
Selesai berkonsultasi dengan sang dosen, Arditha lalu ke kantin. Jam sudah menunjukkan pukul 12.30 saatnya mengisi perut yang sudah mulai melilit karena lapar. Konsultasi dengan dosen membuatnya lupa waktu. Arditha berjalan sendiri menuju kantin.
"Mbak, seperti biasa ya," Arditha memesan menu favoritnya terlebih dahulu sebelum duduk manis.
"Neng Ditha ?! Lama gak keliatan kemana aja ?"
"Biasa mbak, tugas kampus," Arditha meninggalkan gadis yang kira-kira setahun lebih tua darinya.
Disinilah Arditha berakhir, di meja yang terletak di sudut kantin tempatnya dan Vanya biasa menikmati gado-gado terletak sekampus. Kurang dua hari memasuki tiga bulan ia absen di tempat ini dan tak ada yang berubah.
"Silahkan Neng," Gadis yang bernama itu meletakkan gado-gado dan juice jeruk hangat kesukaan Arditha.
"Makasih mbak Lia," Tanpa membuang-buang waktu, Arditha langsung menyantap makan siangnya. Ponselnya berkali-kali bunyi tak ia hiraukan.
Saking seriusnya dengan gado-gado di hadapannya, Arditha tak menyadari pria yang selama ini mengisi hari-harinya baru saja memasuki kantin tersebut. Hingga pria itu terdengar memesan makanan.
"Mbak Lia, tolong nasi gorengnya dua porsi,"
Arditha mengangkat wajahnya untuk memastikan pemilik suara tersebut. Baru saja ia akan memanggil sang kekasih namun suaranya tertahan di tenggorokannya karena melihat seorang gadis menggandeng pria itu dengan mesra. Mata Arditha menatap keduanya tak berkedip berharap pria itu menyadari kehadirannya.
"Kak Pras !!" Akhirnya Arditha memberanikan diri memanggil pria tersebut.
"E ,,, Oh hai Dith," Prasetyo gugup tak menyangka kehadiran Arditha di kampus yang tiba-tiba.
Arditha berusaha terlihat biasa-biasa saja padahal hatinya merasa kecewa. Namun ia menyadari keadaan dirinya yang telah menikah tanpa sepengetahuan Prasetyo.
"Kenalin dong pacarnya," Arditha masih berusaha tersenyum manis. Ia tak mungkin marah dan mempermalukan dirinya sendiri dihadapan para mahasiswa yang sedang menikmati makan siangnya.
__ADS_1
"Aku Rinda, kak," Gadis itu mengulurkan tangannya sambil tersenyum ramah.
"Hai, aku Ditha. Sejak kapan kalian jadian ?!" Arditha tak dapat menahan rasa penasarannya. Walaupun ia telah menikah dibelakang sang kekasih namun entah mengapa iapun penasaran dengan hubungan keduanya.
"Empat bulan yang lalu kak,"
"Wah masih baru ya, lagi mesra-mesranya," Arditha menyembunyikan kekecewaannya karena ternyata Prasetyo yang berkhianat terlebih dahulu.
"Dith, setelah ini kita harus bisa bicara, kan ?!" Prasetyo menatap Arditha penuh harap.
"Maaf kak, aku sibuk. Hari ini aku ke kampus juga hanya untuk berkonsultasi dengan pak Ryan. Lagian gak enak bicara berdua tanpa Rinda. Setidaknya kak Pras bisa menghargai perasaan pacar kakak. Oh ya, silahkan dilanjutkan makannya, aku duluan, bye," Arditha melangkah dengan tenang keluar dari kantin. Entah mengapa hanya rasa lega yang ia rasakan saat ini karena ternyata bukan dirinya yang berkhianat melainkan Prasetyo Herlambang.
Arditha terus melangkah menuju parkiran. Siang ini ia akan mengunjungi sang mama. Ada sesuatu yang ingin ia lakukan saat ini. Dengan tenang Arditha melajukan mobilnya menuju rumah mama Sherly. Rasa kecewa pada Pras hanya sesaat walaupun ia tak mungkin melupakan kenangan manisnya bersama mantan kekasihnya.
Padahal Arditha sudah merancang sebuah rencana sedemikian rupa agar mempercepat perpisahannya dengan Abimana namun rupanya Tuhan berkehendak lain. Hari ini ia diperlihatkan Prasetyo yang sebenarnya.
Mobil Arditha perlahan berbalik memasuki halaman rumah model minimalis dengan berbagai jenis bunga menghiasi halaman rumah tersebut. Setelah memarkir mobilnya dengan rapi, Arditha kemudian keluar dari mobil dan langsung menghampiri sang mama yang berdiri di depan pintu saat mendengar deru mesin mobil berhenti.
"Waalaikumsalam, ada angin apa tiba-tiba berkunjung sambil tersenyum pula, dapat lotre ?!" Tak bisa disalahkan jika mama Sherly bertanya karena sejak menikah dengan Abimana, sang mama tak pernah lagi mendapatkan sebuah senyuman dari putri bungsunya itu.
"Ck, Ditha jadi serba salah kan kalau gini ceritanya. Senyum salah gak senyum lebih salah lagi," Arditha mengomel sambil berjalan menuju dapur. Ia membutuhkan air es untuk menyegarkan tenggorokannya. Mama Sherly mengikutinya dari belakang.
"Ma, gak usah ngikutin aku terus deh. Aku cuma ngambil air di kulkas bukan mau mengangkat kompor mama,"
Plaaakkkk
"Auuwww ,,, sakit ma," Arditha mengusap-usap lengannya yang kena geplakan dari sang mama tercinta.
__ADS_1
"Makanya jangan ngasal kalau ngomong," Mama Sherly menatap tajam Arditha yang kini sedang menenggak air esnya.
Setelah tenggorokannya lega, Arditha meletakkan gelas lalu beranjak dari tempatnya, kali ini tujuannya adalah kamar yang ia tinggalkan beberapa lama.
"Ma, aku istirahat sebentar ya," Tanpa menunggu jawaban dari sang mama, Arditha sudah menaiki anak tangga satu per satu .
Mama Sherly hanya menatap punggung putri bungsunya itu. Ia memahami jika Arditha merindukan kamarnya. Sejak kecil kamar itulah yang selalu menjadi tempat ternyaman bagi putrinya.
Perlahan Arditha mendorong pintu kamarnya yang tertata rapi dan tetap segar seperti saat ia masih berada disana. Ah, mama pasti selalu membersihkannya, pikir Arditha tersenyum lebar. Arditha melempar tubuhnya diatas kasur empuk miliknya, rasa kantuk menyerang saat kepalanya bertemu dengan bantal. Keinginan awalnya datang berkunjung ia lupakan karena matanya tak dapat diajak kompromi. Ponselpun ia sengaja silent sejak pagi karena tak ingin terganggu saat konsultasi dengan pak Ryan.
Hingga sore Arditha berada dirumah sang mama sementara Abimana ratusan kali menelponnya namun tak ada respon dari Arditha. Pria itu sudah mulai panik, berbagai macam pikiran jelek memenuhi pikirannya. Sejak pernikahan mereka, Abimana sama sekali belum bisa mempercayai gadis itu. Abimana tahu hati gadis itu seutuhnya hanya untuk kekasihnya.
Tak bisa menahan diri, akhirnya Abimana meninggalkan kantor sebelum jam pulang kerja. Ia melajukan mobilnya sedikit diatas rata-rata namun hanya sekejap karena jalanan mulai macet. Tak ada yang bisa Abimana lakukan selain memukul setia mobilnya berkali-kali.
Sementara Arditha masih sibuk di dalam kamarnya membersihkan semua kenangannya bersama Pras. Arditha bukan tipe gadis yang akan meratapi kepergian kekasihnya. Ia mencoba mengikhlaskan Prasetyo bersama pacar barunya. Arditha tak mungkin memperjuangkan pria yang sudah menjadi milik orang lain. Alangkah lucunya jika Arditha tetap menyimpan Prasetyo didalam hatinya sementara pria itu ternyata yang berkhianat terlebih dahulu.
Semua foto-fotonya bersama Pras beserta benda-benda pemberian pria itu telah ia masukkan ke dalam sebuah dus kemudian Arditha mengangkatnyq turun ke lantai bawah.
"Apa yang kamu bawa ?" Mama Sherly menatap Arditha penasaran.
"Benda-benda yang gak kepakai lagi, ma dan memang seharusnya dibuang," Arditha terus berjalan keluar rumah tak ingin memperpanjang penjelasannya pada mama Sherly.
Bersamaan dengan mobil sampah kebetulan lewat sehingga Arditha langsung memberikan pada tukang sampah dus yang ia bawa.
"Trima kasih pak," Dengan sopan Arditha mengucapkan terima kasihnya pada tukang sampah tersebut. Ajaran mama Sherly yang harus selalu bersikap ramah pada siapa saja rupanya mengarah daging pada Arditha.
"Sama-sama mbak," Balas pria yang mungkin seumuran dengan Arditha.
__ADS_1
Setelah mobil sampah menjauh Arditha kembali ke dalam rumah. Hari hampir gelap namun ia masih betah berlama-lama di rumah tempatnya bergabung selama ini.
🌷🌷🌷🌷