Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 75 》》 GAK USAH DIBAHAS


__ADS_3

Kenan kini siap mendatangi rumah Vanya dengan berbagai macam seserahan meskipun gadis itu belum mengatakan persetujuannya. Pantas saja Abimana dan Kenan bersahabat rupanya mereka memiliki sifat yang sama.


"Abang yakin Vanya akan menerima lamaran abang ?!" Arditha sedikit kesal karena Kenan menjemputnya dan membawanya ke rumah mama Sherly padahal Abimana sedang ada pertemuan dengan pihak perusahaan asing yang ingin bekerjasama dengannya. Untung saja hari sabtu jadi lantor Arditha dan Vanya tutup.


"Pasti diterima dek. abangmu ini stock terakhir pria paling digandrungi gadis-gadis," Kenan mengangkat dagunya dengan angkuh membuat Arditha mendelik tajam.


"Kasihan juga sahabatku dilamar oleh pria pemaksa, " Ucapan Arditha membuat Kenan terkekeh. Memang benar yang dikatakan oleh adiknya.


Vanya memang tak pernah mengiyakan saat ia mengatakan dengan terus terang akan datang ke rumah gadis itu untuk melamarnya. Diamnyq Vanya dianggap oleh Kenan sebagai jawaban YA. Jangan lupakan Kenan dan Abimana adalah sahabat yang memiliki persamaan sifat.


"Gak usah dibahas, cepat telepon suamimu agar cepat pulang jika urusannya selesai. Abang gak mau keluarga Vanya menunggu lama. Ingat kesan pertama menentukan segalanya."


Mama Sherly hanya menggeleng-gelengkan kepalanya melihat kedua anaknya yang kini sudah dewasa namun saat bertemu masih sama saat mereka masih remaja. Selalu berdebat walaupun saling menyayangi dan saling melindungi.


"Abang telepon aja sendiri, " Arditha malah sibuk mengamati sederhana yang akan mereka bawa ke rumah Vanya.

__ADS_1


"Ma, mama yakin langsung bawa seserahan sebanyak ini ? Gimana kalau om Tri menolak lamaran kita ?" Arditha tak mengalihkan tatapannya dari berbagai macam pernah pernik wanita, semua barang branded entah berapa banyak uang yang dihabiskan oleh sang abang.


"Bang Kenan sudah bicara empat mata dengan papanya Vanya, makanya itu dia berani datang dan kangkung membawa seserahan. Untuk mempersingkat waktu kqtanya." Mama Sherly tersenyum bijak. Ia tahu kekhawatiran putri bungsunya.


Sementara mama Sherly dan Arditha membahas pernikahan Kenan, dari arah pintu utama pria yang ditunggu akhirnya datang juga. Abimana tersenyum menghampiri Arditha dan langsung menge**p keningnya. Sungguh ia sangat merindukan wangi tubuh wanitanya.


"Yang masih jomblo jangan baper," Abimana melirik Kenan sambil memeluk Arditha dan menghirup sedalam-dalamnya aroma mawar yang berasal dari tubuh Arditha.


Kenan memutar bola matanya jengah. Sahabat sekaligus adik iparnya itu sangat tak berakhlak memamerkan kemesaraan mereka di depan matanya. Kenan sangat tak terima namun iapun tak bisa berbuat apa-apa.


"Daripada nonton kalian mesra-mesraan gitu, lebih baik kita berangkat sekarang ma. Lebih cepat lebih baik," Kenan tak ingin membuang-buang waktu menonton pasangan yang kini tampak akur dan mesra.


"Lebih parah kamu kali," Tanpa menoleh Kenan menimpali ucapan Abimana sehingga membuat mama Sherly terkekeh.


Abimana pun ikut terkekeh mengingat kelakuannya dimasa lalu hingga akhirnya ia menyadari ternyata istrinya itu telah merebut hatinya. Wanita yang selalu menolaknya.

__ADS_1


Arditha menggandeng tangan mama Sherly, ia pura-pura tak mendengar ucapan sang abang. Meskipun kini ia sudah menerima dan mencintai Abimana sebagai suaminya namun kala mengingat bagaimana awal pernikahannya tak urung ia merasa kesal.


Perlahan mobil Abimana dan Kenan meninggalkan halaman rumah bermodel minimalis tersebut. Mobil yang disetir oleh Abimana bersama dengan Arditha berikut sebahagian seserahan sedangkan mobil yang dikendarai oleh Kenan bersama mama Sherly pun sebahagian seserahan lainnya. Untuk acara lamaran ini memang mama Sherly belum memberitahukan orang tua Abimana.


"Ada apa honey, Sejak tadi mas perhatikan kamu lebih banyak diam," Abimana melirik sekilas sang istri lalu kembali fokus ke jalan raya.


"Gak ada apa-apa kok, aku hanya malas bicara." Arditha pun menatap lurus ke depan seolah sedang mengukur panjangnya jalan raya yang mereka lalui.


"Setelah lamaran Kenan, kita ke dokter yuk," Abimana menatap Arditha dengan wajah serius. Kebetulan mereka berhenti karena lampu merah.


"Untuk apa ?!"


"Siapa tau aja adiknya Arbiha sudah ada disini, " Abimana menyentuh dengan lembut perut rata Arditha.


Arditha tak menimpali. Ia memilih diam, Arditha tak ingin berdebat karena perbedaan pendapat. Abimana sangat menginginkan seorang anak yang lahir dari rahim Arditha sedangkan yang bersangkutan masih ingin berkarir.

__ADS_1


Abimana hanya bisa menarik napas panjang dan terus melajukan mobilnya menuju rumah Vanya. Pria itu tak habis pikir dengan isi kepala Arditha yang tak ingin mengandung darah dagingnya.


🌷🌷🌷🌷🌷


__ADS_2