Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 80 》》ENTAHLAH


__ADS_3

Kala jam menunjukkan saatnya selesai bekerja membuat Arditha terdiam sejenak memikirkan kemana ia akan pulang. Rasanya percuma kembali ke rumah jika Abimana masih mengibarkan bendera perang. Sebuah ide kini menyapa otaknya yang sedang mengepulkan asap. Sambil tersenyum manis Arditha memutar balik mobilnya. Ia butuh healing.


Kini Arditha sedang antri untuk melakukan boarding. Ia tak ingin buang-buang waktu tiga hari lagi abang dan sahabatnya akan menghalalkan hubungan mereka. Meskipun healing hanya satu atau dua hari namun Arditha merasa sudah cukup untuk menyegarkan pikirannya.


Sebelum berangkat Arditha mengirimkan pesan pada sang abang kalau ia sedang menyepi untuk beberapa hari lalu mematikan ponselnya. Ia tak ingin diganggu. Pesawat pun berangkat menuju tujuan.


Jika boleh jujur, Kenan cukup kaget dengan keputusan Aleya yang memilih untuk menenangkan diri mengingat hari specialnya semakin dekat namun pikiran positifnya lebih dominan, ia mengenal Arditha dengan sangat baik.


'Dia tak mungkin melewatkan pernikahan kami,' Batin Kenan seraya meletakkan kembali ponselnya setelah membaca pesan Arditha.


Berbeda halnya dengan Abimana yang panik karena hingga malam sang istri belum juga pulang ke rumah. Peristiwa masa lalu ke,Bali menghantui dirinya. Memyesal ? Sudah pasti namun sepertinya sudah terlambat.


"Halo, kamu dimana ?" Dengan nada panik Abimana langsung bertanya saat panggilan selulernya terhubung.


"Dirumah, ada ap ,,," Kenan belum menyelesaikan pertanyaannya dan panggilanpun berakhir sepihak.


tut tut tut tut


Abimana melesat keluar setelah terlebih dahulu menyambar kunci mobilnya. Baju kerja belum sempat ia ganti. Dengan kecepatan sedikit diatas rata-rata Abimana mengendarai mobilnya menuju rumah mertuanya. Ia yakin Kenan pasti tahu keberadaan istrinya.


Melewati kemacetan yang sudah menjadi salah satu ciri khas ibukota akhirnya Abimana busa bernapas lega. Kini ia sudah memasuki pintu gerbang kompleks rumah sang mertua. Dan pada akhir perjalanannya, Abimana perlahan membelokkan mobilnya memasuki halaman rumah tersebut.


Tanpa mengetuk pintu utama, Abimana mendorong pelan karena takut mengagetkan sang mertua. Untungnya rumah dalam keadaan sepi. Abimana melanjutkan langkahnya menuju kamar Kenan yang berada di lantai dua.

__ADS_1


Braaakkk


Meskipun Kenan tahu karena mendengar suara mobil Abimana namun pria itu tak urung terlonjak kaget kala sahabatnya itu mendorong dengan keras pintu kamarnya.


"Bisa gak sih pelan-pelan,"Kenan memperlihatkan wajah sewot bin tak enak dipandang bagi siapapun.


"Arditha belum pulang," Abimana tak menanggapi ucapan sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Yang terpenting baginya adalah mengetahui keberadaan Arditha. Abimana memang tergolong pria paling egois sedunia jika sudah menyangkut sang istri.


"Entahlah," Kenan mengedikkan bahunya cuek. Ia masih kesal karena dikagetkan oleh pria yang terlihat sangat khawatir. Mungkin takut kembali menyandang status duda.


"Apa maksudmu entahlah ? Aku tahu pasti Arditha mengatakan dia kemana," Abimana ngotot dengan anggapannya. Ia mengenal Kenan bukan satu atau dua tahun tapi sudah bertahun-tahun dan itu cukup untuk mengetahui bagaimana dekatnya hubungan mereka sebagai adik dan kakak.


"Entahlah berarti aku juga gak tahu Abimana. Dia kan istrimu, masa iya bertanya sama aku," Kini emosi Kenan sudah mulai mengudara.


Mengingat hari spesialnya sisa beberapa hari dan adik satu-satunya yang ia miliki kini entah dimana. Semua karena kelakuan kekanak-kanakan pria dewasa di depannya. Ingin rasanya Kenan menghadiahkan tinju pada wajah tampan pria yang terlihat khawatir itu.


"Ditha memang mengirimkan pesan padaku tapi dia gak bilang kemana tujuannya. Kalau gak percaya baca ini." Kenan membuka aplikasi whatsappnya dan memperlihatkan chat Arditha.


"Kenapa gak bilang ke aku kalau mau healing, kan kami bisa sama-sama." Abimana menatap nanar layar ponsel Kenan yang menampilkan chat yang tak terkirim yang berarti ponsel Arditha tidak aktif.


"Arditha ingin menenangkan diri dan introspeksi diri, jadi sebaiknya kamu pulang dan tidur. Berdoa saja adikku itu pulang saat pernikahanku karena kalau dia tidak datang berarti kamulah yang bertanggung jawab dengan segala konsekuensinya." Kenan menatap tajam adik iparnya yang hanya bisa membalas tatapannya dengan pasrah.


"Pinjam bajunya dong," Bukannya mengikuti anjuran Kenan, ia malah meminjam baju adik iparnya itu.

__ADS_1


"Ngapain pinjam baju ? Apa kamu sudah semiskin itu sehingga tak lagi memiliki baju ?!" Kenan menatap sengit adik iparnya yang sangat menyedihkan kehidupan asmaranya.


"Aku gak mau pulang, Kenan. Aku nginap disini dan sejak pagi belum ganti baju." Abimana menatap baju kerjanya yang kini jauh dari kata rapi. Lengan digulung sampai siku dengan kancing atas sudah terbuka belum lagi rambutnya yang awut-awutan.


Melihat penampilan bos perusahaan PT. Bhi_Lha saat ini membuat Kenan tertawa terpingkal-pingkal. Bagaimana tidak, seorang bos perusahaan terkemuka hampir menyerupai seorang gembel. Untung gantengnya gak berkurang sehingga masih layak untuk dipandang.


"Baru juga beberapa jam Arditha menghilang dan kamu sudah hilang ingatan. Bagaimana kalau Arditha gak pulang-pulang, ya." Rasa kesal Kenan berganti dengan jiwa isengnya.


"Stop Kenan !! Jangan menyumpahiku seperti itu. Dulu saat Arditha menceraikanku duniaku amburadul tapi jika ucapanmu kembali terbukti maka aku akan benar-benar gila. Aku gak bisa hidup tanpa Arditha." Abimana mengomel sambil berjalan ke arah lemari Kenan. Ia benar-benar gerah dan butuh mandi agar otaknya segar dan bisa berpikir.


"Eits kamu mau ngapain. Bajumu banyak noh di sebelah, dilemari dikamar Arditha. Enak aja pake baju orang." Kenan bergerak cepat berdiri di depan pintu lemarinya yang siap dibuka oleh Abimana.


"Oh iya, kok aku bisa lupa." Abimana membalikkan badannya menghadap pintu keluar namun sebelum benar-benar keluar dari kamar Kenan, ia kembali memutar badannya.


"Pintunya jangan dikunci, aku masih mau ngomong sama kamu," Abimana lalu melanjutkan langkahnya menuju kamar sang istri ketika belum menikah.


Sementara itu dilain tempat, Arditha sedang membaringkan tubuhnya. Baru saja ia menikmati makan malam setelah puas jalan-jalan menyusuri pantai yang indah setelah sebelumnya membeli beberapa lembar baju untuk beberapa hari ke depan. Yah, saat ini Arditha sedang membaringkan tubuhnya disalah satu kamar hotel di Bali.


🌷🌷🌷🌷🌷


Maaf ya readers, baru up lagi.


Maklum ibu-ibu dan akhir-akhir Ramadhan pasti banyak kesibukan.

__ADS_1


Selamat menikmati


Love you sekebon cabe 🤗🤗🤗


__ADS_2