
Sementara itu di waktu yang sama namun tempat berbeda, tepatnya di rumah mama Sherly terjadi drama pemaksaan yang dilakukan oleh Kenan pada sang mama.
"Ken, mama gak butuh refreshing, cukup di rumah saja menemani kamu." Mama Sherly menolak keras ajakan Kenan untuk berlibur di kampung halaman orang tuanya.
"Tapi aku sangat butuh, ma. Akhir-akhir ini pekerjaanku sangat banyak dan aku tidak mungkin meninggalkan mama dirumah sendirian," Kenan setengah memaksa mama Sherly seraya menyiapkan koper. Ia tak ingin membuang-buang waktu.
Dengan setengah hati akhir mama Sherly mengalah dan mengeluarkan beberapa potong baju kemudian memasukkannya ke dalam koper? Setelah selesai Kenan langsung menarik koper mama Sherly keluar kemudian mengunci pintu rumah dan segera melarikan mobilnya menuju bandara. Dalam perjalanan Kenan menelepon asistennya agar ke bandara mengambil mobilnya.
"Halo Lex, tolong kamu ke bandara sekarang, bawa mobilku pulang jangan lupa ambil kunci serepnya di lagi mejaku !". Perintah Kenan lalu mematikan panggilannya secara sepihak.
Alex hanya menatap nanar ponselnya yang layarnya perlahan menggelap. Posisi masih dikantor dengan pekerjaan yang lumayan. Akhirnya Alex meminta salah satu karyawan yang memakai mobil agar mengantarnya ke bandara.
Akhirnya mobil yang dikendarai Kenan memasuki area bandara. Sebelum turun ia menulis pesan pada Alex kemudian menempelkannya di setir mobil agar memudahkan Alex untuk melihatnya.
"Ken, mama kok merasa curiga dengan liburan kita kali ini," Mama Sherly menatap Kenan yang menarik koper sang mama berikut tas yang berisi bajunya beberapa lembar. Ia tak mungkin berlama-lama di Batam, tanah kelahiran mama Sherly. Arditha sedang dalam masalah dan ia harus ada untuk mendukung adik kesayangannya.
"Bisa gak sih mama jangan curiga terus ? Gak baik lho buat kesehatan mama," Kenan tak menatap sang mama saat berbicara, ia takut kecurigaan mama Sherly semakin menjadi-jadi dan memaksanya bicara jujur. Kenan tak bisa menghindar jika wanita yang sangat berjasa pada keberadaannya di dunia ini terus mendesaknya.
Mama Sherly mengikuti Kenan yang berjalan menuju ruang tunggu bandara. Setelah itu Kenan menuju loket mengurus keberangkatannya karena tidak sempat memikirkan membeli tiket online. Yang ada dalam pikirannya hanya menjauhkan sang mama dari jangkauan keluarga Abimana. Kenan tak ingin mamanya terlalu banyak berpikir, biarlah ia dan Arditha yang menyelesaikannya meskipun pada akhirnya nanti mama Sherly akan mengetahuinya juga namun setidaknya disaat-saat keadaan memanas sang mama tak terlibat.
Kenan kembali duduk di samping mama Sherly, kali ini ia memilih memejamkan mata agar ia terhindar dari pertanyaan sang mama. Wanita paruh baya itu tak akan pernah berhenti sebelum rasa penasarannya terselesaikan. Hingga terdengar suara memanggil para penumpang tujuan Batam agar segera menaiki pesawat.
"Ayo ma," Kenan merangkul pundak mama Sherly sepanjang perjalanan menuju pesawat. Betapa ia sangat menyayangi wanita paruh baya itu.
Kenan berusaha tak membuka pembicaraan dengan mama Sherly selama di pesawat. Ia menampakkan wajah lelahnya sehingga sang mama iba dan membiarkannya beristirahat dengan tenang padahal saat ini pikirannya melayang pada keadaan adik kesayangannya.
__ADS_1
Pesawat yang membawa Kenan dan mama Sherly kini sedang berada diantara awan, sedangkan di rumah sakit keadaan masih sama, Arbilha masih belum siuman.
"Bi, sebaiknya kamu hubungi istrimu, suruh ke rumah sakit. Manatau Ilha akan cepat siuman jika mamanya ada disini," Mama Kalisha berkata dengan lembut. Ia tahu jika putranya itu sedang sedih melihat kondisi putrinya.
"Biarkan aja ma, kalau memang dia menyayangi anak-anakku maka tanpa dipanggilpun dia pasti akan berada disisi Arbilha."
"Apa kamu lupa ? Tadi kamu mengusirnya dengan sangat kejam. Padahal kalau nalarmu bekerja dengan baik, Arditha tak bersalah sama sekali. Hari ini dia wisuda dan tentu saja harus ke kampus pagi-pagi, justru yang menjadi pertanyaan adalah kenapa kamu sebagai suaminya tidak tahu jika hari ini merupakan hari spesial istrimu ?!" Kali ini papa Kuncoro yang bersuara. Abimana terlalu egois dan arogan.
Abimana terdiam, benar apa yang dikatakan oleh papanya. Sejak beberapa hari belakangan ini ia memang mudah terpancing emosinya apalagi melihat Arditha sama sekali tak perduli padanya. Bahkan berinteraksi dengannya saja sangat jarang.
"Aku pulang dulu ma, pa, titip Ilha kabari aku jika sudah sadar," Abimana memutuskan untuk pulang ke rumah. Ia harus membawa Arditha ke rumah sakit. Kali ini ia akan menurunkan egonya demi buah cintanya bersama Sheila.
Tanpa menunggu jawaban kedua orang tuanya, Abimana bergegas ke parkiran. Dengan setengah berlari Abimana menelusuri koridor rumah sakit agar bisa secepatnya mencapai parkiran.
Dihantui oleh ucapan sang papa, Abimana melarikan mobilnya menuju rumahnya. Ada sebuah rasa yang tak bisa ia lukiskan ketika papa Kuncoro bertanya padanya.
Satu jam kemudian Abimana tiba di depan rumah dan memasuki halaman rumah yang terlihat sangat sepi. Arsheno dan mbak Mina kini berada di rumah mama Kalisha. Abimana mengedarkan pandangannya mencari mobil Arditha namun yang dicari tak ia temukan. Pria itu berlari memasuki rumahnya dan langsung menaiki tangga menuju kamar Arditha.
Braaakkkk
Pintu kamar Arditha terbuka kasar dan lagi-lagi Abimana membuka lemari pakaian gadis yang telah ia nikahi namun belum tersentuh sama sekali. Baju-baju dalam lemari masih tersusun rapi. Abimana menarik napas lega namun detik berikutnya ia terduduk lemas, matanya tak sengaja melihat ke arah meja rias dan meja yang biasanya dipenuhi berbagai skin care kini kosong melompong.
Bagai orang kesetanan, Abimana kembali berlari menuruni anak tangga mencari Lia, ART dari rumah mama Kalisha.
"Liaaaaa !!!" Suara Abimana menggelegar memenuhi ruang keluarga.
__ADS_1
"I ,,, iya pak," Mbak Lia berlari menemui majikannya.
"Kamu tahu kemana istriku ?!" Tanpa sadar Abimana menyebut Arditha sebagai istri untuk pertama kalinya
"Enggak pak, tadi ibu hanya datang sebentar bersama pak Kenan lalu turun dengan membawa koper dan memberikan sebuah map katanya untuk pak Abi," Lia berusaha berbicara lancar sambil menundukkan kepalanya.
"Kenan ?! Sebuah map ?!" Abimana bergumam namun terdengar jelas oleh telinga Lia.
"Benar pak, sebentar saya ambilkan," Mbak Lia undur diri dan dengan langkah cepat ia mengambil map tersebut diatas kulkas. Sementara Abimana duduk di sofa ruang keluarga.
"Ini pak," Mbak Lia meletakkan diatas meja map tersebut dan meninggalkan majikannya sendirian. Melihat wajah tak bersahabat pria dewasa itu membuat Lia tak ingin menjadikan telinganya sebagai korban untuk mendengar kemarahannya.
Perlahan Abimana membuka map tersebut dan sontak matanya terbelalak hanya dengan membaca bagian atas kertas putih tersebut. Seketika hatinya terasa kosong dan hampa. Abimana hanya bisa bersandar sambil memegang d**anya. Bayangan pertengkaran demi pertengkarannya bersama Arditha memenuhi ingatannya.
Tanpa terasa setetes cairan bening keluar dari mata elangnya bersamaan dengan rasa penyesalan yang memenuhi rongga d**anya. Hingga akhirnya deringan ponselnya mengembalikan kesadarannya dari lamunan panjangnya.
"Iya ma," Abimana menjawab panggilan seluler sang mama dengan suara tak bersemangat.
"Ilha sudah sadar, cepat kemari bersama Arditha," Ucapan sang mama justru semakin membuat Abimana tak tahu harus berbuat apa.
Tanpa mengiyakan perintah mama Kalisha, Abimana memutuskan panggilan seluler dan berusaha berdiri dari tempat duduknya. Saat ini putri kecilnya membutuhkan dirinya. Dengan langkah gontai ia keluar rumah dan berjalan ke arah mobilnya yang terparkir permisi di depan pintu utama.
🌷🌷🌷🌷🌷
Selamat pagiiiii ,,, maaf kemarin gak up
__ADS_1
Selamat beraktivitas semoga karyaku bisa jadi teman aktivitas kalian.