Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 32 》》INI TERLALU CEPAT, MA !


__ADS_3

Satu bulan usia pernikahan antara Abimana dan Arditha, satu bulan pula Abimana tinggal di rumah keluarga Arditha. Sebagai seorang suami, Abimana ingin hidup mandiri bersama istri dan kedua anaknya karena seyogyanya ia menikahi Arditha semata-mata demi kedua anaknya agar bisa merasakan kasih sayang seorang ibu.


Semalaman Abimana memikirkan semuanya dengan matang. Ia tak mungkin terus-terusan hidup bersama keluarga istrinya, apalagi Arsheno dan Arbilha tak ingin berpisah dengan ibu sambungnya itu.


"Ma, aku berniat membawa Arditha ke rumah kami agar bisa hidup mandiri." Abimana berkata pelan agar tak mengagetkan mama mertuanya.


"Silahkan saja nak, mama gak mungkin melarang kalian mandiri apalagi kalian sudah menikah. Mama hanya bisa berdoa agar hidup kalian berbahagia." Mama Sherly pun sebenarnya sangat ingin agar putrinya bisa mengurus keluarga barunya dengan baik.


"Terima kasih ma, tapi tolong bantu Abi ngomong sama Ditha, soalnya aku belum membicarakan hal ini dengannya." Abimana tersenyum canggung karena mengambil keputusan sendiri.


"Mama ngerti kok, soal Arditha nanti mama yang bicara dengannya, kapan kalian akan pindah ?!"


"Siang ini ma, mumpung libur. Bajuku dan baju Ditha gak usah di bawa karena semuanya sudah disiapkan di rumah kami. Nanti kalau nginap disini kan gak perlu lagi repot-repot bawa baju,"


"Nak Abi atur ajalah gimana baiknya," Mama Sherly sangat percaya pada keputusan menantunya itu adalah untuk kebaikan kedua belah pihak. Mama Sherly tak mungkin menghalangi niat baik sang menantu.


Dari arah tangga terlihat Kenan dan Arditha bersama kedua anak kecil itu menuruni anak tangga sambil bercanda. Sebuah pemandangan yang mencubit hatinya, bersama Kenan, mereka terlihat seperti pasangan yang sesungguhnya dengan dua anak yang cantik dan tampan.


"Selamat pagi ayah, selamat pagi nek," Arsheno dan Arbilha kompak menyapa kedua orang dewasa yang sedang duduk berhadap-hadxpan di ruang keluarga.


"Selamat pagi juga sayang," Abimana memeluk dan mencium kedua anaknya secara bergantian. Hal yang sama pun dilakukan oleh mama Sherly. Wanita paruh baya itu benar-benar menyayangi mereka layaknya cucu kandungnya sendiri.

__ADS_1


Seperti biasa jika sedang duduk ramai-ramai, Arditha selalu memilih dekat sang abang daripada Abimana. Ia akan merasa lebih nyaman jika berada di samping sang abang. Melihat hal itu membuat Abimana menatap datar Arditha apalagi kedua anaknya juga lebih memilih pangkuan Kenan daripada pangkuannya.


"Siang ini Ditha dan anak-anak pindah ke rumah nak Abi. Kalian harus hidup mandiri dan membentuk keluarga sendiri." Ucapan mama Sherly sontak membuat mata Arditha melotot sempurna. Mata bening itu lalu mengalihkan pelototannya pada Abimana yang juga sedang menatapnya datar.


"Kok gitu sih ma, aku belum siap hidup berpisah dengan mama dan abang. Lagian rumah ini juga cukup kok untuk kita semua," Arditha tak terima dengan keputusan sang mama yang seolah-olah mengusirnya dari rumah yang selama ini memberinya rasa aman dan nyaman.


"Sayang, seorang gadis yang sudah menikah memang harus mengikuti suaminya kemanapun sang suami akan membawanya," Kelembutan mama Sherly membuat Arditha terdiam. Ia mengerti setiap kata yang diucapkan sang mama namun ia tak sanggup meninggalkan rumahnya apalagi hubungannya dengan Abimana masih jauh dari kata baik.


"Tapi ini terlalu cepat ma ! Aku belum siap apalagi aku masih harus bolak balik kampus. Kalau disini kan ada mama yang menemani Sheno dan Ilha,"


"Jangan khawatirkan hal itu, ada Mina kok yang selama ini memang mengasuh mereka," Abimana tak memberikan celah untuk Arditha menggagalkan keinginannya.


Arditha memilih diam dan terpaksa setuju mengikuti kemauan Abimana. Jika saja tidak ada mama Sherly mungkin Arditha sudah meneriaki pria yang selalu mengambil keputusan sendiri. Abimana terlalu otoriter menurutnya dan Arditha sangat tak menyukai hal itu.


"Kita sarapan yuk, ayo anak-anak, nenek sudah menyiapkan nasi goreng kesukaan kalian, " Mama Sherly menggiring kedua cucunya menuju meja makan. Diikuti oleh Arditha.


Kenan sengaja berdiri belakangan, ia harus berbicara dengan sahabat sekaligus adik iparnya itu walaupun hanya beberapa kata.


"Aku percaya dengan semua keputusan yang kamu ambil, aku hanya ingin adikku bahagia dan tolong jaga perasaannya. Jika dua hal itu tak dapat kamu berikan maka kembalikan Arditha pada kami dengan baik-baik." Kenan menatap Abimana dengan wajah serius disertai tatapan tajam menandakan jika pria itu tak main-main dengan ucapannya.


"Jangan terlalu mengkhawatirkan yang tak perlu." Abimana berusaha meyakinkan sahabatnya walau ia sendiri tak begitu yakin karena Arditha pun terkesan tak memberinya kesempatan untuk mengenalnya lebih dekat.

__ADS_1


Keduanya lalu berjalan menuju meja makan dimana semua anggota keluarga sudah menunggu. Kenan dan Abimana duduk berdampingan sementara Arditha duduk diantara kedua anak sambungnya. Tak ingin mendapat tatapan tajam dari sang mama maka Arditha segera berdiri dan mengisi piring Abimana, setelah itu ia kembali duduk dan menyuapi gadis kecil itu. Sedangkan Arsheno sudah bisa makan sendiri.


Selesai sarapan, semua kembali ke ruang keluarga sementara mama Sherly membersihkan meja makan dan Arditha mencuci piring kotor bekas sarapan mereka.


"Jadilah istri dan ibu yang baik bagi keluarga kecilmu sayang," Mama Sherly berdiri di dekat Arditha yang sedang membalas piring agar bersih dari sabun.


"Jangan terlalu berharap ma, seluruh kehidupan pak Abi masih berada di masa lalunya dan tidak ada yang bisa memaksanya untuk meninggalkan masa lalunya. Tapi tenang aja ma, aku akan bertahan semampu yang aku bisa." Arditha tersenyum agar tak membuat sang mama khawatir.


Arditha memang tak bisa memberikan janji manis akan kebahagiaan pernikahannya pada sang mama karena dirinya sendiri tidak yakin sampai kapan akan bertahan dengan keadaan seperti saat ini. Hatinya masih dihuni oleh pria lain pun demikian halnya dengan Abimana yang tak ingin meninggalkan masa lalunya.


Setelah selesai cuci piring, Arditha bergegas ke lantai dua untuk bersiap-siap. Sangat lucu jika dia ke rumah orang tanpa membawa baju dan peralatan khas perempuan.


"Kalian disini dulu ya, kakak siap-siap sebelum ke rumah kalian," Rupanya Arditha mash menyebut dirinya kakak pada kedua bocah itu.


"Gak usah bawa baju, semua sudah aku siapkan." Ucapan Abimana mengurungkan langkah kaki Arditha.


"Setidaknya aku akan membawa beberapa lembar baju dan skin care milikku." Arditha khawatir baju disana tidak cocok dengan ukurannya atau paling parahnya model bajunya tidak cocok dengannya. Secara jaman saat pria itu masih muda berbeda dengan jaman Arditha.


Abimana tak lagi mendebat Arditha. Ia sadar saat ini mata Kenan sedang menatapnya tajam pertanda jika kakak iparnya itu sedang dalam mode membela adik kesayangannya. Entah mengapa Abimana merasa Kenan sangat berbeda setelah ia menikahi Arditha.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


Situasi yang sangat rumit. Entah kapan problem mereka akan berakhir.


Selamat membaca, jangan lupa dukungannya,


__ADS_2