Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 60》》LET'S GO


__ADS_3

Akhirnya acara selesai dan satu per satu tamu undangan meninggalkan tempat. Orang tua Vanya pun sejak lima menit yang lalu berpamitan karena harus ke luar kota. Kini tersisa Vanya, mama Sherly, Arditha dan Kenan. Tatapan datar dan wajah tanpa ekspresi Arditha menandakan jika ia sudah mulai jengah dengan tingkah laku Abimana yang sangat mengganggu menurutnya. Kemana Arditha pergi maka disitu pula Abimana berada seperti sebuah bayangan. Ruang gerak Arditha jadi terbatas.


"Dek, wajahnya jangan sangar gitu dong, aku kan ngerasa gak enak dan takut,kali aja abang ada salah," Kenan mencoba mencairkan suasana dengan menggoda Arditha.


"Jangan mulai bang, aku lagi gak mood bercanda !" Arditha masih memasang wajah tanpa ekspresinya.


Vanya memilih diam dan hanya menjadi penonton. Meskipun ia tahu penyebab sahabatnya itu tiba-tiba bad mood namun tak mungkin Vanya ikut campur. Biarlah sahabatnya itu mengekspresikan rasa amarah yang selama ini dipendamnya. Bersahabat dengan Arditha cukup membuatnya mengenal sahabatnya itu luar dalam.


Sementara yang merupakan sumber kekesalan Arditha tetap stay cool dengan wajah tak berdosa. Dalam hati Kenan tersenyum melihat tingkah sahabatnya yang sebenarnya tahu kekesalan Arditha padanya.


"Dek, mau kemana ?" Kenan menatap Arditha yang sedang berdiri dengan tas sudah bertengger dibahunya.


"Emang abang mau sampai kapan disini ?" Arditha membalas tatapan sang abang dengan sinis. Jam sudah menunjukkan pukul 11.30, sebelum perutnya berantakan ia harus segeramencari makan.


"Mama pulang bareng nak Abi, " Mama Sherly menyela sebelum Arditha mengajaknya pulang. Entah angin apa membuat wanita paruh baya itu memutuskan pulang bersama pria itu.


Arditha tak menimpali, ia hanya berhenti sejenak lalu berjalan dengan cepat meninggalkan ruangan tersebut. Dongkol pasti ia rasakan namun tak mungkin mengatakan langsung pada mama Sherly. Sebagai seorang anak, ia wajib menjaga perasaan sang mama. Arditha tak ingin menjadi anak durhaka hanya karena mama Sherly memilih pulang bersama Abimana.

__ADS_1


Kini Vanya dan Arditha berjalan berdampingan menuju parkiran. Tak ada yang bersuara hingga akhirnya mereka akan memasuki mobil masing-masing.


"Nya, ngopi yuk."


"Let's go, kali aja ketemu jodoh. " Vanya memang memiliki kebiasaan unik yaitu suka minum kopi.


"Jangan coba-coba cari perkara ya, jodohku itu hanya bang Kenan." Arditha memberenggut sambil membuka pintu mobilnya.


Meskipun seringkali Arditha mengatakan hal itu namun Vanya tak ingin berharap banyak. Apalagi Kenan sama sekali tak pernah menegurnya walaupun hanya sekedar basa basi.


Mobil kedua gadis itu keluar dari area parkiran secara beriringan. Menyusul mobil Abimana dan Kenan. Mereka terus beriringan dengan mobil yang dikendarai oleh Arditha memimpin. Hingga akhirnya mobil Arditha dan Vanya berbelok pada pertigaan membuat Abimana penasaran. Ia mengira Arditha akan pulang ke rumah namun ternyata perkiraannya meleset.


"Paling nongkrong nak, biasa kan anak gadis, " Mama Sherly terlihat santai dan mendukung kelakuan Arditha membuat Abimana meradang. Tangannya memegang setir dengan kuat dan rahangnya mengeras.


"Arditha masih istriku, ma. Walaupun dia menandatangani surat cerai namun aku tidak menandatanganinya, ma. Secara hukum Arditha masih istriku yang sah." Abimana memang belum pernah membicarakan perihal surat cerai yang ditinggalkan Arditha setahun yang lalu pada mama Sherly. Ia hanya menceritakan pada Kenan dan kedua orang tuanya.


"Tapi secara agama kalian sudah bercerai nak. Dan Arditha menganggap kalian sudah bercerai." Ucapan mama Sherly sukses menghantam mental Abimana. selama ini ia sama sekali tak memikirkan hal-hal yang mengakibatkan perceraian secara agama.

__ADS_1


Namanya bukan Abimana jika otaknya tidak langsung menemukan solusi masalahnya.


"Kami akan menikah lagi ma, segera." Abimana berusaha meyakinkan mama mertuanya namun melihat keadaan Arditha yang sama sekali tak mengharapkan Abimana membuat mama Sherly tak berani memberikan dukungannya pada pria tampan itu.


Mama Sherly memilih diam tak menimpali ucapan Abimana. Semua harus dibicarakan agar kejadian serupa tak terulang lagi.


Akhirnya perjalanan Abimana dan mama Sherly berakhir, perlahan Abimana membelokkan mobilnya memasuki rumah mama Sherly.


"Ma, boleh kan aku menunggu Arditha ?!" Sejak melihat Arditha hari ini, ia tak ingin buang-buang waktu lagi. Abimana harus berbicara dengan Arditha.


"Tentu saja nak, masuk aja. Kalau mau istirahat di kamar tamu aja," Mama Sherly tak mungkin mengusir Abimana. Walau bagaimanapun pria itu masih berstatus menantunya walaupun hanya secara hukum negara.


"Aku akan segera menikahinya kembali secara agama ma," Abimana kembali menegaskan keinginannya namun mama Sherly hanya menimpali sewajarnya saja.


"Jangan tergesa-gesa nak. Biarkan semuanya berjalan sesuai dengan ketentuan takdir Yang telah digariskan oleh Yang Maha Kuasa." Mama Sherly tak tahu lagi harus bagaimana menghadapi Abimana yang ingin menikahi putrinya untuk kedua kalinya.


Mama Sherly lalu duduk berhadap-hadapan dengan Abimana di ruang tamu. Mereka berbicara berbagai hal namun mama Sherly sebisa mungkin tak menyinggung soal kehidupan Arditha selama ini. Matahari perlahan bergeser pertanda siang akan segera berganti sore.

__ADS_1


Melihat wajah Abimana yang kelelahan kemudian mama Sherly meminta agar Abimana beristirahat di kamar tamu. Tak mungkin mama Sherly menyuruh pria itu beristirahat di kamar putrinya bisa terjadi perang dunia ketiga. Mama Sherly tak ingin mengambil resiko.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2