Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 76 ~ BENERAN DITH ?


__ADS_3

Akhirnya perjalanan ke rumah Vanya berakhir ketika mobil yang dikendarai oleh Kenan memasuki gerbang yang terbuka lebar diikuti mobil yang berisi Arditha dan Abimana.


Belum juga mobil berhenti sempurna, Arditha sudah melompat turun dan setengah berlari memasuki rumah sahabatnya dan meninggalkan Abimana yang hanya bisa menarik napas sepenuh dada menahan kekesalannya. Hal yang paling dibenci Abimana adalah diabaikan oleh orang lain apalagi istri sendiri.


"Assalamualaikum," Teriakan Arditha menggelegar mengisi ruang tamu rumah Vanya.


Papa dan mama Vanya keluar dan menyambut kedatangan tamunya. Sementara Vanya yang berada di dalam kamar mendelik kesal mendengar suara sahabatnya.


"Om, tante, Ditha langsung ke kamar ya," Arditha meminta izin sambil mencium punggung tangan keduanya.


"Silahkan aja nak, sekalian panggilin Vanya keluar ya," Tante Rima tersenyum lembut. Papa dan mama Vanya sudah mengenal Arditha dengan baik.


"Beres tante," Arditha berjalan dengan cepat menuju kamar sahabatnya.


"Assalamualaikum kakak ipar," Arditha menyembulkan kepalanya di pintu yang sedikit terbuka dengan senyum cerianya.


"Ck, kamu datang-datang langsung heboh." Vanya mencibir melihat kedatangan Arditha. Bukan tanpa sebab ia berlaku seperti itu. Vanya masih kesal karena beberapa kali Arditha tidak masuk kantor dan jadilah ia kewalahan sendiri. Karyawan mereka masih terbatas.


"Kali ini kedatanganku sangat istimewa dan hidupmu akan berubah drastis, percayalah, " Arditha tersenyum misterius menatap sahabat baiknya yang sebentar lagi akan menjadi bagian dari keluarganya.


Vanya semakin mendelik mendengar ucapan Arditha yang terkadang berbicara ngasal dan seenaknya saja.


"Ck, ngomongmu itu lho, kayak mau ngelamar aku aja," Vanya mendumel ikut-ikutan asal. Seperti inilah seorang Vanya manakala bertemu dengan Arditha maka ia akan ikut terbawa arus Arditha.


"Nah, itu tahu. Sekarang ganti baju dan dandan yang cantik abangku tersayang telah menunggu bidadarinya keluar," Arditha mendorong lembut tubuh sahabatnya mau lemari agar segera mengganti bajunya selayaknya gadis yang akan dipinang.

__ADS_1


Vanya mematung menatap sahabatnya tak percaya. Rupanya Kenan benar-benar datang melamarnya. Vanya mengira saat itu Kenan hanya mengada-ada, pasalnya pria itu tak pernah mengungkapkan perasaannya pada Vanya.


"Beneran Dith ?!" Mata Vanya membuat sempurna mencari kebenaran dari ucapan sahabatnya.


"Yaelah beneran, bahkan bang Kenan sudah menyiapkan seserahan. Jadi ketika kamu bersedia menjadi pendampingnya maka kalian akan segera menikah. Bang Kenan gak suka tunangan." Jelas Arditha panjang lebar.


Dengan wajah memerah, Vanya segera mencari baju yang sesuai dengan lamaran tiba-tiba pria idamannya.


Arditha pun mendandani sahabat sekaligus calon kakak iparnya dengan antusias. Keinginannya selama ini melihat sang abang berdiri di pelaminan dengan sahabatnya sebentar lagi akan terwujud.


"Nah, selesai. Bang Ke pasti tak bisa mengalihkan pandangannya darimu," Arditha tersenyum bahagia melihat hasil riasannya yang terlihat sangat sempurna.


"Yuk keluar, " Vanya tak sabar menarik tangan Arditha. Rupanya Vanya terlalu bahagia mendengar sang pujaan hati datang untuk melamarnya.


"Eits, tunggu dulu. Elegan sedikit dong, jangan terlihat murahan gini," Arditha menatap datar sahabatnya. Entah apa yang ada dalam otaknya saat ini.


Baru saja mama Vanya akan memanggil putrinya keluar namun sebelum berdiri Vanya dan Arditha sudah terlebih dahulu keluar kamar.


"Maaf agak lama karena menyiapkan dulu calon mempelainya." Arditha tersenyum tanpa dosa menatap semua anggota keluarganya.


Vanya lalu duduk diantara papa dan mamanya sedangkan Arditha duduk diantara suami dan abangnya. Melihat Abimana yang tanpa ekspresi diam-diam membuat Arditha meringis. Mengapa bisa ia melupakan keberadaan suaminya ? Agar sang suami tak terus-terusan menampakkan wajah juteknya, akhirnya Arditha memilih berkelanjutan manja pada pria yang berstatus sebagai suaminya.


"Dasar manusia labil, pamer kemesraan," Gumam Kenan tak jelas namun Arditha mendengarnya karena posisi mereka yang sangat dekat.


"Jangan sirik bang, makanya gerak cepat. Gak usah pake tunangan segala kalau perlu besok langsung nikah," Bisik Arditha mengompori sang abang.

__ADS_1


Ada-ada saja Arditha. Sebelum keluar kamar dia meminta Vanya agar tak terlihat murahan namun disisi lain ia meminta sang abang agar mempercepat pernikahannya.


"Honey, dengarkan pembicaraan para orang tua ," Abimana menegur Arditha dengan lembut sebelum terjadi perang mulut diantara mereka. Ia tak habis pikir jika Arditha dan Kenan bertemu mereka tak pernah kehabisan bahan pembicaraan dan berakhir ribut.


Arditha pun terdiam. Ia tak ingin memancing kekesalan suaminya yang berujung dengan diamnyq pria itu. Arditha tak ingin jika Abimana kesal dan mendiamkannya, Arditha tak akan tahan dan sungguh sangat menyiksa batinnya.


Pembicaraan para orang tua tak begitu lama karena sebelumnya Kenan memang menemui kedua orang tua Vanya dan membahas pernikahan mereka.


"Baiklah, kita sepakat dua hari ke depan antara putri kami Vanya dan Kenan akan dilangsungkan, " Papa Vanya tak ingin berlama-lama agar keduanya tak berubah pikiran.


Pria paruh baya itu sudah banyak menyaksikan kejadian yang bahkan sudah tahunan bertunangan namun berujung gagal menikah dan ia tak ingin hal itu terjadi pada putri tunggalnya. Apalagi Kenan cukup dikenal sebagai pebisnis muda yang tak tersentuh oleh perempuan.


Mendengar keputusan sang kepala keluarga membuat Kenan menarik napas lega. Meskipun dua hari terasa sangat lama bagi Kenan namun ia akan bersabar menunggu saat itu tiba.


Suasana bahagia terlihat dalam ruang tamu di rumah keluarga Vanya. Mereka kini menikmati berbagai kudapan yang disiapkan oleh tuan rumah. Tak butuh waktu lama bagi mama Vanya dan mama Sherly untuk saling mengakrabkan diri. Kedua wanita cantik diusianya yang sudah tak muda lagi terlihat bak teman lama yang baru bertemu.


Sementara ketiga pria itupun tak kalah akrabnya. Mereka terlibat pembicaraan seru seputar dunia bisnis. Tak heran karena ketiganya adalah pemilik sekaligus pemimpin perusahaan.


Lain halnya dengan Arditha dan Vanya. Keduanya justru memikirkan kantor yang baru beberapa lama mereka buka. Belum juga menampakkan hasil yang memuaskan namun keduanya malah sudah akan membagi diri antara kantor dan keluarga.


🌷🌷🌷🌷


Hai readers, selamat pagi.


Maaf berhektar-hektar karena baru bisa up.

__ADS_1


Terima kasih sudah setia menunggu updatenya


__ADS_2