
Meskipun sekuat tenaga, segala daya dilakukan oleh Kenan agar Arditha tak membuka kantor akuntan namun semua sia-sia. Vanya ternyata telah memiliki tempat untuk kantor baru mereka. Dengan berat hati Kenan terpaksa mengikhlaskan sang adik.
"Perusahaan abang harus menjadi klien pertama kami dan wajib datang sebagai kami dan satu lagi, abang harus memberikan kata-kata sambutan , ingat sisipkan kata puas yang merupakan promosi kantor kami." Arditha menolong Kenan walaupun sebenarnya tanpa paksaan sudah pasti Kenan akan mendukung sang adik.
"Gak masalah tapi di dunia bisnis tak ada yang gratisan, dek. Semua pakai royalti, ingat satu hal UANG TIDAK MEMILIKI SAUDARA." Kenan menaiki turunkan alisnya sengaja menggoda Arditha.
"Perhitungan sekali anda, pantas saja sampai saat ini masih jomblo," Arditha mencibir dan menatap sinis sang abang.
Bukannya marah atau kesal, Kenan justru tertawa lucu melihat ekspresi Arditha. Wajah cantik gadis itu tak cocok dengan ekspresi sinis seperti itu.
"Jangan salah, abangmu ini jomblo karena pilihan sendiri, bukan karena tak laku. " Kenan ngotot tak terima dengan tuduhan Arditha.
"Gak usah dibahas, mau pilihan sendiri atau tak laku tapi intinya anda jomblo,"
Kenan tak lagi menimpali ucapan sang adik. Dalam hal perdebatan, Arditha jagonya dan Kenan tidak pernah menang.
"Semua perusahaan kamu undang, kan ?!" Kenan mengalihkan pembicaraan dengan hati-hati. Sebenarnya ia ingin menanyakan undangan untuk perusahaan PT. Bhi_Lha milik Abimana.
"Tentu saja bang, hanya saja undangan untuk PT. Bhi_Lha belum diantar. Untuk saat ini aku dan Vanya sama-sama sibuk. Biarlah H-1 acara undanganya diantarkan oleh kurir, lagian perusahaan mereka bukan calon klien prioritas kami, " Arditha terdengar tak bersemangat menyebut nama perusahaan Abimana menandakan jika gadis itu masih menyimpan kebencian.
__ADS_1
Padahal Arditha bukanlah tipe gadis pendendam. Apakah waktu sudah mengubah gadis periang dan easy going yang dulu Kenan kenal ? Ataukah rasa sakit hatinya sehingga membuat adiknya itu berubah ?
"Kenapa abang diam ? Abang gak terima karena pria itu sahabat abang ?" Suara Arditha sedikit meninggi sambil menatap tajam kearah Kenan seolah ingin menelannyq hidup-hidup.
"Bukan gitu dek, abang hanya berpikir kalau adik abang yang cerah, periang dan easy going sudah gak ada lagi," Kenan menatap lembut Arditha yang tampak emosi.
"Abang cerdas sekali. Arditha yang dulu sudah mati bang. Saat Abimana melukai harga diriku maka saat itu pula Arditha yang dulu sudah tak ada lagi." Nada suara Arditha terdengar tegas dan datar membuat Kenan terkesiap.
"Dek, jangan menyimpan dendam terlalu dalam. Gak baik ! Nanti malah berubah jadi cinta tanpa kamu sadari." Kenan berusaha memperingatkan Arditha, apalagi beberapa waktu lalu Abimana mengatakan jika mereka belum bercerai secara hukum negara. Secara agama pun dikarenakan keduanya berpisah dalam waktu yang cukup lama.
"Insya allah gak akan bang, kalaupun aku nanti pada akhirnya jatuh cinta maka itu bukan sahabat abang melainkan orang lain." Arditha sangat yakin dengan keputusannya namun Kenan masih belum puas.
"Gak ada masalah bang, mereka bebas memanggilku mama seperti dulu, mereka pun boleh menginap di rumah tapi untuk tinggal bersama sebagai sebuah keluarga yang sesungguhnya itu adalah hal yang mustahil bang." Lagi-lagi Arditha menegaskan hubungannya dengan Abimana kedepan. Tak ada celah yang ia berikan pada Kenan.
Arditha sangat mengetahui bagaimana persahabatan abangnya dengan Abimana. Walaupun Kenan sudah berjanji padanya namun abangnya itu tipe pria yang gampang tersentuh dan hal itulah yang ingin Arditha tunjukkan pada sang abang bahwa hatinya sudah tertutup untuk Abimana.
Kenan tak ingin merusak mood Arditha. Ia hanya ingin tahu perasaan Arditha saat ini. Kenan memang sudah memutuskan untuk tak mencampuri urusan pribadi sang adik bersama Abimana. Biarlah takdir yang menentukan hubungan mereka selanjutnya.
"Oh ya bang, jangan lupa kirim karangan bunganya !" Arditha kembali mengingatkan Kenan kewajibannya sebagai seorang kakak sekaligus klien pertama kantornya.
__ADS_1
"Pasti,,, tapi apa nama kantor kalian ?!" Kenan sungguh lupa nama kantor Arditha dan Vanya yang akan segera launching.
"Akuntan Publik DiVa, dasar abang durhaka." Arditha kembali memancarkan tatapan sinisnya pada pria yang berstatus sebagai abangnya.
"Kayak gabungan penyanyi papan atas aja." Kenan meledek Arditha yang masih menatapnya sinis.
"Iyalah kali aja rejeki kita sama dengan mereka." Arditha tak mau kalah.
"Ok bang sekarang aku liat persiapan pembukaan kantor dulu siapatau Vanya butuh bantuan, " Arditha lalu keluar dari ruang kerja Kenan.
Jarak antara kantor Kenan dan Arditha tak terlalu jauh, Kenan sengaja mencarikan sang adik lokasi kantor yang dekat dengannya untuk mengantisipasi jika gadis itu lembur dan pulang larut malam. Selain itu ia bisa mengontrol keadaan adiknya itu. Kenan memang sangat menyayangi adiknya apalagi setelah mengalami peristiwa yang tidak menyenangkan dari Abimana. Kenan tak akan membiarkan orang lain melukai adiknya untuk kedua kalinya.
Sebuah pengalaman memang akan menjadi guru terbaik dalam hidup kita. Entah itu adalah pengalaman baik maupun pengalaman yang buruk.
🌷🌷🌷🌷
Selamat siang readers,,, maaf ya undangan telat.
Terima kasih atas dukungan selama ini.
__ADS_1
Love you allah.