
Hari terus berlalu dan berganti minggu, kini tepat seminggu sudah Arbilha di rawat di rumah sakit Medika sebuah rumah sakit swasta terlengkap di ibukota saat ini. Dengan demikian seminggu pula kepergian Arditha tanpa meninggalkan jejak. Abimana berencana menemui Kenan untuk kesekian kalinya. Beberapa kali Abimana mengunjungi kantor Kenan namun tak pernah berhasil menemuinya, sementara rumah mereka selalu kosong.
Abimana melirik jam tangan yang selalu setia menemaninya, pemberian terakhir mendiang istri tercintanya. Meskipun koleksi jam tangan yang dimilikinya banyak namun hanya jam tangan hadiah ulang tahunnya dari almarhumah yang setiap saat ia pakai. Mobil yang dikendarai oleh Abimana terus melaju menuju perusahaan kakak ipar sekaligus sahabatnya.
"Ken ! Kenan !!" Teriakan Abimana terpaksa menghentikan langkah Kenan yang akan memasuki lobby perusahaannya. Tatapan Kenan berubah dingin saat melihat Abimana menghampirinya. Sekuat tenaga ia menahan diri untuk tidak melayangkan pukulan pada pria itu.
"Ada apa ?!" Kenan berusaha agar suaranya terdengar biasa saja. Walaupun ia sangat marah namun kemarahannya tidak harus dipertontonkan di depan umum yang notabene adalah karyawannya sendiri.
"Aku ingin bicara empat mata," Abimana menatap dengan wajah memelas, hal yang tak pernah ia lakukan seumur hidupnya pada siapapun.
Tanpa membalas perkataan pria yang tak pernah memberikan kebahagiaan pada adiknya itu, Kenan melanjutkan langkahnya. Abimana pun mensejajarkan langkahnya dengan Kenan. Kedua pria tampan itu lalu berjalan beriringan menuju lift yang akan membawanya ke lantai tiga dimana ruangan Kenan berada. Tak ada yang bersuara hingga lift tersebut berhenti.
Tinggg
Kenan dan Abimana keluar setelah pintu lift tersebut terbuka. Dengan langkah panjang Kenan memasuki ruang kerjanya diikuti oleh Abimana.
"Lex, tolong cancel jadwalku hari ini, aku ada tamu dan tolong jangan ganggu kami," Kenan berhenti sejenak di depan meja Alex sebelum masuk dan menutup pintu ruang kerjanya.
"Ken, tolong beritahu aku dimana Arditha," Abimana langsung pada inti pertanyaannya. Sudah menjadi kebiasaan pria itu yang tak menyukai berbasa basi terlebih dahulu.
__ADS_1
"Jangan bertanya padaku karena aku sendiri kehilangan kontak dengannya, seandainya pun aku tahu maka aku akan mengatakan tidak tahu, keberadaannya," Kenan masih menatap datar mantan adik iparnya itu. Bayangan Abimana mengusir adiknya masih segar dalam ingatan Kenan.
Dua hari yang lalu Kenan mengunjungi rumah Vanya berharap bisa bertemu dengan Arditha dam membicarakan kelanjutan hubungannya dengan Abimana namun ia harus menelan kekecewaan karena ternyata adiknya itu telah meninggalkan rumah Vanya. Dengan sahabat adiknya itupun tak tahu kota tujuan Arditha.
"Lalu aku harus mencarinya kemana ? Aku harus menemuinya dan meminta maaf atas kesalahan yang telah aku lakukan," Abimana bersikeras menduga jika Kenan mengetahui keberadaan Arditha.
"Aku tahu adikku sudah memaafkan sebelum kamu meminta maaf, olehnya itu selesaikan dan akhiri pernikahan kalian agar tak ada yang saling menyakiti. Biarkan adikku menjemput kebahagiaannya. Meskipun Arditha tak pernah mengeluhkan sikapmu padanya namun aku tahu jika selama menikah denganmu, adikku itu tak pernah bahagia. Terbukti dengan gampangnya ia menandatangani surat cerainya." Kenan masih setia dengan tatapan dinginnya. Pikiran warasnya masih bekerja, walau bagaimanapun ia pula yang merestui sahabatnya untuk menikah dengan adiknya. Dan ternyata diluar kendali, ia salah dalam menilai sahabatnya sendiri. Cinta memang buta dan tak dapat dipaksakan.
Braakkkk
"Jangan pernah mengulang perkataanmu itu ! Aku gak akan pernah berpisah dari Arditha !!" Abimana menggerakkan meja yang membatasinya dengan Kenan. Ia tak terima dengan perkataan Kenan yang dengan sangat gampangnya mengucapkan kata berpisah.
Mendengar kata-kata Kenan bukannya membuat Abimana murka, justru pria itu terduduk lemas. Tak ada kilatan emosi dalam sorot matanya. Dalam hati Kenan tersenyum, rupanya sahabatnya itu telah berubah. Rasa cintanya pada mendiang Sheila tak sebesar dulu. Sadar atau tidak, Abimana sudah mulai bisa menempatkan Sheila pada posisi yang seharusnya.
"Apapun yang terjadi aku harus menemukan Arditha dan jangan pernah mencoba menghalangiku !" Abimana menatap tajam pada Kenan yang terlihat duduk santai namun wajahnya tetap datar.
"Kabari aku jika kamu menemukannya, tapi ingat secara agama talak satu berlaku jika dalam tiga bulan kamu tidak memberi nafkah lahir batin pada istrimu. Dan coba kamu ingat-ingat selama enam bukan pernikahan apakah kamu sudah memenuhi hal itu ?!" Kenan tersenyum mengejek pria yang kini mematung. Seolah baru tersadar dari mimpi buruknya.
Karena sibuk dengan pekerjaan dan selalu bertengkar saat mereka berbicara, sehingga Abimana melupakan kewajibannya sebagai suami. Jangan memberikan nafkah batin, kartu saja untuk sekedar membeli skin care belum, diberikannya. Bukan karena Abimana pelit tapi memang tak pernah terpikirkan apalagi Arditha juga tak pernah memint uang darinya.
__ADS_1
"Jadi walaupun kalian tinggal bersama tapi sebenarnya kalian bukanlah pasangan suami istri yang sesungguhnya," Kenan melanjutkan kata-katanya yang cukup menampar harga diri Abimana.
"Ken, tolong beritahu aku dimana Arditha saat ini ?!" Abimana masih mengira jika Kenan sengaja menyembunyikan adiknya.
"Jangan menghabiskan waktumu hanya untuk bertanya padaku karena aku benar-benar tak tahu kemana mantan istrimu itu berada,"
"KEN !!! HENTIKAN !!!" Suara menggelegar Abimana membuat Kenan terjingkat, ia tak menyangka jika Abimana akan semarah itu. Mata Abimana kini berkilat penuh amarah namun bukan Kenan namanya jika ia takut.
" Jangan teriak-teriak di kantorku, pulang dan berusahalah sekuat tenaga untuk menemukannya."
"Aku akan tetap berada disini hingga kamu mengatakan yang sebenarnya," Abimana masih ngotot dengan dugaannya.
"Terserah tapi kamu akan membuang-buang waktumu dengan sia-sia karena memang aku tak tahu dimana keberadaannya. Saat ini aku hanya bisa berharap Arditha meneleponku karena kemungkinan besar dia sudah mengganti nomornya, artinya dia tidak ingin berhubungan dengan kamu ataupun aku," Kenan menegaskan sekali lagi bahwa dirinya tak pernah berhubungan dengan adiknya lewat telepon.
"Lalu aku harus bagaimana ? Dimana aku harus mencarinya ?" Abimana terlihat sangat frustasi.
"Pergilah sejauh mungkin dari kantorku sebelum kesabaran habis. Apa yang terjadi adalah karena dirimu yang nekad menikah lagi padahal hati dan cintamu seluruhnya untuk almarhumah Sheila. Kesalahan terbesarmu adalah menikahi gadis belia demi anak-anakmu. Kamu terlalu egois, menghancurkan kebahagiaan seorang gadis hanya agar anak-anakmu bahagia." Mata Kenan kembali berkilat penuh amarah.
Sebagai seorang kakak, iapun menyesal tak menentang keinginan sang mama untuk menikahkan adiknya dengan sahabatnya. Karena persoalan ini maka persahabatan merekapun ikut rusak.
__ADS_1
🌷🌷🌷🌷🌷