urusan ganti baju kedua anaknya, kini giliran Arditha berganti baju. Tadi mama Kalisha meminjamkan bajunya karena ia tak membawa baju untuk persiapan bermalam.


"Kamu pakai baju siapa ?" Abimana menatap penampakan Arditha yang tak lazim. Daster kebesaran membalut tubuh langsingnya.


"Ini juga sudah bagus mama mau pinjaman bajunya. Daripada pakai baju kerja kan gak lucu." Arditha menatap sinis pria yang ternyata memiliki keingintahuan yang tinggi.


"Kenapa harus pinjam bajunya mama sih, gak pakai baju kan lebih asyik," Abimana melupakan jika diantara mereka ada dua bocil yang juga sangat banyak ingin tahunya.


Bugggghhhh

__ADS_1


Arditha refleks melemparkan bantal yang sedang ia atur sebelum kedua anaknya tidur.


"Jangan asal kalau ngomong, ada anak-anak." Arditha menatap kesal pria yang sedang cengar cengir seolah tak bersalah.


"Apa asyiknya kalau tidur gak pakai baju, yah ?! AC kan nyala bisa kedinginan." Arbilha urung membaringkan dirinya. Ucapan sang ayah lebih menarik perhatiannya.


"Kalau kita tidur ramai-ramai kayak gini memang akan kedinginan sayang, tapi kalau hanya mama dan ayah di kamar maka akan sebaliknya. Suhu udara dalam kamar akan memanas meskipun Acnya nyala," Dengan wajah serius Abimana menjelaskan pada Arbilha yang tampak menyimak dengan baik sedangkan Arsheno memilih tak peduli karena rasa kantuknya yang tak lagi bisa ditolerir.


"Mas, udah deh, jangan asal ngomong." Arditha membaringkan dirinya diantara Arbilha dan Arsheno. Malam ini ia akan tidur dengan diapain kedua anaknya.


Abimana tersenyum misterius kala melihat posisi tidur sang istri. Ia tak beranjak dari duduknya dan membiarkan istri dan anaknya tertidur. Entah apa yang direncanakan pria itu.


Tak harus menunggu lama untuk ketiganya tertidur pulas. Lelah beraktifitas seharian membuat Arditha langsung terlelap saat kepalanya menyentuh bantal. Sementara Abimana perlahan-lahan mengangkat Arsheno ke samping Arbilha.


Dengan bersemangat Abimana membaringkan dirinya di samping Arditha dan memeluknya dengan segenap rasa yang ia miliki. Tak lupa mencuri ci**an singkat pada bibir ranum wanita yang masih tersegel meskipun ia sudah mengucap ijab qabul sebanyak dua kali atas nama wanita itu.


Pelukan Abimana beserta tangannya yang kesana kemari membuat Arditha terusik dan seketika terbelalak manakala menyadari sebuah tangan besar bertengger pada gunung kembar miliknya.


"Mas, apa yang kamu lakukan ?!" Teriakan Arditha tertahan karena tak ingin tidur kedua anaknya terganggu. Ia berusaha melepaskan tangan besar milik Abimana.


"Jangan berisik honey, mulai malam ini jika tidur maka posisi kita akan selalu seperti ini. Kalau perlu jangan hanya saat kita di tempat tidur," Abimana tak membuka matanya. Ia sangat nyaman dengan posisi tidurnya saat ini.


"Tapi aku gak bisa tidur mas. Bulu kudukku meremang." Arditha memang tak busa tidur jika anggota tubuhnya disentuh apalagi saat ini bukan hanya disentuh dan wajar saja jika ia merasa terganggu.


Abimana tak memperdulikan Arditha yang merasa tak nyaman, menurutnya hal itu wajar saja karena ini adalah untuk pertama kalinya Abimana memberanikan diri menyentuh bagian tubuh sang istri.


🌷🌷🌷🌷🌷


Selamat pagi readers

__ADS_1


Mampir yuk dicerita terbarunya othor "MASA LALU YANG TAK USAI "


Terima kasih atas dukungannya selama ini.


__ADS_2