
Sore menjelang malam saat Arditha memasuki halaman rumahnya. Mobil Kenan sudah terparkir rapi disebelah sebuah mobil yang asing bagi Arditha. Dengan santai ia memasuki rumah yang sejak kecil tempatnya bernaung. Dari teras terdengar suara seseorang yang tak ingin lagi dijumpainya.
"Aish, ngapain lagi pria itu disini, " Arditha terus melangkah memasuki rumah sambil bergumam. Ia bersikap cuek dan memperlihatkan jika kehadiran Abimana tak berarti baginya.
Melihat kedatangan Arditha, mata mama Sherly dan Kenan justru memperhatikan Abimana. Pria itu tersenyum manis dengan tatapan tak biasa pada gadis yang tengah melangkah dengan anggun menuju tangga. Mama Sherly segera menyapa putri bungsunya. Ia tak tega melihat Abimana diperlakukan seperti itu oleh Arditha. Mama Sherly membayangkan jika Kenan yang diperlakukan seperti itu tentu saja hatinya akan sakit. Perasaan mama Sherly sebagai seorang ibu tak mengijinkan putrinya berlaku semena-mena.
"Dith, duduk sini sayang. Sapa dulu dong tamunya. Sejak tadi nak Abi menunggumu lho, " Suara lembut mama Sherly tak mampu membuat Arditha melanjutkan langkahnya.
"Mama gak salah ucap ? Atau aku yang salah dengar ?!" Arditha menatap sinis sejenak ke arah Abimana lalu menatap mama Sherly dan Kenan secara bergantian. Tatapan pada keduanya sangat berbeda.
Abimana maupun Kenan terhenyak melihat perubahan Arditha. Dari tatapan sinis berubah menjadi tatapan lembut yang mungkin tak sampai sedetik.
"Sayang, jangan kasar dong, mama gak pernah ngajarin kamu seperti itu." Mama Sherly menegur Arditha selembut dan sepelan mungkin. Wanita paruh baya itu tak ingin terjadi perdebatan yang tak perlu.
"Maaf ma, tapi aku memang seperti ini jika bertemu dengan ORANG ASING agar tidak menimbulkan kesalahpahaman," Arditha sengaja memberikan penekanan pada kata ORANG ASING agar Abimana mengerti posisinya saat ini dimata Arditha.
"Honey, aku masih suamimu di mata hukum. Meskipun kamu bahkan seluruh dunia mengatakan kita adalah mantan suami istri namun dimata hukum tidak demikian halnya, karena aku sama sekali tidak menandatangani surat cerai yang kamu tinggalkan. Istriku hanya kamu." Abimana menyela pembicaraan ibu dan anak itu. Ia tak bisa lagi menahan diri untuk tidak melibatkan diri. Arditha sangat keras kepala dan sulit untuk diberi pengertian.
"Tapi secara agama kita sudah cerai, dan aku lebih mementingkan aturan agamaku daripada hukum dalam hal ini," Tatapan sinis Arditha pada Abimana membuat pria itu emosi apalagi melihat Arditha melenggang dengan santai meninggalkannya.
Satu hal yang Abimana tak dapat terima adalah jika ia berbicara dengan seseorang dan lawan bicaranya itu meninggalkannya padahal pembicaraan belum tuntas.
"Ma, bisa aku nyusul Arditha ke kamarnya ? Kami harus bicara empat mata," Abimana meminta persetujuan mama mertuanya. Bagaimanapun ia sangat menghormati wanita yang telah melahirkan gadis keras kepal itu.
"Tentu saja nak Abi, tapi jangan melewati batas. Ingat secara hukum agama kalian telah berpisah."
__ADS_1
"Terima kasih ma, percayalah padaku." Abimana tersenyum dan menatap Kenan yang masih duduk dengan setia sebagai penonton drama live tanpa sutradara di depannya.
" Oh ya Ken, tolong panggilkan pak penghulu malam ini aku akan menikah lagi dengan istriku," Sejak melihat Arditha untuk pertama kalinya setelah setahun lebih, Abi sudah memutuskan untuk menikahi kembali gadis itu dan keinginannya semakin kuat manakala mama Sherly pun mengingatkan perceraiannya yang otomatis secara agama.
"Jangan terburu-buru, taklukkan dulu hatinya," Kenan tak beranjak dari tempat duduknya. Ia malah menantang sahabatnya itu.
"Aku gak mau kehilangan dia, bang. Kamu tahu sendiri kan, bagaimana nekadnya adikmu itu. Aku harus mengikatnya dalam pernikahan agar dia tak ada cara untuk lari dariku."Abimana menatap serius wajah sahabat sekaligus kakak iparnya itu. Sementara Kenan sibuk mencerna kata-kata sahabatnya itu.
Sebuah pikiran ekstrim juga memenuhi otak cerdasnya. Penjelasan Abimana membuatnya yakin untuk melakukan hal yang sama.
"Sepertinya seru." Kenan bergumam untuk dirinya sendiri namun masih terdengar ditelinga Abimana.
"Tentu saja seru. Pacaran setelah menikah memang seru." Abimana menimpali sambil tersenyum sedangkan Kenan mulai menyusun rencana.
Kenan tersenyum misterius lalu berdiri dan melangkah keluar rumah. Ia akan menjemput penghulu yang dulu menikahkan Abimana dan Arditha. Sementara mama Sherly yang melihat senyum aneh Kenan justru membuatnya penasaran.
Setelah mendapatkan persetujuan dari mama Sherly, Abimana segera melesat menuju kamar Arditha. Ia bertekad akan menyelesaikan masalahnya dengan sang istri.
Tok tok tok
Ceklek
Arditha tak pernah menyangka jika yang mengetuk pintu kamarnya adalah Abimana. Tanpa rasa curiga Arditha langsung membuka pintu kamar dengan asal. Gerakan Abimana sangat cepat sehingga ia sudah berada di dalam kamar sebelum Arditha menyadarinya.
"Masalah kita harus jelas, pun begitu tentang pernikahan kita harus satu persepsi." Abimana duduk dengan santai di bibir tempat tidur.
__ADS_1
"Aku tak pernah menginginkan pernikahan ini sejak awal hingga detik ini, so dari segi mana persepsi harus disatukan. Dan satu lagi tidak akan pernah ada kata KITA dalam hubungan ini !!" Arditha berkata pelan namun penuh penegasan. Pikirannya semakin dewasa seiring dengan usianya yang semakin bertambah apalagi selama ini ia hidup di negara orang sehingga membuatnya tak lagi mengandalkan emosi pada setiap persoalan. Arditha kini semakin pandai mengontrol emosinya.
"Tapi aku menginginkan pernikahan ini dari dulu sampai detik ini. Dan aku akan kembali menikahimu secara agama." Abimana tak mau kalah. Kali ini ia tak akan memberikan celah pada Arditha. Ada banyak cara yang dimiliki oleh Abimana untuk memiliki hati Arditha.
Dibalik tekad dan semangatnya untuk menikahi Arditha kedua kalinya, Abimana tak menyadari jika sejak membakar foto-foto almarhumah Sheila, ia tak pernah lagi mengingat istri pertamanya itu. Mungkin karena terlalu fokus mencari keberadaan Arditha ataukah ia merasa harga dirinya diinjak-injak oleh gadis itu karena ditinggalkan dengan sebuah surat cerai ? Hanya Abimana dan author yang tahu.
"Terserah, sekeras apapun usahamu itu tidak akan berhasil !" Arditha menatap tajam Abimana dan hanya dibalas dengan senyuman.
Cup
Tanpa pikir panjang Abimana langsung meng**up singkat bibir Arditha. Dan percayalah ini adalah kali pertama Abimana lakukan setelah kepergian almarhumah untuk selamanya. Wajah Arditha memerah, malu sekaligus marah secara bersamaan.
"Bibirmu terlalu tajam," Abimana tak tahu lagi bagaimana cara membungkam gadis dihadapannya. Setiap kata yang ia ucapkan selalu saja ada balasan darinya.
"Kamu melakukan sebuah dosa. Mencuri ci**an seorang gadis yang tidak ada hubungan denganmu !" Arditha menggeretakkan giginya karena menahan amarah. Arditha masih memikirkan mama dan Kenan yang pasti akan mendengarnya jika ia berteriak karena marah, akan sangat memalukan jika mereka mengetahui penyebab kemarahannya.
"Siapa bilang kita tak ada hubungan, ingat secara hukum negara kamu masih istriku dan akan tetap seperti itu." Abimana malah merebahkan tubuhnya seraya melirik jam tangannya.
"Dasar orang gila !!"
Abimana tak menggubris perkataan Arditha. Pria itu justru memejamkan matanya dan memeluk bantal guling dengan erat membuat Arditha meradang. Dengan kasar Arditha mengambil baju dan pakaian dalamnya lalu masuk ke dalam kamar mandi. Ia hanya ingin menyegarkan tubuh dan otaknya yang mendidih sejak melihat pria itu di rumahnya.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers.
__ADS_1
Mohon maaf, kemarin gak up. Othor lagi ,empersiapkan cerita baru
MASA LALU YANG TAK USAI, mampir ya. Tapi masih dalam proses🤭🤭