Cinta Duda Kutub

Cinta Duda Kutub
CDK # 42 》》PERGI DARI SINI !!!


__ADS_3

Kenan melajukan mobilnya diatas rata-rata sedangkan Arditha hanya diam mematung. Berkali-kali ia menatap ponsel yang tadinya tertinggal di mobil karena terburu-buru. Puluhan panggilan tak terjawab dari Abimana membuatnya merasa bersalah.


"Jangan menyalahkan diri sendiri dek, ponselmu kan ketinggalan bukan karena sengaja." Kenan mencoba menenangkan Arditha yang sejak tadi hanya diam.


Arditha hanya tersenyum kaku sambilnterus menatap lurus jalan raya, ia tak sabar ingin segera tiba di rumah sakit. Membayangkan gadis kecil itu bersimbah darah membuat nyalinya menciut. Jika saja ia tidak terburu-buru mungkin kecelakaan itu tidak terjadi.


Saat Kenan memelankan mobilnya mencari parkiran, Arditha sudah melompat turun. Ia menjinjing high heelsnya sambil berlari. Hanya tugasnya yang ia lepas dimobil Kenan sedangkan jubah hitamnya masih melekat sempurna di tubuhnya. Arditha tak memperdulikan tatapan orang-orang yang ia lewati. Ia tak sabar ingin melihat kondisi Arbilha.


Di depan ruang UGD tampak Abimana berjalan mondar mandir sedangkan Adam dan mama Kalisha serta papa Kuncoro duduk dikursi dengan kepala tertunduk.


"Ngapain kamu kesini !! Sana urus dirimu sendiri !!" Suara hardikan Abimana mengagetkan mama Kalisha dan papa Kuncoro.


Kenan menahan langkahnya mendengar kata-kata tajam sahabat sekaligus adik iparnya itu. Ia tak ingin Arditha merasa malu jika tahu Kenan mendengar pertengkaran mereka.


"Pak, tolong beritahu aku kondisi Arbilha saat ini," Arditha tak memperdulikan bentakan Abimana. Baginya kondisi gadis kecil itu lebih penting.


"Sayang, duduk sini sama mama," Mama Kalisha berdiri menuntun Arditha agar menenangkan diri terlebih dahulu.


"Pergi kamu dari sini !! Aku dan anak-anakku tak butuh wanita egois sepertimu !! Anakku telah salah memilih ibu sambung !!" Mata Abimana menatap nyalang pada Arditha.


Untuk pertama kalinya Arditha merasa harga dirinya terluka mendengar makian dari Abimana. Diusir dan dibentak dengan kata-kata kasar tak dapat ia terima. Dengan mata berkaca-kaca, Arditha berdiri dengan kasar. Ia menatap tajam Abimana sebelum meninggalkan tempat tersebut.


"Maaf ma, pa, mungkin memang seharusnya aku tidak disini." Arditha lalu kembali memakai high heelsnya yang masih di tangannya.


Dengan langkah pasti ia berjalan menjauhi ruangan UGD. Tak ada lagi yang bisa ia lakukan. Niat baiknya ternyata tidak dianggap oleh pria arogan itu.

__ADS_1


"Ngapain abang disitu ?" Arditha mendelik tajam melihat Kenan yang bersembunyi dibalik pilar rumah sakit.


Kenan menatap Abimana sejenak sebelum mengikuti Arditha yang semakin menjauh. Kenan dapat merasakan sakit hati sang adik. Keduanya berjalan berdampingan menuju mobil Kenan. Sementara Vanya baru saja tiba.


"Nya, mobilku kamu bawa aja ke rumahmu, nanti aku ambil disana." Arditha lalu masuk ke dalam mobil Kenan.


Vanya hanya menarik napas panjang mendengar permintaan sahabatnya. Meskipun penasaran namun Vanya merasa belum waktunya untuk bertanya. Saatnya nanti Arditha pasti akan bercerita.


"Kita ke rumah Abimana dulu ya, bang," Tujuan Arditha memang saat ini hanya ke rumah pria itu. Kenan lalu menatap gas tanpa bertanya.


Satu jam kemudian mereka akhirnya tiba di rumah Abimana. Arditha hanya meminta sang abang agar menunggunya sejenak kemudian bergegas menaiki anak tangga satu per satu.


Arditha meraih koper diatas lemari kemudian memasukkan baju yang ia bawa dari rumahnya berikut berbagai jenis skin care miliknya. Setelah itu ia membuka lagi meja riasnya dan menandatangani sebuah kertas yang sudah ia siapkan jauh-jauh hari. Sekali lagi Arditha memindahkan barang-barangnya agar tak ada yang tertinggal. Setelah yakin semua sudah masuk ke dalam koper, ia lalu keluar kamar.


"Lho, ibu mau kemana ?!"


"Ada urusan penting mbak," Arditha tak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada ART tersebut.


Arditha menarik kopernya menuju pintu utama sementara Kenan memilih duduk dikursi ruang tamu dengan santai. Melihat adiknya datang bersama kopernya membuat pria itu kaget namun iapun tak ingin menegur sang adik. Biarkan saja dulu, gadis itu memang sering bertingkah aneh jika sedang marah.


"Jangan bilang-bilang sama mama tentang kejadian barusan bang, aku gak ingin mama kepikiran." Arditha memulai pembicaraan saat mereka sudah berada di jalan raya.


"Susah dek, soalnya kan mama sama tante Rani setiap hari teleponan," Kenan berkata apa adanya, memang seperti itulah adanya antara mama Sherly dan tante Rani.


"Kalau gitu abang harus memblokir nomor tante Rani lalu ajak mama ke tempat nenek, agar mama bisa liburan juga," Otak Arditha memang selalu dipenuhi ide-ide cemerlang yang tak terpikirkan oleh Kenan.

__ADS_1


"Apa rencanamu selanjutnya ? Kamu gak berpikir untuk berpisah dengan Abimana, kan ?" Kenan bertanya sangat hati-hati. Meskipun ia tahu jawabannya namun Kenan tetap saja membutuhkan jawaban langsung dari mulut Arditha.


"Aku sudah menandatangani surat perceraianku, bang. Dan tadi aku kasihan ke mbak Lia. Gak ada gunanya juga kan jika aku bertahan sementara ia tak berharap aku bersamanya. Abang dengar sendiri tadi kan ? Untuk sementara aku akan tinggal di rumah Vanya, setelah mengambil ijazah maka aku akan melanjutkan pendidikan di kota lain, bang. Tugas abang sekarang hanya menjauhkan mama dari kota ini sementara waktu. Abang mau kan membantuku ?" Arditha dengan lancar menceritakan rencananya pada Kenan seolah rencana tersebut sudah ia susun sedemikian rupa jauh-jauh hari sebelumnya.


"Tentu saja dek, setelah kamu tiba di rumah Vanya, abang akan langsung melakukan sesuai rencanamu. Hari ini abang gak ke kantor biarlah asisten abang yang menghandle semua pekerjaan." Kenan pun marah sebenarnya sangat marah pada Abimana yang membentuk adiknya seenaknya. Ia saja sebagai abang tidak pernah sekalipun memarahi Arditha dengan kata-kata kasar.


Kenan bertekad akan memberikan pelajaran pada pria itu. Ia sudah salah menilai sahabatnya itu. Penyesalan memang selalu datang terlambat dan itulah yang dialami oleh Kenan.


Mobil yang dikendarai oleh Kenan akhirnya tiba di rumah Vanya setelah dipandu oleh Arditha. Sebuah rumah megah berdiri dengan kokoh menandakan pemilik rumah tersebut bukanlah dari kalangan biasa. Arditha lalu turun dan menyuruh sang abang pulang.


"Gak usah menatap rumah Vanya sepeti itu bang, toh nanti abang akan menjadi menantu pemilik rumah itu, " Arditha meledek Kenan yang memang seringkali bertanya tentang Vanya.


"Ck, jangan suka asal kalau ngomong, " Kenan tersenyum kikuk mendengar ucapan sang adik.


"Bang, cepatlah pulang. Urus mama, nanti aku hubungi abang kalau sudah ganti nomor." Arditha meninggalkan mobil Kenan yang sudah bersiap meninggalkan rumah Vanya.


Dengan cekatan satpam yang bertugas segera mendorong pintu pagar agar Arditha bisa masuk. Mobil Kenanpun sudah tak terlihat lagi.


Walaupun bingung melihat sahabatnya datang bersama kopernya namun Vanya tetap diam dan membantu Arditha menyeret kopernya memasuki kamar tidurnya.


"Aku lelah, Nya." Arditha membanting tubuhnya diatas kasur empuk sahabatnya.


"Ya sudah kamu istirahat aja dulu. Aku gak akan bertanya banyak hal hanya saja jika kamu sudah siap maka hilangkan rasa penasaranku," Vanya lalu meninggalkan Arditha agar bisa beristirahat dan memulihkan perasaannya. Vanya yakin sesuatu yang berat telah menimpa sahabatnya sehingga harus datang bersama kopernya.


🌷🌷🌷🌷

__ADS_1


__ADS_2